Saturday, September 13, 2014

| | 0 komentar | Read More

HUBUNGAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA DENGAN PRESTASI BELAJAR FISIKA PADA POKOK BAHASAN KALOR (3)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1.Rancanagan Penelitian

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kwalitas belajar Fisika, relasi prestasi belajar Matematika dengan prestasi belajar Fisika pada pokok bahasan tentang kalor siswa kelas II MTs Negeri Srono tahun 2005/2006. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah korelasional

X

clip_image001

Y

Penelitian ini mengungkap gambaran tentang kejadian yang ada pada saat sekarang, maka dapat dikatakan merupoakan penelitian noneksperimental, bekenaan dengan berhubungan antar berbagai variable, menguji hipotesis dan menghubungkan generalisasi, prinsif-prinsif atau teori-teori yang memiliki validitas univesal. Penelitian diskriptif berkenaan dengan hubungan-hubungan fungsional, penelitian semacam ini disebut penelitian relasional

3.2.Variabel Penelitian

Variabel yang tercakup dalam penelitian ini meliputi dua macam yaitu prestasi belajar Matematika dan prestasi belajar Fisika pada pokok bahasan tentang kalor Variabel ini dapat digolongkan menjadi dua macam :

v Variabel bebas : Prestasi belajar Matematika (diambil dari nilai rata-rata ulangan harian)

v Variabel terikat : Prestasi belajar Fisika pada pokok bahasan tentang kalor (diambil dari nilai harian pada pokok bahasan tentang kalor)

Hubungan antar variabel yang dicari dalam penelitian ini dapat dilihat dalam diagram berikut :

clip_image002Prestasi belajar Matematika

 

Prestasi belajar Fisika

Keterangan diagram

Dari gambar diatas terlihat bahwa dalam penelitian ini akan dicari hubungn prestasi belajar Matematika dengan prestasi belajar Fisika siswa.

3.3.Populasi dan Sampel

3.3.1. Populasi

Menurut Suharsimi Arikunto yang dimaksud dengan Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian (1992:102). Apabila sesorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian maka penelitianya merupakan penelitian populasi. Dalam hal ini populasinya adalah seluruh siswa kelas II MTs Negeri Srono tahun pelajaran 2005/2006 yang berjumlah 183 siswa.

3.3.2. Sampel

Suharsini Arikuntro memngatakan bila kita hanya akan meneliti sebagian dari populasi maka penelitianya disebut penelitian sample. Sample adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti (1992:104).

Dalam menentukan jumlah sample, sebenarnya ridak ada aturan yang tegas berapa besar kecilnya sample yang yang akan diambil dalam penelitian. Asumsi ini dipertegas oleh pendapat Sutrisno Hadi yang mengatakan, “Sebenarnya tidak ada suatu ketetapan yang mutlak berapa persen sample harus diambil dari populasi. Ketiadaan ketetapan yang mutlak ini tidak perlu menimbulkan keragu-raguan pada seorang peneliti” (1984:72).

Berdasarkan pendapat diatas, peneliti menetapkan yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah 61 siswa kelas II MTs Negeri Srono tahun pelajaran 2005/2006.

Oleh Karena hasil hasil sampel itu harus bisa menggeneralisasikan pada populasinya maka sampel yang diambil harus repsentatif, yakni mewakili populasi dalam semua ciri-ciri atau karakteristik yang ada pada populasi, tercermin pada sampel.

Mengingat kepentingan diatas maka pengambilan sampel harus mengkuti teknik-teknik yang telah ditentukan. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode Proporsional random sampling dengan cara undian. Merode ini merupakan gabungan antara metode proporsional dan metode random sampling. Hal ini sesuai dengan pendapat Suharsini Arikunto yang mengatakan bahwa, “Pada umumnya teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel penelitian memang tidak tunggal tetapi merupakan gabungan dari 2 atau 3 teknik sampling”(1992:112). Selanjutnya Sutrisno Hadi mengatakan bahwa yang dimaksudkan proporsional random sampling adalah bahwa besar kecilnya sub sampel mengikuti perbandingan (proporsi) besar kecilnya sub populasi, dan individu-individu yang dutugaskan dalam tiap-tiap sub populasi diambil secara random dari sub populasinya(1984:82).

