Monday, August 25, 2014

| | 0 komentar | Read More

UPAYA PENINGKATAN AKTIVITAS SISWA DALAM PEMEBELAJARAN FISIKA DENGAN METODE DISKUSI KELOMPOK

UPAYA PENINGKATAN AKTIVITAS SISWA DALAM PEMEBELAJARAN FISIKA DENGAN METODE DISKUSI KELOMPOK

DI KELAS 1 MTS MIFTAHUL MUBTADI’IN SUMBERBERAS MUNCAR

TAHUN AJARAN 2004-2005

SKRIPSI

clip_image002

Di Susun Oleh

FATHONI ALWI

NIM : 020401070069

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS KANJURUAN MALANG

2006

Skripsi Oleh : FATHONI ALWI

Dsetujui pada tanggal :……………………..

Pembimbing I

Pembimbing II

Skripsi ini telah diterima dan disetujui oleh panitia penguji Skripsi jurusan Pendidikan Fisika ,Universitas Kanjuruhan Malang.

Hari : ………………………………………..

Tanggal :……………………………………………..

Oleh

Dewan Penguji

Penguji I Penguji II

Mengetahui,

Dekan Fakultas Pendidikan Fisika

Drs. SLAMET RIYANTO .M.Pd

HALAMAN PERSEMBAHAN

Skripsi ini penulis persembahkan kepada :

  1. Ayah dan Ibu tercinta yang telah Melahirkan, membesarkan dan merawat penulis dengan penuh kasih sayang
  2. Bapak dan Ibu Dosen / Pembimbing yang telah memberikan banyak ilmu kepada penulis
  3. Para sahabat tercinta dan tersayang yang telah memberikan dorongan untuk bangkit dalam menuntut ilmu.
  4. Calon istriku tercinta.
  5. Dan semua pembaca yang budiman.

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, yang telah melimpahkan hidayahnya kepada kami, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan tepat waktunya.

Dalam menyelesaikan skripsi ini dan kepada pihak-pihak yang telah memberikan bantuan dan dukungan baik moril maupun materi’il untuk itu sudah sepantasnyalah kami ucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada :

  1. Bapak Drs. Sudi Dul Aji,Msi Selaku Dosen Pembimbing satu yang telah
    banyak memberikan bimbingan dalam penyusunan skripsi ini,
    mulai awal sampai akhir.
  2. Bapak Drs. Choerul Huda, Msi. Dosen pembimbing dua yang juga
    telah banyak memberikan bimbingan dalam penyusunan skripsi ini,
    mulai awal sampai akhir.
  3. Bapak Kepala Sekolah MTs MIFTAHUL MUBTADI’IN Muncar yang telah memberikan izin kepada penulis untuk mengadakan penelitian di lembaga yang dipimpinnya.

Mudah-mudahan amal sholeh Bapak mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT. Amin.

Kiranya walaupun upaya maksimal telah kami lakukan dalam penyusunan skripsi ini, tidak akan lepas dari kekurangan dan kesalahan. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat kontruktif dari pembaca kami harapkan demi sempurnanya skripsi ini dan perbaikan dimasa mendatang.

Malang, …. Februari 2005

Penyusun

ABSTRAK

UPAYA PENINGKATAN AKTIVITAS SISWA DALAM PEMEBELAJARAN FISIKA DENGAN METODE DISKUSI KELOMPOK

DI KELAS 1 MTS MIFTAHUL MUBTADI’IN SUMBERBERAS MUNCAR

TAHUN AJARAN 2004-2005

Penelitian ini untuk mendiskripsikan aktivitas siswa didalam proses pembelajaran Fisika dengan metode Diskusi kelompok di kelas 1 MTs Miftahul Mubtadi’in Muncar Banyuwangi Tahun Ajaran 2004 / 2005.

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan ( Class Room Action Research ) yang dilakukan di MTs Miftahul Mubtadi’in Muncar. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas 1 semester 1 Tahun Ajaran 2004/2005. Pengambilan data dari penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik Observasi yang menggunakan daftar Check-List. Data yang diperoleh dianalisis secara Diskriptif dan dinyatakan dalam bentuk prosentase (%). Pengumpulannya didasarkan pada peningkatan jumlah selebaran munculnya aktivitas siswa dalam setiap pertemuan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa, (1) Proses pembelajaran Fisika kelas 1 MTs Miftahul Mubtadi’in Muncar, sebelum menggunakan metode diskusi kelompok kwalitas aktivitas siswa dalam kategori kurang. (2) Sedang proses pembelajaran Fisika kelas 1 MTs Miftahul Mubtadi’in Muncar, setelah menggunakan diskusi kelompok menunjukkan sudah cukup memadai dan adanya peningkatan selebaran aktivitas siswa.

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

i

HALAMAN PERSETUJUAN

ii

HALAMAN PERSEMBAHAN

iv

KATA PENGANTAR

v

ABSTRAKS

Vii

DAFTAR ISI

Viii

BAB I PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang Masalah

1

1.2 Rumusan Masalah

4

1.3 Tujuan Penelitian

4

1.4 Pentingnya Penelitian

5

   

BAB II KAJIAN TEORI

 

II.1 Pengertian Belajar Mengajar

6

II.2 Cara Belajar Siswa Aktif (Student Active Learning)

9

2.1 Pengetian Belajar Siswa Aktif

9

2.2 Urgensi Penerapan Student Active Lerning Dalam Kegiatan
Belajar Mengajar

12

2.3 Prinsip-Prinsip Mengaktifkan Siswa Dalam Belajar Diperlukan Pelaksanaan Yang Sistematis

13

2.4 Tolok Ukur CBSA Dalam Pembelajaran Fisika

17

II.3 Peningkatan Aktivitas Siswa Melalui Diskusi Kelompok

19

3.1 Pengertian Diskusi Dalam Pembelajaran Fisika

19

3.2 Pengertian Metode Diskusi Kelompok

20

3.3 Peningkatan Aktivitas Belajar Siswa Melalui Diskusi Kelompok Dalam Pembelajaran Fisika

24

II.4 Hipotesis Penelitian

26

   

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

 

III.1 Metodologi Desain Penelitian

27

III.2 Variabel Penelitian

27

III.3 Definisi Variabel

28

III.4 Populasi dan Sample Penelitian

28

III.5 Instrument Penelitian

28

III.6 Teknik Pengambilan Data

30

III.7 Teknik Analisa Data

33

   

BAB IV ANALISA DATA

 

IV.1 Diskripsi Data

35

IV.2 Analisis Data

36

IV.3 Pengujian Hipotesa

40

   

BAB V KESIMPULAN dan SARAN-SARAN

 

V.1 Kesimpulan

43

V.2 Saran

43

DAFTAR PUSTAKA

44

DAFTAR LAMPIRAN

46

DAFTAR LAΜPIRAN

Lampiran 1 : Aktivitas Belajar Fisika Siswa Pada P. T. K. 1 (Pertemuan 1)

Lampiran 2 : Aktivitas Belajar Fisika Siswa Pada P. T. K. 1 (Pertemuan 2)

Lampiran 3 : Aktivitas Belajar Fisika Siswa Pada P. T. K. II

Lampiran 4 : Aktivitas Belajar Fisika Siswa Pada P. T. K. III

Lampiran 5 : Aktivitas Belajar Fisika Siswa Pada P. T. K. IV

Lampiran 6 : Aktivitas Belajar Fisika Siswa Pada P. T. K.V

Lampiran 7 : Banyaknya siswa yang aktif terhadap seluruh aspek yang diamati

 

BAB I

PENDAHULUAN

1 1 Latar Belakang

Terpengaruh oleh dinamika zaman mengakibatkan sistem pendidikan formal banyak sekali mengalami penyempurnaan masalah dan situasi pendidikan dewasa ini sudah jauh berbeda dengan sistem pendidikan ala plato. Tentu saja sistem sebelumnya, akan tetapi orang melihat adanya harapan yang lebih baik untuk masa depan. Banyak pola yang dinilai usang dan dianggap tidak sesuai lagi untuk dikembangkan lalu disempurnakan. Juga hal-hal yang dulu hanya dapat dibicarakan dalam lingkungan yang begitu terbatas dan terikat pada kepentingan golongan tertentu, kini sudah meluas dan melibatkan banyak orang.

Kegiatan belajar mengajar ( KBM ) itu sendiri yang merupakan faktor internal juga amat menentukan mutu pendidikan. Ajakan kepada peserta didik agar aktif dalam KBM bukanlah merupakan masalah baru, namun merupakan masalah yang telah di upayakan sejak lama. Menurut teori pengajaran, peran serta secara aktif dari peserta didik dalam KBM merupakan konsekuensi logis dari pengajaran yang sebenarnya bahkan merupakan faktor penting dalam hakekat kegiatan belajar mengajar. Sebab suatu pengajaran tidak akan berhasil tanpa keaktifan peserta didik (A. Samana, 1992:35).

Berkenaan dengan hal tersebut diatas , hasil penelusuran pendapat di MTs Miftahul Mubtadi’in Muncar, diperoleh bahwa aktivitas siswa dalam mengikuti mata pelajaran yang langsung dihadapkan pada skill siswa mempunyai aktivitas yang tinggi. Begitu sebaliknya bila siswa dihadapkan pada mata pelajaran umum aktivitas mereka rendah sekali. Apalagi ditunjang dengan kondisi sarana dan prasarana yang tidak memadai, serta metode pembelajaran yang tidak tepat, terutama pada pelajaran Fisika.

Setelah adanya berbagai upaya pendidikan, misalnya : Upaya peningkatan mutu, optimalisasi pencapaian hasil belajar, peningkatan / mempertinggi aktivitas belajar peserta didik dan sebagainya, maka selanjutnya didalam proses belajar mengajar dituntut untuk menerapkan cara, teknik atau sebut saja teknologi, tanpa mengabaikan pengertian setrategi, yang dapat memancing optimalisasi keaktifan peserta didik dalam belajar maka lahirlah apa yang dinamakan cara belajar siswa aktif sebagai strategi pengajaran yang dewasa ini sedang digalakkan didalam dunia pendidikan dan pengajaran.

Menurut Nana Sudjana ( 1988 ), dikatakan bahwa CBSA adalah suatu proses kegiatan belajar mengajar yang subyek didiknya terlibat secara intelektual dan emosional, sehingga subyek didik betul-betul berperan dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar.

