| | 0 komentar | Read More

Karya Tulis Ilmiah Biologi

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Ilmu pengetahuan alam terdiri dari ilmu Biologi, Kimia, fisika merupakan dasar dari ilmu pengetahuan yang lain seperti Kedokteran, Farmasi, Kehutanan, dan lain-lain. Di dalam Ilmu Biologi tidak hanya bertujuan memahami kajian Biologi yang langsung bermanfaat bagi kebutuhan hidup manusia saja tetapi juga berguna untuk memahami peristiwa alam, kebesaran Allah SWT. dan megetahui hakikat materi serta perubahannya, mengembangkan kemampuan dalam mengajukan gagasan-gagasan (Depdiknas, 2003).

Siswa yang berasal dari beragam sekolah mempunyai latar belakang yang berbeda sehingga peneliti berharap dengan metode eksperimen siswa dapat mengenal, mengetahui nama-nama alat, mengunakan alat, membedakan bahan-bahan yang berbahaya dan tidak. Pemahaman siswa tentang laboratorium Biologi dapat merangsang siswa untuk menyenangi pelajaran Biologi yang sebelumnya belum pernah didapatkan secara khusus.

Untuk memecahkan masalah mengapa prestasi Biologi kurang memenuhi syarat disebabkan banyak siswa yang kurang menguasai dasar-dasar ilmu Biologi terutama di kelas X. Hal ini karena siswa kurang memperhatikan hal yang disampaikan guru. Dalam mempelajari ilmu Biologi harus ada kesinambungan hasil eksperimen di laboratorium dan kenyataan yang dihadapi siswa melalui teori.

Untuk mengajak siswa menyenangi ilmu Biologi penulis berusaha menggunakan metode eksperimen yang dapat dilakukan berkelompok atau individu dimana pengawasan langsung dilakukan untuk tiap siswa.

Dari kegiatan eksperimen ini siswa diharapkan memahami ilmu Biologi yang pada akhirnya dapat menigkatkan prestasi belajarnya, terutama bagi siswa yang akan memilih jurusan IPA pada kelas XI nantinya. Siswa akan terampil mengunakan alat menyimpulkan hasil eksperimen dan dapat melakukan penelitian sendiri.

B. Rumusan Masalah

Permasalahan mendasar dalam penelitian ini adalah hampir sebagian besar siswa kelas X kurang terampil dalam melaksanakan praktikum, padahal dalam metode eksperimen membutuhkan ketrampilan menggunakan alat, mengamati dan menyimpulkan hasil percobaan. Untuk menunjang teori yang tidak kasat mata dan kasat mata secara operasional masalah dalam penelitian ini dapat dijabarkan sebagai berikut:

a. Apakah strategi penyampaian dan pengelolaan pembelajaran yang dikembangkan dapat melatih siswa kelas X mengenal alat dan bahan yang ada di laboratorium Biologi?

b. Apakah strategi penyampaian dan pengelolaan pembelajaran yang dikembangkan dapat menimbulkan minat belajar siswa kelas X?

c. Apakah strategi penyampaian dan pengelolaan pembelajaran yang di kembangkan dapat menjadikan siswa terampil menggunakan alat?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan utama penelitian ini menghasilkan metode pembelajaran yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan prestasi siswa kelas X yang selanjutnya disebut sebagai metode eksperimen. Metode eksperimen pada dasarnya tidak hanya terbatas dalam bidang Biologi saja.. Secara rinci tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui:

a. Strategi penyampaian dan pengelolaan pembelajaran Biologi yang dapat menumbuhkan kesadaran siswa kelas X tentang pentingnya mengenal alat dan bahan Biologi yang ada di laboratorium.

b. Strategi penyampaian dan pengelolaan pembelajaran Biologi yang dapat menimbulkan minat belajar siswa kelas X.

c. Strategi penyampaian dan pengelolaan pembelajaran yang dapat meningkatkat ketrampilan menggunkan peralatan laboratorium.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai berikut.