Proporsi tersebut ditentukan dengan rumus :

clip_image003

3.4.Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data yang mencerminkan variabel penelitian diperlukan adanya metode penangkap data sebagai alat pengumpul data. Dalam penelitian ini menggunakan metode dokumentasi.

Dengan metode dokumentasi ini, peneliti ingin memperoleh data-data yang telah didokumentasikan yaitu data tentang prestasi belajar Matematika dan data prestasi belajar Fisika pada pokok bahasan tentang kalor. Data tersebut diperoleh dari guru bidang studi Matematika kelas II dan guru bidang studi Fisika kelas II MTs Negeri Srono semester I tahun pelajaran 2005/2006.

3.5.Teknik Analisis Data

Penelitian ini mencari hubungan prestasi belajar Matematika dengan prestasi belajar Fisika pada pokok bahasan tentang kalor, maka sebelum data dianalisis perlu diadakan uji persyaratan yaitu uji normalisasi.

Uji normalisasi dimaksud untuk mengetahui apakah data penelitian yang diperoleh dalam penelitian terdistribusi normal. Formulasi statistik yang digunakan adalah :

clip_image004

3.6. Pengujian Hipotesis

Secara umum pengujian hipotesis penelitian menggunakan korelasi product moment. Dalam hal ini korelasi product moment yang digunakan adalah sebagai berikut :

clip_image005

| | 0 komentar | Read More

HUBUNGAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA DENGAN PRESTASI BELAJAR FISIKA PADA POKOK BAHASAN KALOR (2)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Belajar

Belajar pada hakikatnya adalah kegiatan-kegiatan yng dilakukan secara sadar oleh seseorang yang menghasilkan perubahan tingkah laku pada individu yang sedang belajar. Perubahan ini terjadi akibat interaksi antar individu yang sedang belajar dengan lingkunganya. Jika interaksi ini dilakukan dengan sadar, maka individu yang sedang belajar akan mendapat pengalaman , baik itu berupa kesiapan mental dalam menghadapi situasi yang mungkin hampir sama atau dapat berupa terbentuknya kecakapan baru atau mungkin dapat berupa pengetahuan beberapa fakta baru . jadi belajar tidak hanya mengetahui setumpuk fakta yang disajikan, tetapi yang lebih penting dari pengetahuan tersebut haruslah membawa perubahan pada diri seseorang yang belajar. Perubahan akibat belajar adalah proses yang sadar dimana setidak-tidaknya seseorang menjadi sadar, bahwa ia telah walupun tidak semua perubahan diperlakukan adalah akibat dari hasil belajar. Belajar merupakan proses internal yang kompleks. Yang terlibat dalam proses internal tersebut adalah seluruh mental yang meliputi ranah-ranah koqnitif, afektif, dan psikomotorik. Proses belajar yang mengaktualisasikan ranah-ranah tersebut tertuju pada bahan pelajaran tertentu. Dari pengertian tersebut diatas, maka belajar merupakan suatu proses yang menyebabkan perubahan tingkah laku manusia yang berupa : kecakapan, sikap, kepribadian, dan kepandaian yang bukan disebabkan oleh proses yang bersifat fisiologis.

Kemampun yang akan diperoleh siswa dalam mempelajari bidang studi tertentu akan mempengaruhi penguasaan materi selanjutnya atau dengan bidang studi yang berkaitan dengan bidang studi tersebut.