Menurut Misbah Partika ( 1987 ), dikatakan bahwa cara belajar siswa aktif (CBSA) adalah proses belajar yang menggunakan berbagai metode yang menitik beratkan kepada keaktifan yang bersifat fisik, mental, emosional maupun intelektual untuk mencapai tujuan pendidikan yang berhubungan dengan wawasan koknetif, efektif, dan psikomotor secara optimal.

Menurut A. Posasih Djahiri ( Dalam M. Uzer Usman dan lilies Setyiowati, 1993 ). Dikatakan bahwa CBSA adalah suatu proses interaksi aktif seluruh potensi manusiawi siswa ( emosi, fileeng, fikiran, nilai moral ) secara fungsional dalam menginternalisasi suatu tujuan pelajaran yang diinginkan.

Dalam kaitannya dengan pendekatan pengajaran CBSA yang menuntut aktivitas peserta didik pengajarannya guru dituntut untuk menentukan
metode mengajar yang merangsang peserta didik secara aktif dalam melakukan kegiatan belajar.

Seperti yang dikatakan W. James Pophan dan Eva L. Baker (dalam R. H. Dj. Sinurat Et. Al. 1981), ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru dalam memperoleh suatu metode mengajar, yaitu : (1) Kemampuan guru yang bersangkutan dalam menggunakan metode itu. (2) Tujuan pengajaran yang akan dicapai. (3) Bahan pengajaran yang perlu dipelajari oleh peserta didik.
(4) Perbedaan individual dalam memanfaatkan indranya. (5) Sarana dan prasarana yang ada atau yang dapat disediakan oleh sekolah.

Berdasarkan hal tersebut diatas diharapkan bahwa guru dapat menentukan ketepatan dan efektifitas metode pengajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran yang menerapkan pembelajaran CBSA. Salah satu bagian dari strategi pembelajaran adalah metode pembelajaran yang efektif dan efisien untuk pelajaran Fisika dan menghasilkan hasil belajar yang optimal dan mampu membangkitkan aktivitas siswa secara langsung dalam KBM. Dalam hal ini metode pembelajaran yang digunakan untuk mengoptimalkan aktivitas siswa dengan pembelajaran Fisika adalah metode diskusi kelompok.

Sehubungan dengan hal itu, maka melalui penelitian ini penulis
tertarik untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran Fisika
melalui diskusi kelompok.

1.2 Rumusan Masalah

Permasalahan yang dipecahkan melalui penelitian tindakan kelas ini berfokus pada aktivitas siswa. Berdasarkan latar belakang yang ada maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :

“Apakah metode diskusi kelompok dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran Fisika di kelas I MTs Miftahul Mubtadi’in Muncar
tahun ajaran 2004 / 2005?”

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang ada, maka dapat dirumuskan tujuan penelitian tindakan kelas yang ingin dicapai yaitu : Untuk meningkatkan
aktivitas Belajar siswa, dalam proses pembelajaran Fisika jika menggunakan
metode diskusi kelompok pada kela 1 MTs Miftahul Mubtadi’in Muncar
Tahun ajaran 2004 / 2005?”

1.4 Pentingnya Penelitian

Hasil yang dapat diperoleh dari penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain :

  1. Sebagai salah satu dasar pertimbangan bagi guru untuk memilih metode pembelajaran yang efektif dan efesien dalam kegiatan belajar mengajar Fisika di MTs Miftahul Mubtadi’in Muncar.
  2. Sebagai salah satu dasar pertimbangan bagi guru dalam upaya meningkatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran fisika di kelas.

BAB II

KAJIAN TEORI

II.1 Pengertian Belajar Dan Mengajar

Belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya, sehingga mereka lebih mampu berinteraksi dengan lingkungannya. Pernyataan ini sesuai dengan pernyatan ; “ learning is a change in the individual due to intruction of that individual and his environment, which fells a need and makes more capable of dealing adequately with his environment” ( W. H. Burton, the Guidance or Learning Activities, 1962 ).

Dalam pengertian ini terdapat kata “ change “ atau “ perubahan “ yang berarti bahwa seseorang yang telah mengalami proses belajar akan mengalami perubahan tingkah laku, baik dalam aspek pengetahuannya, keterampilannya, maupun dalam sikapnya. Perubahan tingkah laku dalam aspek pengetahuan ialah dari tidak mengerti menjadi mengerti, dari bodoh menjadi pintar, dalam aspek keterampilan ialah dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak terampil menjadi terampil, dalam aspek sikap ialah dari ragu-ragu menjadi yakin, dari tidak sopan menjadi sopan, dari kurang ajar menjadi terpelajar. Hal ini merupakan salah satu kriteria keberhasilan belajar yang diantaranya ditandai oleh terjadinya perubahan tingkah laku pada diri individu yang belajar. Tanpa adanya perubahan tingkah laku, belajar dapat dikatakan tidak berhasil.

Ernest R. Hilgard (dalam nurjanah taufiq dan rukmini berhana, 1994:50) dalam bukunya Introduction Psychology mengatakan : “We may define learning as the process by which an activity originates or is change through responding to situation, provide the temporary state organism ( as fatiquior under drugs )”. Terjemahan bebasnya ialah “ belajar adalah suatu proses dimana ditimbulkan atau di ubahnya suatu kegiatan karena mereaksi suatu keadaan. Perubahan itu tidak disebabkan oleh proses pertumbuhan (kematangan) atau keadaan organisme yang sementara ( seperti kelelahan atau pengaruh obat-obatan )”.

H.C. Witherrington ( dalam buchori, 1977:65 ) Mengemukakan bahwa “Belajar adalah suatu perubahan didalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola dari reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan kepribadian atau suatu pengertian”.

Ketiga definisi diatas menunjukkan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkahlaku atau kecakapan manusia. Perubahan tingkahlaku ini bukan disebabkan oleh proses pertumbuhan yang bersifat fisiologis atau proses kematangan. Perubahan yang terjadi karena belajar dapat berupa perubahan-perubahan dalam kebiasaan, kecakapan-kecakapan atau skill atau dalam ketiga aspek yakni pengetahuan (kognitif), sikap (efektif), dan ketrampilan (psikomotor). Kegiatan belajar merupakan kegiatan paling pokok dalam keseluruhan proses pendidikan. Hal ini mengandung arti bahwa berhasil tidaknya tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami peserta didik atau siswa. ( Moh. Uzer Usman dan lilis Setiawati 1993.4-5 ).

Pandangan terhadap seorang guru terhadap pengertian belajar akan mempengaruhi tindakannya dalam membimbing siswa untuk belajar. Seorang guru yang mengartikan belajar sebagai fakta tentunya akan lain cara mengajarnya dibandingkan dengan guru yang mengartikan bahwa belajar sebagai suatu proses perubahan tingkahlaku. Untuk itu penting artinya pemahaman guru akan pengertian belajar tersebut.

Selanjutnya kita beralih dari pengertian belajar pada pengertian mengajar yang dikemukakan oleh pakar pendidikan, antara lain oleh Jorome S. Bruner dalam bukunya “ Toward a theory of Intructio “ Mengemukakan bahwa mengajar adalah menyajikan ide program, atau pengetahuan dalam bentuk sederhana sehingga dapat dipahami oleh setiap siswa ( Moh. Uzer Usman dan lilies Setiawati 1993:5 ).

Guru perlu sekali menganalisis benar-benar bahan pelajaran yang akan dipelajari siswa untuk menentukan tingkat kesukaran dan menentukan cara penyajiannya yang tepat sesuai dengan perkembangan kejiwaan anak yang akan mempelajarinya. Mengingat mengajar merupakan suatu perbuatan yang memerlukan tanggung jawab moral, maka berhasilnya pendidikan siswa secara formal terletak pada tanggung jawab guru dalam melaksanakan tugas mengajar. Mengajar pada prinsipnya adalah membimbing siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Atau dapat pula dikatakan bahwa mengajar merupakan suatu usaha mengorganisasi lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dan bahan pengajaran sehingga menimbulkan proses belajar pada siswa. Pengertian ini mengandung makna bahwa guru dituntut untuk dapat berperan organisator kegiatan belajar siswa yang mampu memanfaatkan lingkungan baik yang terdapat didalam kelas. ( Moh. Uzer Usman dan lilies Setiawati 1993;6 ).

Pemahaman akan pengertian dan pandangan guru terhadap mengajar akan mempengaruhi peranan dan aktivitasnya dalam mengajar. Sebaliknya, aktivitas guru dalam mengajar serta aktivitas siswa dalam belajar sangat bergantung pula terhadap pemahaman guru dalam mengajar. Mengajar bukan sekedar
proses penyampian ilmu pengetahuan, melainkan mengandung makna yang lebih luas dan komplek yang terjadi komunikasi dan interaksi manusiawi
dengan berbagai aspek.

II.2 Cara Belajar Siswa Aktif ( Student Active Learning )

2.1 Pengertian Belajar Siswa Aktif

Kita semua mengetahui betapa pentingnya upaya memberikan dorongan kepada peserta didik agar mereka dapat belajar secara aktif, tetapi yang lebih penting lagi adalah usaha cara menghapus belajar peserta didik yang lama, yaitu cara DDCH ( Duduk Dengar Catat Hafal ). Peserta didik dikatakan Membeo apabila mereka menghafal jawaban atau fakta tanpa berusaha mencoba memahaminya, mencoba mempelajarinya dan tidak pernah menemukan jawabannya sendiri terhadap setiap-setiap pertanyaan atau permasalahan yang diajukan oleh guru.

clip_image001Hal yang sekarang adalah tentang bagimana terjadinya belajar aktif adalah guru menyodorkan permasalahan kepada peserta didik berfikir berdasarkan atas dasar pemikirannya. Agar ini dapat terjadi maka perlu diciptakan situasi belajar yang memungkinkan peserta didik dapat saling bertanya jawab. Secara garis besar proses belajar secara aktif ini dapat digambarkan (subandijah, 1983”37) sebagai berikut:

Gambar di atas menunjukkan situasi pengajaran yang meliputi komunikasi guru dengan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik dengan kata lain peserta didik terlibat aktif dalam proses belajar mengajar. Hal ini berarti kepada peserta didik diberikan kesempatan untuk berdiskusi dengan guru dan juga dengan teman sekelas untuk memecahkan permasalahan yang sedang dibicarakan selama proses belajar mengajar. Disamping itu umpan balik
( feed back ) akan segera terwujud dengan diberikan oleh guru atau teman sekelas kepada peserta didik yang terlibat dalam interaksi belajar mengajar. Kepada sisiwa diberikan kesempatan untuk terlibat secara aktif dalam proses belajar mengajar yang sedang dilaksanakan ( Roestiyah N. K dan Yumiati Soeharto, 1985 ).