2.2.Prestasi Belajar

Menurut Wayan Nurkancana, I.A. Warsiki, I.G.A. Widawati, prestasi adalah suatu hasil yang dicapai sesorang dalam usaha yang dilakukan, yang berupa pengetahuan, atau nilai-nilai kecakapan 1978:10). Sedangkan belajar belajar menurut Moh. Uzer Usman diartikan sebagai perubahan tingkah laku pada diri siswa berkat adanya interaksi antar individu dengan individu dan individu dengan lingkunganya (1992;2). Herman hudoyo juga berpendapat, “belajar adalah suatu proses yang aktif untuk mendapatkan pengetahuan atau pengalaman baru sehingga menyebabkan perubahan tingkah laku” (1990:1). Soedijarto (1981:61) mengemukakan hasil belajar adalah tingkat penguasaan yang dicapai oleh pelajar dalam mengikuti program belajar sesuai dengan tujuan pendidikan yang sudah ditetapkan. Pengukuran terhadap hasil belajar akan memperlihatkan sudah sampai dimana suatu tujuan sudah tercapai. Dalam penelitian ini dipakai istilah prestasi belajar yang menunjukan hasil belajar siswa didalam mempelajari bidang studi Fisika pada bahan kajian kalor. Jadi prestasi belajar sebagai hasil belajar disini adalah hanyalah menyangkut suatu ranah yang dikembangkan oleh Bloom yaitu ranah Koqnitif.

Mengenai ranah koqnitif yang merupakan indikator hasil belajar, menurut Bloom membagi ranah koqnitif menjadi enam kategori yang tersusun secara hirarkis yaitu : pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi.

2.3.Prestasi Belajar Fisika

Belajar Fisika merupakan suatu kegiatan yang tidak hanya memerlukan kemampuan verbal, tetapi lebih dari itu diperlukan tingkat pemahaman yang bersifat konseptual. Hal ini disebabkan Fisika pada hakekatnya berkenaan dngan fakta-fakta, konsep-konsep dan teori ilmiyah. Kadang-kadang dalam belajar Fisika dituntut kemampuan ilustrasi yang bersifat abstrak. Siswa tidak sekedar mampu menghafalkan rumusan-rumusan serta pengertian dasar, tetapi siswa dituntut untuk menggunakan konsep-konsep dan rumusan-rumusan itu dalam penyelesaian permasalahan yang bersifat aplikatif, atau siswa mampu mengorganisir semua konsep dan hukum-hukum Fisika yang telah diterimanya dalam rangka pemecahan suatu masalah.

2.4.Prestasi Belajar Matematika

Matematika adalah suatu system yang rumit tetapi tersusun sangat baik yang mempunyai banyak cabang (Roy Holand, 1989:96) selanjutnya Johnson dan Rising dalam bukunya yang berjudul “Guidelines for Teaching Matematics” mengatakan bahwa Matematika itu adalah pola berfikir, pola mengorganisasikan pembuktian yang logic, Matematika itu bahasa, Matematika itu alat Bantu bagi bidang studi lain ataupun bidang studi Matematika itu sendiri. (E.T. Ruseffendi, 1990:96).

Dalam perkembangan peradaban modern, Matematika memegang peran penting, karna dengan bantuan Matematika semua ilmu pengetahuan akan lebih sempurna. Matematika merupakan alat Bantu yang efesian dan diperlukan oleh semua ilmu pengetahuan, dan tanpa Matematika tidak akan mendapat kemajuan yang berarti.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini tidak lepas dari kemampuan Matematika sebagai alat Bantu yang sangat penting. Matematika memberikan pengetahuan pada siswa tentang bilangan, hubungan antar variable membuat grafik, membuat bangunan-bangunan geometric, merumuskan persaman-persamaan dan lain sebagainya. Berbagai cabang Matematika seperti kalkulus dan defferensial atau pun integral merupakan alat yang tepat dan sangat penting untuk menyelesaikan masalah-masalah yang timbul dalam ilmu Fisika.

Ditinjau dari materi Fisika yang memerlukan bantuan Matematika mengandung operasi-operasi yang baik, sederhana sampai operator yang kompleks. Untuk dapat melakukan operasi dari operator yang sederhana hingga operator-operator yang kompleks diperlukan kemampuan Matematika yang cukup memadai. Prestasi belajar Fisika yang dimaksud adalah kemampuan untuk memperoleh hasil dari operasi operator sederhana Matematika seperti operator penjumlahan(+), pengurangan(-), perkalian(x), pembagian(: ), akar (√) dan Pangkat(an). Karena responden dalam penelitian ini adalah siswa MTs yang masih mengenal bilangan-bilangan real saja dan belum mengenal bilangan kompleks.

2.5 Kalor

Kalor adalah salah satu bentuk energi yang berpindah dari benda kesuhu lebih tinggi ke benda bersuhu lebih rendah. Beberapa ilmuan yang membantah teori kalor sebagai zat alir diantaranya adalah benyamin Thompson (Count Rumford) (1753-1814),Robert Meyer (1884-1878), dan James Prescott Joule (1818-1889). Para ahli tersebut telah membuktikan bahwa kalor bukanlah suatu zat cair, tetapi merupakan suatu bentuk energi.

2.6 Kerangka Berfikir

Hubungan Prestasi Belajar Matematika Dengan Prestasi Belajar Fisika.

Matematika merupakan ilmu yang mengoperasikan bilangan-bilangan dalam menjelaskan suatu permasalahan. Dan Matematika ini merupakan raja, sekaligus pelayan dalam menjelaskan permasalahan yang ada dalam ilmu pengetahuan.

Cabang ilmu yang banyak mengunakan operasi Matematika adalah ilmu pengetahuan alam. Dalam hal ini termasuk Fisika yang paling banyak mengunakan operasi Matematika dari yang paling sederhana sampai operasi yang paling kompleks. Hal ini tidaklah berlebihan bila ditinjau dari materi Fisika yang banyak memuat materi, prinsif dan hukum-hukum yang banyak dinyatakan dalam rumus-rumus, sehingga untuk memahami materi Fisika ini diperlukan kemampuan memperoleh hasil operasi Matematika. Dengan menggunakan operasi Matematika yang sederhana maupun yang kompleks yang sangat membantu dalam mempelajari materi Fisika. Dengan kata lain yang memiliki kemampuan Matematika yang baik mempunyai harapan yang besar untuk memperoleh prestasi belajar Fisika yang baik.

2.7 Hipotesis

Hipotesa adalah asumsi dugaan mengenai suatu hal yang dibuat untuk menjelaskan hal yang sering dituntut melakukan pengecekanya. Berdasarkan hal tersebut, maka hipotesis penelitian ini adalah :

v Ada hubungan yang positif antara prestasi belajar Matematika dengan prestasi belajar Fisika siswa kelas II MTs Negeri Srono.

| | 0 komentar | Read More

HUBUNGAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA DENGAN PRESTASI BELAJAR FISIKA PADA POKOK BAHASAN KALOR (1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Dari waktu ke waktu dunia pendidikan memang mengalami suatu perubahan, perubahan ini disebabkan adanya masalah baru yang timbul dan merupakan tantangan yang pelu dihadapi. Oleh karena bidang pendidikan merupakan bidang yang sangat penting bagi negara-negara yang sendang berkembang.

Sejalan dengan perkembangan ilmu penghetahuan dan teknologi telah menuntut hampir seluruh bidang keghidupan untuk berkembang pula. Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi maka dunia pendidikan harus selalu ditingkatkan baik mutu lulusanya maupun proses belajar mengajarnya. Berbagai usaha telah dilaksanakan guna meningkatkan prestasi belajar siswa, misalnya diadakan pengajaran remedial di sekolah. Usaha-usaha yang pengkajian faktor–faktor yang ada hubunganya dengan prestasi belajar siswa itu merupakan usaha awal yang seharusnya dilakuakan

Adanya kecenderungan pengajaran Fisika yang menekankan pada konsep, maka siswa dituntut untuk menguasai sejumlah konsep Fisika sesuai dengan jenjangnya, dimana konsep yang lebih rendah merupakan dasar untuk memahami konsep yang lebih tinggi.

Prestasi belajar khususnya Fisika, sebenarnya lebih banyak ditentukan oleh kemampuan diri siswa yang bersangkutan. Perbedaan cara belajar, memahami dan menyel;esaikan soal-soal, ada hubunganya terhadap prestasi belajar siswa.