Kesempatan baik dari keterlibatan diri peserta didik dalam pengajaran hanya dapat tercapai pengajaran yang menerapkan pendekatan atau strategi Cara Belajar Siswa Aktif. Melalui pendekatan ke peserta didik akan menanggapi apa yang akan diberikan oleh guru, mengolah, menyimpan serta mengungkapkan kembali apa yang telah dibicarakan. Dengan kata lain Student Active learning ialah strategi kegiatan belajar mengajar yang menekankan keaktifan siswa dalam kegiatan belajar mengajar baik secara fisik, mental, intelektual, maupun emosional.

Tercapainya hasil belajar yang optimal meliputi hal sebagai berikut :

1. Asimilasi dan akomodasi dalam pencapaian pengetahuan

2. Perbuatan serta pengalaman langsung dalam bentuk ketrampilan

3. Penghayatan serta internalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap dan nilai ( Moh. Uzer Usman dan Lilis Setiawati,1993 )

Raka Joni (dalam Moh. Uzer Usman dan Lilis Setiawati, 1993) mengatakan bahwa keaktifan dalam Student Active Learning mengarah pada keaktifan mental, meskipun untuk mencapai ini dalam banyaknya hal yang dipersyaratkan keterlibatan langsung dalam berbagai hal atau berupa bentuk keaktifan fisik.

2.2 Urgensi Penerapan Student Active Learning Dalam Kegiatan Belajar Mengajar

Cara belajar siswa aktif perlu diterapkan dalam KBM karena didasarkan pada alasan-alasan sebagai berikut :

1. Kecepatan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut perubahan cara dan strategi guru dalam mengajar. Guru tidak mungkin menjadi salah satunya sumber belajar yang mampu menuangkan segala ilmu pengetahuan bagi anak didik. Guru hendaknya membimbing siswa untuk menemukan fakta dan informasi sendiri, serta mengolah dan mengembangkannya.

2. Siswa akan menghayati hal-hal yang akan dipelajari melalui percobaan dan praktik sendiri dari pada hanya menerima informasi terus-menerus.

3. Kreatifitas siswa dibina dan dikembangkan secara berkesinambungan melalui :

a. Latihan tanya jawab

b. Latihan berpikir kritis

c. Menemukan berbagai kemungkinan jawaban atau masalah
yang dihadapi

d. Diberi kesempatan untuk mendapat pengalaman nyata dalam pelaksanaan praktik dan percobaan

e. Diberi kesempatan untuk mempertanggung jawabkan segala hasil pekerjaan yang ditugaskan

4. Perbedaan seseorang dapat ditangani langsung dalam proses
belajar mengajar

5. Seluruh perasaan siswa terlibat dalam proses belajar mengajar sehingga menyentuh kepribadian siswa secara utuh, sehingga dapat dijadikan pegangan untuk kelangsungan hidup dikemudian hari.

Alasan-alasan diatas menunjukkan bahwa para guru tentang bagaimana memperlakukan peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar sesuai dengan perkembangan kreatifitas dan penalarannya. Oleh sebab itu kepada peserta didik hendaknya tidak hanya diberikan hal tentang apa yang harus dipelajarinya, namun yang lebih penting adalah bagaimana mempelajarinya, belajar tentang bagaimana cara belajar (Student Active Learning).

2.3 Prinsip-prinsip Mengaktifkan Siswa Dalam Belajar Diperlukan Pelaksanaan Yang Sistematis

Hal ini dapat terwujud secara baik, jika guru sebagai pengelola pengajaran dapat menerapkan prinsip-prinsip Student Active Learning. Dengan cara menerapkan belajar yang tepat ini, Moh Uzer Usman dan
Lilis Setiowati (1993) mengajukan prinsip-prinsip siswa belajar aktif
sebagai berikut :

1. Prinsip-prinsip Motivasi

Motif adalah daya atau kemauan dalam diri seorang untuk melakukan sesuatu. Sedangkan motifasi adalah usaha membangkitkan motif-motif sehingga menjadi suatu perbuatan. Guru perlu motivasi yang terdapat pada diri siswanya. Siswa yang rajin tentunya memiliki daya dorong yang kuat sehingga ia belajar dengan tekun. Sebaliknya siswa yang malas tentu tidak memiliki motivasi dalam belajar, dalam hal ini guru perlu mengetahui dan menyelidiki mengapa ia berbuat demikian. Anak yang demikian harus diberi rangsangan atau dibangkitkan kemauanya untuk belajar. Guru berperan sebagai motivator, pemberi semangat
agar motif yang positif pada anak dapat dibangkitkan, ditingkatkan
dan dikembangkan.

2. Prinsip latar atau koteks

Guru perlu mengetahui tentang pengetahuan, ketrampilan, sikap dan perasaan serta pengalaman yang dimiliki oleh para siswanya. Perolehan ini perlu dihubungkan dengan pelajaran baru yang hendak diajarkan guru kepada siswa. Apa-apa yang telah diketahui oleh anak akan menarik minat anak apabila dikaitkan dengan pelajaran baru, akibatnya siswa akan lebih mudah menangkap dan cepat memahami bahan pelajaran.

3. Prinsip Fokus (Pemusatan Fikiran)

Penyusunan satuan pelajaran maupun pelaksanaan proses belajar-mengajar hendaknya difokuskan pada satu arah atau pola tertentu. Tanpa suatu pola pelajaran akan terpecah-pecah dan para siswa akan sulit memusatkan perhatian. Titik pusat ini akan tercipta melalui upaya merumuskan masalah yang hendak dipecahkan, merumuskan pertanyaan yang hendak dijawab, atau merumuskan jawaban yang hendak disampaikan, atau merumuskan konsep yang hendak ditemukan. Titik pusat ini akan membatasi keluasan dan kedalaman tujuan belajar serta akan memberikan arah kepada tujuan yang hendak dicapai.

4. Prinsip Sosialisasi

Dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar para siswa perlu dilatih untuk bekerja sama dengan rekan-rekan sebayanya, karena ada kalanya kegiatan dapat dikerjakan dengan baik bila dikerjakan bersama-sama. Dengan prinsip ini para siswa akan dapat membedakan hubungan dengan guru, ataupun sesama temannya dan hubungan dengan masyarakat. Para siswa akan dapat saling menghargai, toleransi, tenggang rasa dan sebagainya. Dalam pelaksanaannya para siswa dapat dibagi dalam beberapa kelompok belajar dengan tugas yang berbeda-beda. Prinsip ini sangat penting dalam rangka pembentukan kepribadian anak.

5. Prinsip Belajar Sambil Bekerja (Learning By Doing)

Pada hakekatnya siswa senang bila belajar sambil bekerja atau melakukan aktivitas mereka akan merasa punya harga diri bila diberi kesempatan untuk berbuat atau melakukan sesuatu. Bekerja adalah tuntutan atau pernyataan dari anak. Oleh karna itu, mereka perlu diberi kesempatan untuk melakukan kegiatan nyata yang melibatkan fisik dan fikirannya. Dengan demikian kegiatan bekerja, mencari, dan menemukan sendiri akan tertanam dalam diri anak, akan terus berkesan dan tidak akan mudah dilupakan.

6. Prinsip Individualisasi

Setiap siswa pada hakekatnya memiliki perbedaan tersendiri baik dalam hal bakat, minat, kecerdasan, sikap, maupun kebiasaan. Maka guru hendaklah tidak memperlakukan siswa seolah-olah semua sama. Pemahaman guru terhadap perbedaan tiap siswa akan mampu mengatasi berbagai hal, seperti siswa yang rajin, malas, aktif dapat dijadikan bahan untuk menumbuh kembangkan mereka.

7. Prinsip Menemukan

Guru sebenarnya tak perlu menjejalkan seluruh informasi kepada siswa. Berilah kesempatan kepada mereka untuk mencari dan menemukan informasi tersebut. Informasi yang disampaikan guru hendaknya yang bersifat mendasar dan memancing siswa untuk mengail informasi selanjutnya. Sehingga suasana kelas tidak membosankan bahkan sebaliknya akan menjadi bergairah.

8. Prinsip Pemecahan Masalah (Problem Solving)

Sebagai motivator senantiasa mendorong para siswanya untuk melihat masalah, merumuskan, serta berupaya memecahkannya sesuai dengan taraf kemampuannya. Bila terjadi hal-hal tentang perbedaan pendapat dan penemuan mereka belum selesai dengan tujuan yang diharapkan, maka guru hendaknya melengkapi dengan tetap menghargai pendapat mereka.

2.4 Tolak Ukur CBSA Dalam Pembelajaran Fisika

Hakekat CBSA pada dasarnya menunjuk pada taraf keaktifan belajar siswa yang relatif tinggi, usaha-usaha untuk mengoptimalkan kegiatan belajar siswa dan aktivitas belajar siswa tersebut tidak sekedar ketrampilan motorik saja, tetapi keaktifan mental serta emosional juga sangat menentukan.

CBSA merupakan kegiatan belajar siswa yang berciri kegiatan kognitif bertaraf tinggi, siswa bergairah belajar (bermotivasi, bersemangat senang dan ulet dalam menghadapi tantangan) terarah (sasaran serta isinya jelas, dan bermakna bagi diri siswa), reflektif (mawas diri, memanfaatkan jasa umpan balik, siap untuk mengadakan remendial dan pengembangan lebih lanjut).

Salah satu cara untuk mengetahui seberapa jauh kadar ke-CBSA-an pola pembelajaran telah dijabarkan oleh Mc. Keachie (1954) dengan mempertimbangkan kualitas tujuh dimensi pembelajaran sebagai berikut :

1. Partisipasi siswa dalam menetapkan tujuan kegiatan belajar mengajar.

2. Tekanan pada aspek efektif (sikap) dalam pengajaran.

3. Partisipasi siswa dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, terutama dalam bentuk interaksi antar sisiwa.

4. Penerimaan (Acceptance) pengajar terhadap pembuatan dan kontribusi siswa yang kurang relevan dan bahkan sama sekali salah.

5. Kekohensifan kelas sebagai kelompok.

6. Kebebasan atau lebih tepatnya kesempatan yang telah diberikan kepada siswa untuk mengambil keputusan penting dalam kehidupan di sekolah.