Fisika merupakan materi yang memerlukan operasi-operasi yang sederhana sampai operasi yang kompleks, untuk dapat melakukan operasi dari operator yang sederhana hingga yang kompleks diperlukan prestasi belajar marematika yang cukup memadai, prestasi belajar matematika yang dimaksudkan kemampuan untuk memperoleh hasil dari operator-operator yang sederhana matematika, seperti operator tambah (+), kurang (-), kali (x), bagi (:), persen (%), akar (√), dan pangkat (an ). Contoh penggunaan operator (+) dalam Fisika misalnya dua vector bekerja pada satu titik tangkap, vector A besarnya 5 satuan dengan arah ke timur dan vector B besarnya 6 dengan arah ke barat.

Dari beberapa pernyataan tersebut diatas dapat disimpuklkan bahwa prestasi belajar Fisika itu sangat diperlukan untuk mrmprlajari fisika guna mencapai prestasi yang baik. Oleh karena itu perlu diteliti bagaimana hubungan prestasi belajar Matematika dapat meningkatkan prestasi belajar Fisika siswa.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang batasan masalah diatas maka dapat dirumuskan sebagai berikut :

“Adakah hubungan prestasi belajar Matematika dengan prestasi belajar Fisika siswa kelas II MTs Negeri Srono”?

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan dalam penelitian ini adalah ingin mengetahui ada atau tidak adanya hubungan antara prestasi belajar matematika dengan prestasi belajar Fisika pada pokok bahasan tentang kalor siswa kelas II MTs Negeri Srono tahun pelajaran 2005/2006.

1.4. Batasan Masalah

Setiap pelaksanaan penelitian selalu bertitik tolak dari suatu permasalahan yang dihadapi. Memilih masalah dalam penelitian adalah suatu langkah awal dari suatu kegiatan penelitian. Penelitian akan berjalan baik jika peneliti memahami permasalahanya.

Pada hakikatnya masalah itu menurut Mohamad Ali merupakan segala bentuk pertanyaan yang perlu dicari jawabanya, untuk segala bentuk hambatan, rintangan atau kesulitan yang muncul pada suatu bidang yang perlu dihindari dan dipecahkan. (1987:31). Sedangkan menurut Wahyu dan Mohammad Masduki, “Masalah adalah sesuatu yang dipertanyakan dan sangat penting untuk dipecahkan” (1987:28).

Secara garis besar permasalahan dalam penelitian ini adalah peneliti ingin mengetahui apakah ada hubungan antara prestasi belajar Matematika dengan prestasi belajar Fisika pada pokok bahasan tentang kalor siswa kelas II MTs Negeri Srono Banyuwangi semester 1 tahun 2005/2006.

1.5. Manfaat Penelitian

Suatu penelitian tentunya mempunyai manfaat yang merupakan hasil guna dari kegiatan penelitian tersebut. Berkaitan dengan hal tersebut peneliti berharap penelitian ini memberi manfaat dari hasil penelitian ini sebagai berikut :

1. Sebagai titik tolak atau dasar pertimbangan bagi guru studi IPA khususnya Fisika didalam pengelolaan Proses Belajar Mengajar (KBM) Fisika untuk menciptakan suasana konduktif untuk membentuk kebiasaan belajar Fisika yang baik bagi siswa, sehingga proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) Fisika berlangsung dengan baik.

2. Memberikan gambaran tentang prestasi belajar Matematika siswa kelas II MTs Negeri Srono.

3. Memberikan masukan kepada siswa tentang cara mempelajari Fisika yang memerlukan bantuan operasi Matematika.

4. Memberikan gambaran tentang prestasi belajar Fisika siswa kelas II MTs Negeri Srono.

1.6. Asumsi Dan Keterbatasan Penelitian

Asumsi dari penelitian ini adalah :

1. Didalam mengerjakan tes prestasi belajar Matematika yang meliputi 3 (tiga) kali ulangan harian dan 3 (tiga) kali mengerjakan tugas harian pada semester I tahun pelajaran 2005/2006, semua siswa mengerjakan sungguh-sungguh dan tidak bekerja sama dengan siswa lain.