7. Jumlah waktu yang digunakan untuk mengulangi masalah pribadi siswa yang berhubungan dengan pelajaran maupun yang tidak berhubungan dengan pelajaran (Muh. Uzer Usman & Lilis Setiawati, 1993 : 92-94)

II. 3 Peningkatan Aktivitas Siswa Melalui Diskusi Kelompok

3.1 Pengertian Diskusi Dalam Pembelajaran Fisika

Dialog yang sering melibatkan lebih dari dua individu atau beberapa siswa sering disebut sebagai Guideg Discussion atau Diskusi Terarah. Diskusi ini sering digunakan dalam situasi dimana guru merasa bahwa siswa tidak berkemampuan yang cukup matang untuk menggunakan model perkuliahan atau pendekatan ekspositori.

Dalam artikel yang berjudul “Sepuluh penemuan tentang dasar-dasar pembelajaran” telah diteliti indikator-indikator bahwa guru yang mendiskusikan isi setiap pokok bahasan sebelum memerintahkan siswa untuk membaca dapat memproleh hasil belajar yang lebih baik dari pada guru yang menghendaki membaca sebelum diskusi kelas. Hal itu sangat essensial jika guru mengidentifikasi siswa-siswanya secara obyektif dan menguasai konsep-konsep dalam setiap pokok bahasan, sehingga mereka dapat berkonsentrasi pada hal-hal yang penting. Hal ini juga membuat siswa menjadi aktif dalam pembelajaran. Aspek penting dalam diskusi adalah diperlukan pertimbangan yang seksama tentang pertanyaan-pertanyaan yang digunakan. Dari pertanyaan-pertanyaan yang efektif dan strategis maka akan menjadi satu program pengajaran dan pembelajaran yang bagus dan tepat (William W. Joyce dan Janet E, 1976 : 45).

Robert F Brehlier dalam bukunya “Psychology Applied to Teaching” mendiskripsikan Taxonomi Bloom dengan mengidentifikasikan pertanyaan untuk masing-masing level, yaitu :

Knowladge : Dapatkah siswa menjelaskan ide-ide ?

Comprehension : Dapatkah siswa-siswa menggunakan ide-ide ?

Aplikasi : Mampukah siswa melihat hubungannya ?

Analisis : Dapatkah siswa mengkombinasikan ide-ide ?

Evaluasi : Dapatkah siswa membuat keputusan ?

(William W Joyce dan Janet E, 1976 : 45)

Di sini guru perlu menginformasikan pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam rencana pengajaran sehingga hal tersebut akan membuat ketekunan dalam mengingat dan memperluas tingkat pengetahuan.

3.2 Pengertian Metode Diskusi Kelompok

Metode diskusi kelompok merupakan cara penyampaian pelajaran di mana guru dan peserta didik bersama-sama dan siswa dibentuk secara berkelompok untuk mencari jalan pemecahan atas permasalahan yang dihadapi.

Inti dari pengertian diskusi kelompok adalah adanya kesatuan pendapat (Meeting of Mind). Para siswa dihadapkan pada suatu masalah dan yang didiskusikan adalah pemecahannya. Dengan sendirinya dalam pemecahan masalah terdapat berbagai alternative. Dari macam-macam kesimpulan jawaban yang dikemukakan dalam diskusi perlu dipilih satu jawaban yang logis dan tepat. Jawaban ini melalui mufakat. Jawaban yang merupakan pemecahan masalah itu merupakan argumentasi yang kuat.

Definisi kelompok yang dikemukakan oleh Webster (1973) adalah: “Kelompok merupakan dua atau lebih orang yang membentuk suatu pola atau suatu urut pola : suatu kesatuan orang-orang atau benda-benda yang membentuk suatu unit yang terpisah; suatu himpunan, suatu kumpulan objek yang mempunyai hubungan kesamaan atau sifat-sifat yang sama”. (Tati Romlah, 1989 : 23)

Shaw mendefinisikan kelompok sebagai : “Two or more person how are interacting whit one another in such manner that each person influences and influenced by each other person” (Tatik Romlah, 1989:14). Show menekankan bahwa dalam proses interaksi anggota-anggota kelompok saling memberi pegaruh satu dengan yang lain.

Tentang jumlah anggota kelompok disebutkan : “setiap kelompok terdiri dari 5 (lima) atau 7 (tujuh) siswa, mereka bekerja bersama dalam memecahkan masalah atau melaksanakan tugas tertentu, dan berusaha mencapai tujuan pengajaran” (Roestiyah N.K & Yumiati Soeharto, 1985:14).

Beranjak dari pendapat di atas, kelompok belajar dalam penelitian ini menyangkut beberapa hal yaitu :

1. Kesatuan siswa yang terdiri dari 5 sampai 7 siswa

2. Adanya interaksi dalam bentuk kegiatan belajar

3. Dalam proses inteaksi tersebut anggota-anggota kelompok saling memberi pengaruh satu dengan lainnya.

4. Kegiatan kelompok dilakukan diluar jam-jam efektif sekolah sehubungan dengan materi pelajaran yang telah diberikan gurunya disekolah.

Beberapa hal yang menjadi pengelompokan yang dipetik dari pendapat Roestiyah dan Yumiati Soeharto (1985) adalah sebagai berikut :

1. Memperbesar Partisipasi Siswa

Dalam suatu kelompok belajar dituntut adanya keaktifan anggota kelompok untuk ikut memecahkan atau menyelasaikan suatu tugas. Dengan memberikan tugas yang sama pada masing-masing kelompok maka besar kemungkinan setiap siswa ikut serta melaksanakan dan memecahkannya.

2. Pembagian Tugas atau Pekerjaan

Di dalam kelas guru menghadapi suatu masalah, maka guru bisa menugaskan kelompok untuk membahas persoalan tersebut. Dengan demikian masing-masing kelompok harus bertanggung jawab atas tugas yang diberikan itu.

3. Kerja Sama Efektif

Dalam kelompok siswa harus bisa bekerja sama, mampu menyesuaikan diri, menyatukan pikiran / pendapat (Meeting of Mind) untuk kepentingan bersama, sehingga mencapai suatu tujuan
bersama pula.

Beberapa keuntungan dari penggunaan teknik kerja kelompok menurut Roestiyah dan Yumiati Soeharto (1985) adalah sebagai berikut:

1. Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk memberikan ketrampilan bertanya dan membahas satu masalah.

2. Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih intensif mengadakan penyelidikan mengenai suatu kasus atau masalah.

3. Dapat mengembangkan bakat kepemimpinan.

4. Para siswa lebih aktif tergabung dalam pelajaran mereka dan mereka lebih aktif dalam kegiatan kelompoknya. Thorndike, seorang ahli jiwa menyimpulkan faedah “Social Problem Learning” atau pemecahan masalah secara berkelompok sebagai berikut :

1. Kelompok lebih banyak membaca pengalaman masing-masing dalam situasi problematik dari pendapat seorang individu.

2. Kelompok lebih banyak memberikan bermacam-macam saran / pendapat dibanding dengan seorang individu saja.

3. Macam-macam pendapat yang berbeda-beda lebih representative dari pada pendapat seorang saja.

4. Adanya bermacam-macam latar belakang, minat, tujuan dalam kelompok mungkin mempersulit tercapainya suatu persetujuan yang riil. Tetapi perbedaan-perbedaan tersebut akan menjadikan masalah itu lebih riil atau nyata.

5. Kelompok lebih produktif dalam memberikan kritik terhadap usulan-usulan.

6. Anggota kelompok saling merangsang dalam setiap usaha kelompok. Saran dari X yang dikritik Y merangsang Z yang kemudian memberi saran baru yang berbeda,

7. Dinamika interpersonal merupakan suatu unsur penting dalam pertukaran pendapat. ( Nasution, 1982:151 ).

3.3 Peningkatan Aktivitas Belajar Siswa Melalui Diskusi Kelompok Dalam Pembelajaran Fisika

Seperti telah kita ketahui bahwa kondisi masyarakat kita lebih mengutamakan kelompok dari pada individu. Bertolak dari kenyataan itu dapat diasumsikan bahwa meningkatkan aktivitas dan persaingan melalui kelompok lebih mudah dilakukan dibandinkan dengan melalui individu. Demikian halnya dalam memberikan tugas atau soal-soal latihan kepada siswa melalui kelompok akan lebih mudah diawasi, lebih dalam memberikan bimbingan dan bantuan, dan dapat juga dikembangkan rasa kebersamaan diantara anggota kelompok keberhasilan mereka dalam belajar melalui kelompoknya akan ditentukan oleh kemampuan mereka mengaktualisasikan ide-ide mereka. Melalui kelompok juga dapat dikembangkan rasa hormat dan toleransi. Selain itu, dalam suatu kegiatan kelompok terjadi interaksi social sehingga tingkah laku yang lain. Interaksi tersebut adalah suatu tipe hubungan antar anggota klompok.

Pada saat belajar terutama dalam mengerjakan tugas, siswa terkadang mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas. Kesulitan itu akan menyebabkan timbulnya keputus-asaan. Keputus-asaan akan mengakibatkan motifasi siswa menurun. Namu bila dalam mengerjakan tugas atau
soal dengan benar maka ia akan termotivasi untuk mengerjakan tugas atau soal – soal berikutnya.

Peningkatan aktivitas siswa melalui kelompok dimaksudkan agar siswa memperoleh hasil belajar yang optimal. Hal ini akan diperoleh manakala adanya kesatuan pendapat (Meeting of Mind) akhir yang dapat dipertanggung jawabkan oleh setiap anggota kelompok. Efesiansi belajar melalui diskus kelompok dapat dicapai dengan membentuk siswa dalam kelas menjadi kelompok-kelompok kecil yang terjadi dari 5-7 siswa.

Agar tetap termotivasi diantara mereka, perlu diusahakan terciptanya iklim yang kompetitif antar kelompok dalam kelas tersebut, siswa yang mengalami kesulitan akan lebih memungkinkan untuk mendapat bantuan maupun bimbingan. Berkenaan dengan ini disebutkan oleh Suharti Tjitrobroto (1981) bahwa diskusi kelompok merupakan salah satu cara untuk melancarkan proses belajar siswa. Karena dengan belajar bersama, siswa yang kurang paham di jelaskan oleh siswa yang telah paham tersebut dengan menerangkan kepada temannya agar menjadi lebih paham.