2. Nilai yang diperoleh siswa dianggap mencerminkan mutu dan kwalitas prestasi siswa secara obyektif.

3. Faktor-faktor ekstern dalam proses belajar seperti kemampuan guru, karakteristik, keilmuan, kesiapan mental siswa, kebiasaan belajar siswa dan motivasi belajar siswa tidak dilibatkan dalam penelitian.

4. Semua siswa dianggap memiliki kesempatan yang sama dalam proses belajar mengajar dan pemanfaatan sarana dan prasarana sekolah seperti laboratorium dan perpustakaan.

1.7. Penegasan Istilah

Beberapa istilah yang perlu mendapatkan penegasan arti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Prestasi belajar Matematika yang dimaksud adalah rata-rata nilai ulangan harian Matematika selama semester I tahun pelajaran 2005/2006.

2. Prestasi belajar Fisika yang dimaksud adalah nilai yang diperoleh dari siswa dari hasil ulangan harian Fisika pada pokok bahasan tentang kalor yang diberikan.

Friday, September 12, 2014

| | 0 komentar | Read More

EFFECT RUMAH KACA - GREEN HOUSE EFFECT

Efek rumah kaca (Green House Effect) adalah proses alami yang membantu terjadinya pemanasan pada lapisan atmosfer dan permukaan bumi.

  • Penghangatan permukaan bumi ini terjadi karena gas-gas yang terlepas dari aktifitas di biosfer bumi seperti karbon dioksida (CO2), gas metan (CH4), nitrogen dioksida (NO2), chlorofluorocarbon (CF,XC,X) terkumpul di lapisan troposfer/stratosfer membentuk awan
  • Awan dengan dimensi gas gas itu merubah kesetimbangan energi dari planet bumi melalui penyerapan radiasi gelombang panjang (longwave) yang diemisikan dari permukaan bumi.
  • Tentu dari kejadian itu memunculkan suatu effect pada suhu permukaan bumi yang menjadi hangat / panas yang meningkat yang kemudian kita sebut Effect Rumah Kaca .
  • Effect Rumah kaca yang bisa kita artikan secara sederhana bahwa awan yang ada, terdapat gas yang terkumpul membentuk semacam tabir berupa kumpulan gas CO2 (dominan)
  • Gas gas itu yang sifatnya seperti kaca , yang mana sifat kaca adalah dapat ditembus cahaya yang membawa panas , namun setelah berada didalamnya panas yang ada di kaca itu tidak bisa menembusnya ( mobil parkir di lapangan , setelah pintu kita buka suhu didalam akan lebih panas) panas yang tak bisa menembus kaca itu hanya terpantul pantul sehingga dampaknya seperti yang kita rasakan kini

‘Perlu diketahui pula ya , Tanpa adanya Effek Rumah Kaca ini , suhu di permukaan bumi akan dingin berkisar —18 oC, dibandingkan saat ini suhu rata-rata permukaanbumi sebesar 15oC.

  • Energi sinar matahari yang melewati lapisan atmosfer sebanyak (26 %) dipantulkan kembali ke ruang angkasa oleh awan dan sebanyak 19 % diserap oleh partikel-partikel dan gas-gas yang terdapat dalam lapisan atmosfer.
  • Sisanya sebanyak 55 % diteruskan ke permukaan bumi, di permukaan bumi sinar radiasi matahari ini digunakan untuk berbagai proses, untuk pemanasan bumi, pencairan es dan salju, penguapan air permukaan (laut, danau, sungai, waduk, dll.) dan photosintesis.
  • Pemanasan permukaan bumi oleh sinar matahari menyebabkan permukaan bumi seperti sebuah radiator energi gelombang panjang (radiasi infra merah).
  • Emisi radiasi infra merah seharusnya kembali ke ruang angkasa, namun sebagian besar diserap oleh gas rumah kaca (GRK) yang terdapat pada lapisan atmosfer.
  • Penyerapan radiasi infra merah oleh GRK menyebabkan terjadinya penambahan energi panas terhadap sistem lapisan atmosfer bumi.
  • Sebanyak 90 % sinar infra merah yang dipantulkan permukaan bumi dipantulkan kembali oleh GRK yang terdapat dalam lapisan atmosfer ke permukaan bumi, sekali lagi diserap dan dipantulkan kembali oleh permukaan bumi, demikian proses ini terjadi berulang-ulang.
  • Proses yang ada ini dikenal dengan sebutan ERK dan dampaknya menyebabkan terjadinya pemanasan global (global warming).