II.4 Hipotesis Penelitian

1. Metode diskusi kelompok dapat memenuhi criteria yang diinginkan.

2. Proses sebuah aktivitas siswa pada masing-masing obyek bisa merata.

BAB III

METODELOGI DESAIN PENELITIAN

III.1 Metodologi Desain Penelitian

Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian tindakan kelas (Class Room Action Research), yang bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan praktek-praktek pembelajaran yang dihadapi di kelas.

Desain Penelitian :

clip_image002

III.2 Variabel Penelitian

Ada dua macam Variabel Penelitian :

a. Variabel Bebas : Peningkatan aktivitas siswa dalam pembelajaran Fisika.

b. Variabel Terikat : Aktivitas belajar siswa dengan metode diskusi kelompok.

III.3 Definisi Variabel

a. Peningkatan aktivitas siswa dalam pembelajaran Fisika adalah : upaya untuk mencari model pembelajaran guna untuk meningkatkan kreatifitas dan aktifitas siswa.

b. Aktivitas belajar siswa dengan metode kelompok adalah : Sistem belajar siswa untuk membiasakan siswa menjadi kreatif dan aktif.

III.4 Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi dalam penelitian ini seluruh siswa MTs Miftahul Mubtadiin, dan sebagai sampel penelitian, peneliti cuma mengambil di kelas 1 MTs Miftahul Mubtadiin Muncar tahun ajaran 2004/2005 yang berjumlah 70 siswa.

III.5 Instrumen Penelitian

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data aktivitas belajar siswa dengan metode diskusi kelompok. Untuk mengumpulkan data tersebut digunakan pedoman pengamatan berupa teknik observasi terstruktur. Sesuai dengan pendapat Arikunto (1997 :117) bahwa metode observasi adalah suatu usaha sadar untuk mengumpulkan data yang dilakukan secara sistematis dengan prosedur yang standar.

Lembar observasi yang digunakan dalam mengumpulkan data tersebut menggunakan pedoman pengamatan berupa daftar chek list seperti berikut.

Tabel 01

Aktivitas yang diamati

No Kelompok

Nama Anggota Kelompok

Aspek yang diamati

Jumlah

Ket

A

B

C

D

E

F

G

H

Untuk mendapatkan data tentang aktivitas belajar siswa dilakukan dengan siswa yang diamati meliputi hal-hal sebagai berikut :

a. Keaktifan siswa dalam memecahkan masalah.

b. Keaktifan siswa dalam memberikan dan menerima masukan antara siswa yang satu dengan siswa yang lain.

c. Keaktifan siswa dalam menyelesaikan tugas atau soal yang diberikan.

d. Inisiatif siswa dalam menjawab pertanyaan guru.

e. Inisiatif siswa dalam mengerjakan soal kedepan kelas.

f. Inisiatif siswa dalam memberikan tanggapan terhadap jawaban siswa lainnya.

g. Kerjasama dan hubungan antara siswa yang satu dengan siswa lainnya.

h. Usaha dan motivasi siswa untuk mempelajari pelajaran yang diberikan.

III.6 Teknik Pengambilan Data

Siklus mengenai aktivitas siswa dalam proses pembelajaran Fisika dilakukan sebanyak 6 kali. Hal ini mengacu pada pendapat Jason Millan (Dalam Sumadi Surya Brata, 1983) Bahwa observasi yang bertujuan untuk menilai proses belajar mengajar sebaiknya dilakukan antara dua sampai lima kali. Dalam tiap kali pertemuan, observasi dilakukan selama 90 menit (2 jam pelajaran), dan sebagai pengamatnya adalah meneliti sendiri dengan dibantu guru Bidang Study Fisika dan dosen pembimbing.

6.1 Siklus I

Pada Siklus I terdapat dua kali pertemuan. Hal ini untuk mencari kelemahan dan kelebihan proses pembelajaran sebelum dilakukan tindakan kelas yang nantinya bisa dilakukan tindakan yang tepat untuk mengatasi permasalahan-permasalahan di dalam kelas pembelajaran dilakukan dengan menerapkan metode demonstrasi, tanya jawab dan ekpositori.

6.2 Siklus II

Sesuai dengan refleksi pada siklus I, maka untuk menciptakan suasana yang kompetetif antara kelompok yang dilakukan peneliti adalah sebagai berikut :

1. Menyiapkan alat pembelajaran berupa Satuan Pelajaran dan Rencana Pengajaran Dengan Pokok Bahasan Tentang Zat Dan Wujudnya

2. Merancang strategi pembelajaran dengan menerapkan metode diskusi kelompok.

3. Menyiapkan tugas kokurikuler.

6.3 Siklus III

Dalam perencanaan ini peneliti menggunakan metode dan strategi diskusi kelompok prosedur yang dilakukan adalah sebagai berikut :

1. Menyiapkan perlengkapan mengajar berupa Satuan Pelajaran dan Rencana Pengajaran dengan pokok bahasan Tentang Tata Surya .

2. Menyiapkan alat evaluasi.

3. Menyiapkan pedoman pengamatan berupa daftar chek list.

4. Memberikan motivasi dan perhatian kepada siswa yang pasif dengan tetap tidak melupakan siswa yang aktif.

6.4 Siklus IV

Dalam perencanaan siklus IV, agar tercipta iklim yang kondusif antar siswa dan antar siswa dengan guru, peneliti masih menggunakan metode diskusi kelompok. Prosedur yang dilakukan adalah sebagai berikut :

1. Menyiapkan perlengkapan mengajar berupa Satuan Pelajaran dan Rencana Pengajaran dengan pokok bahasan Tentang Gerak.

2. Menyiapkan alat peraga berupa media gambar

3. Menyiapkan soal-soal latihan dan tugas kokurikuler

4. Memberikan motivasi dan perhatian kepada siswa yang pasif dengan tetap tidak melupakan siswa yang aktif

5. Menyiapkan pedoman pengamatan berupa daftar check list

3.5 Siklus V

Dalam perencanaan siklus V, peneliti tetap menggunakan metode diskusi kelompok dengan menjalin komunikasi yang dialogis diantara mereka dan juga komunikasi dengan guru, serta adanya selingan berupa penyegaran (ice breaker). Prosedur yang dilakukan peneliti adalah sebagai berikut :

1. Tetap menyiapkan perlengkapan mengajar berupa Satuan pelajaran dan rencana pengajaran dengan Pokok Bahasan Tentang Gaya.

2. Menyiapkan lembar kerja siswa yang akan di diskusikan.

3. Menyiapkan alat peraga berupa media gambar.

4. Menyiapkan soal-soal latihan dan tugas kokurikuler.

5. Tetap membangun rasa percaya diri siswa dengan memberikan
motivasi dan perhatian.

6. Menjalin komunikasi yang dialogis antar siswa dan antar siswa
dengan guru

7. Menyiapkan pedoman pengamatan berupa daftar check-list

III. 7 Teknik Analisis Data

Sesuai dengan jenis data yang diperoleh yaitu kuantitatif, maka data tersebut dianalisis secara deskriptif dan dilaporkan dalam bentuk prosentase (%). Untuk mencari tingkat aktivitas belajar siswa secara klasikal terhadap seluruh aspek yang diamati dihitung dengan rumus : (Ary Subaryati, 1983:13)

Ta = SX/n x 100 %

Sy

dengan

Ta = Tingkat aktivitas belajar siswa secara klasikal terhadap seluruh aspek yang diamati

X = Banyaknya siswa yang aktif terhadap tiap aspek yang diamati

Y = Banyaknya aspek yang diamati

n = Banyaknya siswa

Kriteria keberhasilan tindakan yang dilakukan dilihat dari peningkatan aktivitas belajar siswa secara klasikal terhadap seluruh aspek yang diamati secara merata dari skor mentah yang didapatkan dari hasil observasi dapat diketahui tingkat aktivitas siswa didalam proses pembelajaran Fisika. Dengan menggunakan konversi absolut skala lima, dapat dilihat kategori tingkat aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar seperti pada tabel no. 02

Tabel 02

Pedoman Konversi Absolut Skala Lima Aktivitas Belajar Siswa

No

Kriteria

Kategori

01

85 % - 100 %

Sangat Baik

02

70 % - 84 %

Baik

03

55 % - 69 %

Cukup

04

40 % - 54 %

Kurang

05

0 % - 39 %

Sangat Kurang

BAB IV

ANALISA DATA

IV.1 Diskripsi Data

Tabel 03 lampiran 01 dan tabel 04 lampiran 02 menunjukan hasil pengamatan aktivitas siswa dalam belajar Fisika sebelum penerapan diskusi kelompok. Tabel 05 lampiran 03 sampai tabel 08 lampiran 06 menunjukan hasil pengamatan aktivitas siswa dalam belajar Fisika setelah penerapan diskusi kelompok.

Data yang terkumpul dari hasil observasi selanjutnya dimasukkan dalam tabel 09. Setelah data diproses dengan rumus yang digunakan diperoleh hasil secara keselruhan seperti tabel 10.

Tabel 10

Prosentase banyaknya siswa yang aktif terhadap aspek yang di amati

NO

Siklus

Aktivitas Belajar Siswa

Secara Klasiskal Terhadap Seluruh Aspek yang Diamati

1.

Tindakan I : Pertemuan I

Pertemuan II

47,27 %

47,33 %

2.

Tindakan II

65,46 %

3.

Tindakan III

70,81 %

4.

Tindakan IV

71,95 %

5.

Tindakan V

89,28 %

IV.2 Analisa Data

Berdasakan tabel 10 tampak dari data yang diperoleh baik sebelum dan setelah penerapan diskusi kelompok menunjukkan adanya peningkatan jumlah siswa yang aktif terhadap aspek-aspek yang diamati, atau secara keseluruhan terlihat adanya peningkatan prosentase aktivitas siswa dalam belajar Fisika. Hal ini sesuai dengan teori yang berdasarkan bahwa penerapan diskusi kelompok dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam belajar Fisika (Muh Uzer Usman dan Lilis Setiawati, 1993).

Sebagai langkah awal untuk meningkatkan aktivitas belajar Fisika, diperlukan metode yang tepat dalam perencanaan tindakan kelas. Dimana pada siklus I terbagi menjadi 2 kali pertemuan.

Dengan menggunakan metode Demonstrasi dan tanya jawab ternyata aktivitas belajar Fisika siswa masih jauh dari harapan, diantaranya siswa belum bisa membaca Besaran dan satuan, aktivitas didominasi oleh beberapa orang saja. Pada pertemuan ini aktivitas yang tertinggi adalah aktivitas dalam mengerjakan soal latihan yang diberikan oleh guru yaitu sebesar 7,42 % dari 32 siswa sedang aktivitas yang lainnya sebesar 4,69 sampai dengan 6,64% dari 47,27% aktivitas siswa secara keseluruhan. Pada siklus ini tingkat aktivitas belajar siswa masih dalam kategori kurang.