Sebenarnya Lingkungan yang telah tercipta ini juga tidak begitu kebingungan dengan kejadian diatas karena proses balancing kearah optimal juga akan dilakukannya misalnya dengan tumbuhan yang ada didalamnya menyerap gas CO2 (GRK) untuk dirubah menjadi O2

  • Meskipun juga masih ada yang lolos ke awan membentuk Tabir GRK .
  • Maka dengan peran manusia sebagai kalifah bumi (utusan tuhan ) mengelola bumi , tentu kita harus melakukan banyak penanaman tanaman dengan memberikan space tempat tinggalnya untuk ditanami tanaman agar proses Fotosintesis bisa mengurangi gas buang CO2 ke awan setidaknya dari kamu sendiri yang mengeluarkan CO2 dari mulutmu.

Selama masih diambang batas pembuangan CO2 ke udara lingkungan masih bisa mengelolanya , buktinya dari dulu juga bumi ya seperti ini terus suhunya .
Emang kalau terjadi letupan ternyata emisi CO2 menjadi lebih besar dan semua CO2 itu bener mengcover troposfer kita ya pasti suhu lingkungan menjadi panas , karena nggak ada yang bocor covernya , tetapi mosok begitu kan kita lihat keatas masih ada yang bocor bocor hehehe
Berikut akan kami uraikan detail teori yang setidaknya kita juga tetep waspada mengingat kita punya misi mengemban bumi sebaik baiknya

GLOBAL WARMING

  • Jumlah energi panas yang diserap oleh lapisan atmosfer dikendalikan oleh konsentrasi GRK.
  • Konsentrasi CO2, NO2 dan CH4 dalam lapisan atmosfer telah banyak mengalami peningkatan,
  • pada tahun 1750 konsentrasinya masing-masing adalah 280 ppm, 280 ppb dan 0,70 ppm,
  • Pada saat ini telah mengalami peningkatan masing¬masing mencapai 360 ppm (29 %), 360 ppb (11 %) dan 1,7 ppm (143 %).
  • Berdasarkan sejarah pengukuran suhu bumi yang dilakukan secara independen,
  • Disimpulkan bahwa suhu rerata global permukaan bumi telah meningkat sebesar 0,5 oC selama 100 tahun terakhir.
  • Para ilmuwan meyakini bahwa pemanasan global ini disebabkan oleh adanya peningkatan ERK.
  • Peningkatan ERK disebabkan oleh adanya peningkatan konsentrasi GRK di lapisan atmosfer melampaui yang ditimbulkan secara alami.
  • Walaupun terdapat ketidak-pastian yang besar, para ilmuwan meramalkan bahwa emisi GRK dan aerosol sulfat dengan laju peningkatan yang saat ini terjadi pada akhir abad yang akan datang dapat meningkatkan suhu global rata-rata sebesar 1 —4 oC.
  • Dampak pemanasan global selain menyebabkan terjadinya peningkatan suhu udara juga mengakibatkan mencairnya es dan salju, meningkatkan penguapan air permukaan lebih besar lagi, sehingga meningkatkan terjadinya awan, frekuensi dan intensitas hujan.
  • Hal ini menimbulkan perubahan iklim global, sementara mahluk hidup di bumi sangat bergantung terhadap iklim.
  • Perubahan iklim akan berdampak negatif pada ketersediaan sumber air, sumberdaya pesisir, kesehatan, pertanian kehutanan, energi dan transportasi.
  • Jumlah dan kualitas air minum, ketersediaan air untuk irigasi, industri, pembangkitan listrik, perikanan dan kesehatan secara signifikan dipengaruhi oleh intensitas hujan dan tingkat evaporasi.
  • Peningkatan curah hujan dapat menimbulkan terjadinya banjir dan memberi tekanan pada daerah aliran sungai.
  • Pada tahun 2100 para ahli telah memprakirakan bila lapisan es di kutub terus mengalami pencairan karena peningkatan suhu global, maka permukaan air laut akan meningkat dapat mencapai hingga 50 cm. Hal ini akan menyebabkan lebih dari 5000 mil2 lahan produktif di permukaan bumi akan terendam air.
  • Peningkatan suhu udara dalam jangka panjang akan menyebabkan terjadinya peningkatan kematian yang disebabkan heat stress, selain itu juga akan memacu perkembangan berbagai jenis penyakit di suatu kawasan.
  • Perubahan suhu udara dan pola hujan dapat meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan terganggunya/ punahnya kehidupan berbagai jenis serangga, dan akan meningkatkan kebutuhan akan alat pendingin, serta transportasi air akan dipengaruhi oleh banjir dan tingkat permukaan air.