Pada pertemuan ke-2 proses pembelajaran menggunakan metode ekspositari dan tanya jawab. Aktivitas belajar siswa secara keseluruhan sebesar 47,33 % dari 33 siswa, dan termasuk dalam kategori kurang. Aktivitas yang paling tinggi masih pada aktivitas mengerjakan soal latihan dan tugas yang diberikan oleh guru, yaitu sebesar 7,95 % dari 33 siswa. Jadi aktivitas siswa pada pertemuan I belum memadai karena baru mencapai 47,33%.

Dengan menggunakan metode diskusi kelompok pada pokok bahasan zat dan wujudnya, maka aktivitas belajar siswa pada siklus II mulai ada peningkatan yaitu sebesar 18,13 % dari 34 Siswa. Namun peningkatan ini rupanya belum optimal karena masih dalam kategori cukup. Hal ini terjadi karena ada beberapa faktor yang belum berjalan sesuai dengan yang diharapkan di antaranya seperti berikut :

1. Ada siswa yang aktif enggan memberikan bantuan atau bimbingan kepada anggota kelompoknya.

2. Masih ada siswa yang pasif belum ikut ambil bagian dalam diskusi kelompoknya masing-masing

3. Belum terbiasanya siswa melakukan diskusi kelompok sehingga beberapa siswa belum memahami betul tugas dan tanggung jawab mereka dalam kelompoknya.

4. Siswa yang aktif semakin bertambah aktivitas belajarnya, begitu sebaliknya siswa yang pasif tidak ada peningkatan aktivitas belajarnya.

Dengan menerapkan metode diskusi kelompok pada bahasan Tata Surya, maka prosentase aktivitas belajar siswa pada siklus III secara keseluruhan sebesar 70,81 % dari 33 Siswa, dan peningkatan sebesar 5,35 % dari aktivitas sebelumnya, dan termasuk dalam kategori baik. Aktivitas yang paling tinggi masih pada aktiftas mengerjakan soal latihan dan tugas yang diberikan oleh guru, yaitu sebesar 11,74 %. Aktivitas pada pada peringkat kedua yaitu aktivitas dalam memberikan tanggapan terhadap jawaban siswa yang lainnya yaitu sebesar 9,47 %, sedang aktivitas yang lainnya antara 7,57 % sampai dengan 8,71 %.

Hasil pengamatan menunjukkan adanya prosentase aktivitas siswa secara klasikal dan peningkatan aktivitas belajar siswa secara optimal terhadap beberapa aspek yang diamati. Pada siswa yang pasif belum ada keberanian untuk menyampaikan pendapatnya dan masih ada yang belum berani maju kedepan mengerjakan soal latihan kalau tidak ditunjuk.

Dengan menerapkan metode diskusi kelompok pada pokok bahasan gerak, prosentase aktivitas belajar siswa pada siswa dalam siklus IV sebesar 71,95 % dari 33 siswa, dimana peningkatannya sebesar 1,14% dari aktivitas sebelumnya dan termasuk dalam kategori baik. Aktivitas yang paling tinggi masih tetap didominasi pada aktivitas mengerjakan soal latihan dan tugas yang diberikan oleh guru.

Pada siklus III dan IV belum ada sebaran yang merata pada seluruh aktivitas belajar siswa. Pada siklus ini penelitian belum dianggap berhasil dan optimal, walupun sudah masuk dalam kategori baik. Justru motivasi siswa, kerja sama siswa, inisiatif siswa dalam memberikan tanggapan dan inisiatif siswa dalam mengerjakan soal latihan ke depan kelas mengalami penurunan. Dari hasil analisis data hal ini terjadi karena ada beberapa faktor yaitu :

1. Kurang adanya variasi metode pembelajaran, sehingga siswa mengalami kejenuhan dalam kegiatan belajarnya.

2. Kurangnya Guru memberikan Stressing pada aspek-aspek aktivitas yang lemah sehingga terjadi penyebaran aktivitas belajar yang tidak merata.

3. Kurangnya perhatian guru yang penuh pada siswa yang pasif.

Bertolak dari kondisi pada siklus-siklus sebelumnya pada siklus V di terapkan metode diskusi kelompok pada pokok bahasan Gaya dan di tambah dengan variasi media peralatan pendukung. Selain itu pembelajaran juga di selingi dengan adanya penyegaran (Ice breaker). Dari hasil analisis data diperoleh prosentase aktivitas belajar siswa secara keseluruhan 89,28% dari 35siswa, dimana peningkatan itu sebesar 17,33% dari siklus sebelumnya. Dan prosentase sebaran aktivitas belajar siswa sudah dalam kategori sangat baik karena sudah mencapai 89,28%.

IV.3 Pengujian Hipotesa

Hasil dari pengamatan observasi megenai aktivitas siswa dan hasil dari analisis data diperoleh bahwa ada peningkatan aktivitas siswa.

Jika dikembalikan pada komponen-komponen proses belajar mengajar dan faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas belajar siswa, sudah selayaknya jika metode pembelajaran sebagai salah satu komponen proses belajar mengajar dan kemampuan guru dalam mengelola kelas merupakan faktor Eksternal yang mempengaruhi aktivitas belajar siswa, karena penggunaan satu metode pembelajaran tanpa banyak peran serta guru dalam mengelola kelas pencapaian aktivitas siswa tidak akan maksimal. Akan tetapi manakala proses pembelajaran menggunakan metode diskusi kelompok dengan adanya variasi metode pembelajaran dan guru mampu mengelola kelas yang masih ada siswa yang belum aktif dapat di sinyalir bahwa komponen siswa yang menyebabkan yaitu bagaimana kondisi Raw Input yang ada dengan metode pembelajaran yang digunakan.

Penelitian ini dilakukan sebanyak lima siklus, dimana pada siklus II dan siklus V metode yang digunakan adalah siklus kelompok karena yang diutamakan di sini adalah untuk meningkatkan aktivitas siswa. Seperti yang dikatakan James dan Eva L. Baker (1994:101) bahwa diskusi berguna sekali untuk mengubah perilaku efektif siswa secara konkrit. Dalam hal sikap dan nilai, perubahan sukar sekali diadakan jika siswa tidak diberi kesempatan menyatakan perasaannya penggunaan diskusi secara trampil memungkinkan pembentukan sikap dalam suasana kelompok. A. Samana (1992:142) juga mengatakan bahwa diskusi melatih siswa untuk berfikir mandiri sekaligus meningkatkan taraf kepercayaan siswa.

Untuk mengubah kondisi siswa agar aktivitasnya meningkat diperlukan iklim yang kondusif, komunikasi yang dialogis, adanya keakraban di antara mereka dan siswa mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi, penelitian tidak bisa dilakukan satu kali pertemuan atau dua kali pertemuan.

Faktor-faktor yang diperhatikan seorang guru dalam penelitian tindakan kelas dengan menggunakan metode diskusi kelompok ini dalah sebagai berikut :

1. Guru perlu memberikan variasi pembelajaran agar siswa tidak mengalami kejenuhan dalam kegiatan belajarnya.

2. Guru perlu memberikan Stressing pada aspek-aspek aktivitas yang dianggap lemah.

3. Guru memberikan perhatian yang Intens pada siswa yang pasif.

4. Guru memberikan pemahaman tentang metode diskusi kelompok.

5. Siswa tidak dibiarkan begitu saja, tetapi guru bertindak sebagai fasilitator.

6. Guru mampu mengelola kelas.

Yang sungguh menarik dalam penelitian tindakan kelas ini adalah pada siklus II dengan pokok bahasan Zat dan wujudnya aktivitas siswa mengalami peningkatan sebesar 18,33 % dari aktivitas sebelumnya dengan jumlah siswa 34 orang .pada siklus V dengan pokok bahasan Gaya aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan sebesar 17,33 % dari aktivitas sebelumnya dengan jumlah 35 siswa pada kedua siklus ini terjadi karena materi pembelajaran banyak menggunakan praktek sehingga menjadi pemicu bagi aktivitas belajar siswa, maka berdasarkan kondisi tersebut guru perlu memperhatikan strategi pembelajaran yang diterapkan sesuai dengan harapan mereka.

BAB V

KESIMPULAN dan SARAN-SARAN

V.1 Kesimpulan

Dari penelitian yang telah dilakukan terhadap aktivitas siswa dengan metode diskusi kelompok di dalam proses pembelajaran Fisika, maka dapat di ungkapkan sebagai berikut :

1. Tingkat aktivitas siswa pada proses pembelajaran dengan metode diskusi kelompok sudah sangat baik karena sudah mencapai 89,28 %

2. Proses sebaran aktivitas belajar siswa pada masing-masing aspek
sudah mulai merata.

V.2 Saran-saran

Berdasarkan temuan-temuan pada penelitian ini, dalam rangka meningkatkan aktivitas siswa, diharapkan guru-guru Fisika yang mengajar di sekolah menengah Pertama agar memperhatikan materi plejaran yang akan diajarkan ke siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Burton, William H. 1962. The Guidance of Learning Activies. Virginia United States Of Amerika.

James Pophan, W dan Eva L. Baker. 1981 Bagaimana Mengajar Secara Sistematis

Terjemahan R. H . DJ. Sinurat. Et. Al. Jakarta : Kanisius.

Hilgard, Emest. R. et.al. 1994. Pengantar Psikologi. Edisi ke-8 Terjemahan Nurjanah

Taufik dan Rukmini Berhana. Introduction to Psychology. 1994 Jakarta :

Anggota IKAPI.

Nasution. S. 1982. Didaktik Azas-azas Mengejar. Bandung Jemmars.

Romlah, Tatik. 1989. Teori dan Praktek Bimbingan Kelompok. Jakarta : Depdikbud
Dirjen Dikti P2LPTK.

Rostiyah N. K. dan Yumiati Soeharto. 1985. Strategi Belajar Mengajar. Bandung Jemmars.

Samana, A. 1992. Sistem Pengajaran (Prosedur Pengembangan Intruksional dan Pertimbangan Metodologisnya). YOGYAKARTA : Kanisius.

Surakhmad, Winarno. 1979. Cara Belajar Di Universitas. Bandung : Jemmars.