EMISI GAS RUMAH KACA

  • Pembangkitan listrik dan transportasi merupakan kontribusi utama emisi GRK
  • Saat ini emisi GRK dari sektor pembangkitan listrik diprakirakan mencapai 1/3 emisi global.
  • Emisi GRK sisanya adalah dari kegiatan lainnya yang dilakukan manusia, di antaranya adalah dari berbagai kegiatan industri, pembakaran biomas, penggundulan hutan, pembukaan lahan untuk pembangunan dan berbagai kegiatan lainnya.
  • Badan tenaga atom internasional (International Atomic Energy Agency,IAEA) pada tahun 1994 - 1998 telah melakukan pengkajian nilai faktor emisi GRK dari tiap jenis rantai pembangkitan listrik.
  • Jenis rantai pembangkitan listrik yang menjadi objek studi meliputi bahan bakar (BB) lignite, batu-bara, minyak bumi, gas alam, tenaga nuklir, biomas, tenaga air, tenaga angin dan tenaga surya berdasarkan teknologi tahun 1990 dan teknologi yang diharapkan beroperasi pada era 2005 - 2020.
  • Dalam studi yang dimaksud dengan total emisi GRK untuk BB fosil adalah jumlah emisi dari cerobong selama pembakaran dan pelepasan (release) yang terjadi selama kegiatan hulu hingga hilir (seluruh rantai produksi).
  • Untuk pembangkitan listrik dengan tenaga air, tenaga surya dan tenaga angin ukuran dan jenis teknlogi merupakan faktor kunci dalam analisis.
  • Analisis beban terhadap lingkungan hidup, aliran masa dan energi pada tiap tahapan posedur dihitung dengan menggunakan perangkat lunak Life Cycle Assessment (LCA).
  • Dalam penggunaan metode LCA ataupun Process Chain Analysis (PCA) dilengkapi dengan Input Output Analysis (IOA).
  • Pembangkitanlistrik dengan tenaga nuklir dan BB terbarukan tidak ada emisi GRK pada saat produksi, emisi GRK


Apa yang Bisa Dilakukan?
Strategi untuk mengurangi tingkat emisi atau gas-gas rumah kaca yang utamanya ditujukan karbon dioksida. Ini termasuk:

  1. Mengurangi konsumsi bahan bakar fosil dengan meningkatkan efisiensi bahan bakar bangunan dan kendaraan. Perbaikan yang kedua juga akan mengurangi emisi N2O.
  2. Switching bahan bakar dari batubara ke minyak dan gas yang melepaskan karbon dioksida lebih sedikit pada konsumsi.
  3. Berpindah dari bahan bakar fosil ke sumber energi terbarukan seperti matahari, angin panas bumi,, gelombang, pasang surut dan hidro-listrik.
  4. Mencegah perusakan hutan hujan tropis, sekaligus menghapus masalah dan memberikan solusi.