Tjitrobroto, Suharti, 1981. Teknik Belajar yang efektif, Jakarta : Bratara Karya Askara.

Usman, M. Uzer dan lilies Setiamati, 1993. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar. Cetakan Ke-1. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya.

W. Joyce, Williem dan Janet E. Alleman, 1979. Teaching Social Student In The Elemtary. New York Chicago San Frassisco : The United States Of America.

Witherrington, H.C. 1991. Teknik-Teknik Belajar dan Mengajar. Terjemahan M. Buchari. Educational Psychology 1977. Jakarta Erlangga.

Lampiran 01

Tabel 03 : Aktivitas Belajar Fisika pada P. T. K. I (Pertemuan I)

NO
NAMA
ASPEK YANG DIAMATI
JUMLAH
KET

A

B

C

D

E

F

G

H

1

Ahmad Abdillah

Ö

-

Ö

-

-

Ö

Ö

-

4

2

Ahmad Efendi

-

-

-

Ö

-

Ö

-

-

2

3

Ahmad Shidiq Zarkasi

-

Ö

Ö

-

Ö

Ö

Ö

Ö

6

4

Ana Arista Devi

-

-

-

-

-

-

-

-

-

Ijin

5

Anggi Setiawan Tambora

-

-

Ö

Ö

-

Ö

Ö

Ö

5

6

Ani Lailatunni’mah

Ö

Ö

-

-

Ö

-

Ö

Ö

5

7

Arif Muthohar

-

-

Ö

-

Ö

-

Ö

-

3

8

Beny Sapta Ringga

Ö

Ö

-

Ö

-

Ö

-

Ö

5

9

Cahyani Al’ani

-

-

Ö

-

Ö

Ö

-

-

3

10

Faridatul Jannah

-

Ö

Ö

-

-

-

Ö

-

3

11

Fitria Apriliana

Ö

-

-

Ö

-

Ö

-

Ö

4

12

Hadi Kurniawan

Ö

-

Ö

-

Ö

Ö

Ö

Ö

6

13

Haris Sahara

-

-

-

-

-

-

-

-

-

Ijin

14

Indah Ulfayanti

-

Ö

Ö

Ö

-

Ö

-

-

4

15

Khoirul Anam

Ö

-

-

-

Ö

Ö

-

Ö

4

16

Lilik Suryani

-

-

-

Ö

-

-

-

-

1

17

Lilis Nurviana

--

Ö

Ö

-

Ö

Ö

-

Ö

5

18

M. Yunus

Ö

-

Ö

Ö

-

-

Ö

Ö

5

19

M. Eko Purwanto

-

Ö

-

-

Ö

-

Ö

-

3

20

Mar’atus Sholihah

Ö

-

Ö

Ö

-

-

-

Ö

4

21

Moh. Yusron Mahmudi

-

-

Ö

-

-

Ö

Ö

-

3

22

Madrikatul Hasanah

Ö

-

-

-

Ö

-

-

-

2

23

Moh. Fajar Ansori

-

Ö

Ö

Ö

-

-

Ö

Ö

5

24

Mohammad Arwani

-

Ö

-

Ö

-

-

Ö

-

3

25

Moh. Idrus Romtomi

-

-

Ö

--

Ö

Ö

-

Ö

4

26

Moh. Khoharudin

-

-

-

Ö

-

-

Ö

-

2

27

Mukharumatus Siami

-

-

Ö

-

Ö

-

Ö

-

3

28

Naimatul Musyarofah

Ö

Ö

-

Ö

-

Ö

-

Ö

5

29

Nafi’atul Fitriyani

-

-

-

-

-

-

-

-

-

Ijin

30

Novita Indra Sari

-

Ö

-

Ö

-

Ö

Ö

Ö

5

31

Nur Arifin

Ö

-

Ö

-

Ö

-

-

Ö

4

32

Nur Hamidah

-

Ö

-

Ö

-

-

Ö

-

3

33

Reni Astutik

-

-

Ö

-

-

Ö

-

-

2

34

Rizka Purnama Dewi

-

-

Ö

-

Ö

--

-

Ö

3

35

Saifuad Hasan

Ö

-

-

Ö

-

-

Ö

-

3

Jumlah

12

12

19

15

14

15

17

17

121

3

Lampiran 02

Tabel 04 : Aktivitas Belajar Fisika pada P. T. K. I (Pertemuan II)

NO

NAMA
ASPEK YANG DIAMATI
JUMLAH
KET

A

B

C

D

E

F

G

H

1

Ahmad Abdillah

-

Ö

Ö

-

-

-

-

Ö

3

2

Ahmad Efendi

-

-

Ö

-

Ö

-

Ö

Ö

4

3

Ahmad Shidiq Zarkasi

-

-

Ö

Ö

Ö

-

-

-

3

4

Ana Arista Devi

-

-

-

-

-

-

-

-

-

Ijin

5

Anggi Setiawan Tambora

-

Ö

-

-

-

Ö

Ö

Ö

4

6

Ani Lailatunni’mah

Ö

-

Ö

-

-

Ö

-

Ö

4

7

Arif Muthohar

-

Ö

Ö

Ö

Ö

-

Ö

-

5

8

Beny Sapta Ringga

Ö

-

Ö

-

-

Ö

-

Ö

4

9

Cahyani Al’ani

-

--

Ö

-

Ö

-

Ö

-

3

10

Faridatul Jannah

-

-

Ö

-

Ö

Ö

Ö

Ö

5

11

Fitria Apriliana

-

Ö

Ö

Ö

-

-

-

-

3

12

Hadi Kurniawan

-

-

-

Ö

-

-

Ö

-

2

13

Haris Sahara

Ö

Ö

-

Ö

-

Ö

Ö

Ö

6

14

Indah Ulfayanti

-

-

Ö

-

Ö

-

Ö

-

3

15

Khoirul Anam

Ö

-

-

Ö

-

Ö

Ö

Ö

5

16

Lilik Suryani

-

-

-

-

-

-

-

-

-

Ijin

17

Lilis Nurviana

Ö

-

-

-

Ö

-

Ö

-

3

18

M. Yunus

-

-

Ö

-

Ö

Ö

-

Ö

4

19

M. Eko Purwanto

-

Ö

-

Ö

-

-

Ö

-

3

20

Mar’atus Sholihah

Ö

-

Ö

Ö

-

-

-

Ö

4

21

Moh. Yusron Mahmudi

Ö

-

-

-

Ö

Ö

Ö

Ö

5

22

Madrikatul Hasanah

-

Ö

Ö

Ö

-

-

Ö

-

4

23

Moh. Fajar Ansori

Ö

-

-

Ö

-

Ö

-

-

3

24

Mohammad Arwani

-

Ö

-

-

Ö

-

-

Ö

3

25

Moh. Idrus Romtomi

Ö

-

Ö

-

-

-

-

Ö

3

26

Moh. Khoharudin

-

Ö

-

Ö

-

Ö

Ö

-

4

27

Mukharumatus Siami

-

-

Ö

-

Ö

-

-

Ö

3

28

Naimatul Musyarofah

Ö

-

Ö

Ö

-

-

Ö

Ö

5

29

Nafi’atul Fitriyani

-

Ö

-

Ö

-

Ö

Ö

-

4

30

Novita Indra Sari

-

-

Ö

-

Ö

-

-

Ö

3

31

Nur Arifin

-

Ö

-

-

Ö

Ö

-

-

3

32

Nur Hamidah

Ö

-

Ö

Ö

-

-

-

Ö

4

33

Reni Astutik

-

Ö

-

-

Ö

-

Ö

Ö

4

34

Rizka Purnama Dewi

Ö

-

Ö

-

-

Ö

--

-

3

35

Saifuad Hasan

-

-

Ö

Ö

-

Ö

Ö

-

4

Jumlah

12

12

21

15

15

14

18

18

125

2


Lampiran 03

Tabel 05 : Aktivitas belajar Fisika pada P. T. K. II

NO

NAMA
ASPEK YANG DIAMATI
JUMLAH
KET

A

B

C

D

E

F

G

H

I

Ah. Yahya Saiful Rizal

-

Ö

Ö

-

Ö

Ö

-

Ö

5

Ahmad Mustofa

Ö

-

Ö

Ö

-

Ö

Ö

-

5

Agus Nur Mahmud

-

Ö

Ö

Ö

Ö

-

Ö

-

5

Dedim Kurniawan

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

8

Edi Kurniawan

Ö

Ö

Ö

-

Ö

Ö

Ö

-

6

Eva Ardana

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

-

-

Ö

6

Fatimatur Rohmatin

Ö

-

Ö

Ö

Ö

Ö

-

Ö

6

II

Fina Suci Rahayu

-

Ö

Ö

-

-

Ö

Ö

Ö

5

Imam Turmudzi

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

8

Imroatul Fadillah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

Ijin

Irfan Fauzi

-

Ö

Ö

Ö

Ö

-

Ö

Ö

6

Ma’rifatul Hasanah

Ö

-

Ö

Ö

-

Ö

Ö

-

5

Mikko Wiriyanto

Ö

Ö

Ö

-

Ö

-

Ö

Ö

6

Moh. Anas Malik

Ö

Ö

Ö

Ö

-

-

Ö

Ö

6

III

Moh. Fuad Shodiq

-

-

Ö

-

Ö

Ö

Ö

-

4

Moh. Hanif Koiron

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

-

Ö

-

6

Moh. Zakka Umam

Ö

-

Ö

-

-

Ö

Ö

Ö

5

Munawir

-

Ö

Ö

Ö

Ö

-

-

Ö

5

Nur Halimah

-

-

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

6

Nur Khariri

Ö

Ö

Ö

-

Ö

-

Ö

-

5

Ria Istiana

-

-

Ö

-

Ö

Ö

-

-

3

IV

Rully Cahyo Romadhon

Ö

Ö

Ö

Ö

-

-

Ö

Ö

6

Siti Nur Halimah

-

Ö

-

Ö

-

Ö

Ö

Ö

5

Siti Romlah

Ö

Ö

Ö

-

Ö

-

Ö

-

5

Syahrul Mustofa

-

Ö

Ö

-

-

Ö

-

Ö

4

Tuhfatul Amin

Ö

-

Ö

Ö

-

Ö

Ö

Ö

6

Toni Nur Ahmad

-

-

Ö

Ö

Ö

-

-

Ö

4

Wiwin Handayani

Ö

-

Ö

-

Ö

-

Ö

Ö

5

V

Wiji Astutik

Ö

-

Ö

-

Ö

Ö

-

-

4

Yahya Alfian

-

-

Ö

-

-

Ö

Ö

-

3

Yeni Nur Hidayati

Ö

Ö

Ö

Ö

-

Ö

-

Ö

6

Yuyun Wakhidah

Ö

-

Ö

Ö

-

-

Ö

-

4

Zaenal Abidin

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

-

-

Ö

6

Zulfatul A

Ö

-

Ö

-

Ö

Ö

-

-

4

Zadiatul Mukaromah

-

Ö

Ö

-

Ö

-

Ö

Ö

5

Jumlah

21

20

33

19

22

19

23

21

178

1


Lampiran 04

Tabel 06 : Aktivitas Belajar Fisika Pada P. T. K. III

NO

NAMA

ASPEK YANG DIAMATI

JUMLAH

KET

A

B

C

D

E

F

G

H

I

Ah. Yahya Saiful Rizal

-

-

-

-

-

-

-

-

-

Ijin

Ahmad Mustofa

Ö

-

Ö

Ö

Ö

Ö

-

Ö

6

Agus Nur Mahmud

-

Ö

Ö

Ö

Ö

-

Ö

-

5

Dedim Kurniawan

Ö

-

Ö

Ö

Ö

Ö

-

Ö

6

Edi Kurniawan

-

Ö

Ö

-

-

Ö

Ö

Ö

5

Eva Ardana

-

Ö

Ö

Ö

-

Ö

Ö

Ö

6

Fatimatur Rohmatin

Ö

-

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

-

6

II

Fina Suci Rahayu

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

8

Imam Turmudzi

Ö

-

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

7

Imroatul Fadillah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

Ijin

Irfan Fauzi

-

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

-

6

Ma’rifatul Hasanah

-

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

-

Ö

6

Mikko Wiriyanto

Ö

-

Ö

Ö

-

Ö

Ö

Ö

6

Moh. Anas Malik

-

Ö

Ö

Ö

Ö

-

-

Ö

5

III

Moh. Fuad Shodiq

Ö

Ö

Ö

-

Ö

Ö

-

Ö

6

Moh. Hanif Koiron

Ö

-

Ö

Ö

-

Ö

Ö

-

5

Moh. Zakka Umam

-

Ö

Ö

Ö

Ö

-

Ö

Ö

6

Munawir

Ö

-

Ö

-

Ö

Ö

Ö

Ö

6

Nur Halimah

Ö

Ö

-

Ö

-

Ö

-

Ö

4

Nur Khariri

-

Ö

Ö

-

Ö

Ö

Ö

-

5

Ria Istiana

Ö

-

Ö

Ö

Ö

Ö

-

Ö

6

IV

Rully Cahyo Romadhon

Ö

Ö

Ö

-

Ö

-

Ö

Ö

6

Siti Nur Halimah

-

Ö

Ö

Ö

-

Ö

-

Ö

5

Siti Romlah

Ö

Ö

-

Ö

-

Ö

Ö

-

5

Syahrul Mustofa

-

-

Ö

Ö

Ö

-

Ö

Ö

5

Tuhfatul Amin

-

Ö

Ö

-

Ö

Ö

Ö

-

5

Toni Nur Ahmad

Ö

Ö

Ö

-

Ö

Ö

-

Ö

6

Wiwin Handayani

Ö

Ö

Ö

Ö

-

Ö

Ö

-

65

V

Wiji Astutik

-

Ö

Ö

-

Ö

Ö

Ö

Ö

6

Yahya Alfian

Ö

-

Ö

Ö

Ö

-

-

Ö

5

Yeni Nur Hidayati

Ö

Ö

Ö

-

-

Ö

Ö

Ö

6

Yuyun Wakhidah

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

-

Ö

-

6

Zaenal Abidin

Ö

-

Ö

-

Ö

Ö

Ö

Ö

6

Zulfatul A

-

-

Ö

Ö

-

Ö

-

-

3

Zadiatul Mukaromah

Ö

Ö

Ö

Ö

-

-

Ö

Ö

6

Jumlah

20

21

31

23

22

25

22

23

187

2


Lampiran 05

Tabel 07 : Aktivitas Belajar Fisika Pada P. T. K. IV

NO

NAMA

ASPEK YANG DIAMATI

JUMLAH

KET

A

B

C

D

E

F

G

H

I

Ah. Yahya Saiful Rizal

Ö

Ö

-

Ö

Ö

Ö

Ö

-

6

Ahmad Mustofa

-

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

-

Ö

6

Agus nur Mahmud

Ö

Ö

Ö

Ö

-

Ö

Ö

Ö

7

Dedim Kurniawan

Ö

-

Ö

Ö

Ö

-

Ö

-

5

Edi Kurniawan

-

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

-

6

Eva Ardana

Ö

-

Ö

Ö

-

Ö

Ö

Ö

6

Fatimatur Rohmatin

Ö

Ö

Ö

-

Ö

Ö

Ö

Ö

7

II

Fina Suci Rahayu

Ö

-

-

Ö

Ö

Ö

-

Ö

5

Imam Turmudzi

-

Ö

Ö

-

-

--

Ö

Ö

4

Imroatul Fadillah

Ö

-

Ö

Ö

Ö

-

Ö

Ö

6

Irfan Fauzi

-

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

-

-

5

Ma’rifatul Hasanah

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

8

Mikko Wiriyanto

-

-

-

-

-

-

-

-

-

Ijin

Moh. Anas Malik

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

8

III

Moh. Fuad Shodiq

-

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

-

Ö

6

Moh. Hanif Koiron

Ö

Ö

Ö

-

Ö

-

-

Ö

4

Moh. Zakka Umam

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

-

7

Munawir

-

-

-

-

-

-

-

-

-

Ijin

Nur Halimah

-

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

7

Nur Khariri

Ö

Ö

Ö

Ö

-

-

-

Ö

5

Ria Istiana

Ö

-

Ö

Ö

Ö

Ö

-

Ö

6

IV

Rully Cahyo Romadhon

Ö

Ö

Ö

-

Ö

-

Ö

Ö

6

Siti Nur Halimah

-

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

-

Ö

6

Siti Romlah

-

-

Ö

Ö

Ö

-

Ö

Ö

5

Syahrul Mustofa

Ö

Ö

Ö

-

Ö

-

Ö

-

5

Tuhfatul Amin

Ö

-

Ö

-

Ö

Ö

Ö

Ö

6

Toni Nur Ahmad

-

Ö

Ö

Ö

-

Ö

Ö

-

5

Wiwin Handayani

Ö

-

Ö

-

Ö

Ö

Ö

Ö

6

V

Wiji Astutik

Ö

Ö

Ö

Ö

-

Ö

-

Ö

6

Yahya Alfian

Ö

Ö

Ö

-

Ö

-

Ö

Ö

6

Yeni Nur Hidayati

-

Ö

Ö

Ö

-

Ö

Ö

-

5

Yuyun Wakhidah

Ö

-

Ö

-

Ö

-

-

Ö

4

Zaenal Abidin

-

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

-

6

Zulfatul A

Ö

-

Ö

-

Ö

-

Ö

-

4

Zadiatul Mukaromah

Ö

Ö

Ö

Ö

-

-

Ö

Ö

6

Jumlah

22

23

31

23

24

21

23

23

189

2


Lampiran 06

Tabel 08 : Aktivitas Belajar Fisika Pada P. T. K. V

NO

NAMA

ASPEK YANG DIAMATI

JUMLAH

KET

A

B

C

D

E

F

G

H

I

Ah. Yahya Saiful Rizal

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

8

Ahmad Mustofa

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

8

Agus nur Mahmud

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

8

Dedim Kurniawan

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

8

Edi Kurniawan

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

8

Eva Ardana

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

-

7

Fatimatur Rohmatin

-

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

7

II

Fina Suci Rahayu

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

8

Imam Turmudzi

Ö

Ö

Ö

-

-

Ö

-

Ö

5

Imroatul Fadillah

Ö

-

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

7

Irfan Fauzi

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

-

Ö

Ö

7

Ma’rifatul Hasanah

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

-

Ö

Ö

7

Mikko Wiriyanto

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

-

7

Moh. Anas Malik

Ö

Ö

Ö

-

Ö

Ö

Ö

Ö

7

III

Moh. Fuad Shodiq

-

Ö

Ö

-

Ö

-

Ö

Ö

5

Moh. Hanif Koiron

-

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

7

Moh. Zakka Umam

Ö

-

Ö

Ö

-

-

Ö

Ö

5

Munawir

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

-

Ö

Ö

7

Nur Halimah

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

-

7

Nur Khariri

Ö

Ö

Ö

Ö

-

Ö

-

Ö

6

Ria Istiana

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

8

IV

Rully Cahyo Romadhon

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

-

Ö

Ö

7

Siti Nur Halimah

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

8

Siti Romlah

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

8

Syahrul Mustofa

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

8

Tuhfatul Amin

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

-

Ö

Ö

7

Toni Nur Ahmad

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

-

Ö

7

Wiwin Handayani

-

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

7

V

Wiji Astutik

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

8

Yahya Alfian

Ö

-

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

7

Yeni Nur Hidayati

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

8

Yuyun Wakhidah

-

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

7

Zaenal Abidin

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

-

Ö

7

Zulfatul A

Ö

Ö

Ö

Ö

-

Ö

Ö

Ö

7

Zadiatul Mukaromah

Ö

Ö

Ö

Ö

Ö

-

Ö

Ö

7

Jumlah

30

32

35

32

31

27

31

32

250

0

Lampiran 07

Tabel 09. Banyaknya siswa yang aktif terhadap seluruh siswa yang diamati

Aspek yang diamati ( y )

Banyaknya siswa yang diamati ( n )

P.T.K. I

P.T.K I

P.T.KII

P.T.KIII

P.T.KIV

P.T.KV

A

4,69

4,54

7,72

7,57

8,33

10,71

B

4,69

4,54

7,35

7,95

8,71

11,43

C

7,42

7,95

12,13

11,74

11,74

12,5

D

5,86

5,68

6,98

8,71

8,71

11,43

E

5,47

5,68

8,09

8,33

9,09

11,07

F

5,85

5,30

6,98

9,47

7,95

9,64

G

6,64

6,82

8,46

8,33

8,71

11,07

H

6,64

6,82

7,72

8,71

8,71

11,43

∑ x

47,27

47,33

65,46

70,81

71,95

89,28

∑ n

32

33

34

33

33

35

HOT