1. Manfaat praktis

a. Bagi Penulis

Meningkatkan kemampuan dalam merancang dan mengefektifkan pembelajaran metode eksperimen di laboratorium

b. Bagi Siswa

Meningkatkan kemampuan melakukan eksperimen dalam proses belajar untuk meningkatkan prestasi.

c. Bagi Teman Sejawat

Sebagai salah satu variasi model pembelajaran metode eksperimen.

2. Manfaat Teoritis

Sumbangan pengembangan model pembelajaran metode eksperimen di laboratorium.

E. Ruang lingkup Penelitian

Penelitian ini terbatas pada ruang lingkup sebagai berikut:

1. Penelitian dilaksanakan di kelas X.1 SMAN I GIRI Banyuwangi semester 1 tahun pelajaran 2008-2009.

2. Pembelajaran berfokus pada ketrampilan menggunakan alat dan mengenal bahan yang ada di laboratorium Biologi.

F. Asumsi Penelitian

1. Siswa kelas X SMA belum mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang lengkap tentang alat dan bahan yang ada di laboratorium Biologi.

2. Melakukan eksperimen merupakan aktivitas produktif-kretif dan fungsional bagi kehidupan siswa.

3. Model pembelajaran metode eksperimen sebagai salah satu model pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan siswa melakukan eksperimen.

G. Definisi Istilah

Agar tidak terjadi kesalahan penafsiran terhadap penelitian ini, perlu disajikan definisi beberapa istilah yang menjadi kata kuncinya. Istilah-istilah yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Melakukan eksperimen di laboratorium merupakan aktivitas belajar yang membutuhkan ketrampilan untuk mencapai hasil yang maksimal. Terlebih dahulu harus mengenal alat-alat dan bahan yang ada di laboratorium, cara menggunakan alat dan resiko dari alat dan bahan tersebut.

2. Dalam metode eksperimen diperlukan ketrampilan khusus yang dapat dimiliki siswa dengan seringnya melaksanakan percobaan baik secara individu maupun berkelompok.

3. Model pembelajaran metode eksperimen adalah sebuah modal pembelajaran yang menekankan pada proses keterlibatan aktif siswa secara kritis, kreatif dalam pembelajaran dari tahap praeksperimen, saat eksperimen sampai pasca eksperimen sehingga menghasilkan produk berupa laporan kegiatan yang berkualitas.

4. Proses eksperimen adalah keterlibatan aktif siswa dalam keseluruhan prosedur kegiatan belajar mengajar melaksanakan eksperimen pada semua tahap pembelajaran yaitu pra eksperimen, saat eksperimen dan pasca eksperimen.

5. Hasil belajar adalah pencapaian kemampuan melakukan eksperimen yang dituangkan dalam bentuk laporan hasil eksperimen.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Pembelajaran Biologi

Dalam kegiatan belajar mengajar kelas merupakan tempat yang mempunyai sifat khusus, yang berbeda dengan tempat lain. Belajar adalah kegiatan yang memerlukan energi dari otak. Disamping itu juga memerlukan adanya konsentrasi yang tinggi dan perhatian dari guru.

Sehubungan dengan itu maka para pendidik selalu mencari akal bagaimana menciptakan suasana sebuah kelas agar dapat menunjang kegiatan belajar-mengajar yang menyenangkan. Kegiatan belajar-mengajar dapat berjalan dengan baik apabila memenuhi syarat diantaranya pola tempat duduk, fasilitas fisik dalam kelas, ukuran ruang belajar, cahaya, fentilasi, suara (kegaduhan) dan hal-hal yang berpengaruh terhadap proses belajar mengajar (Suharsimi, 1987:79).

Pengajaran ilmu Biologi berpusat pada siswa memberi kebebasan agar siswa dapat memilih kegiatan yang dirasa perlu atas tanggung jawab sendiri. Belajar bebas mempunyai syarat-syarat yang harus dipenuhi, yakni:

a. Adanya masalah: Suatu masalah yang menarik dan bermakna bagi siswa. Masalah itu harus real yang ada kaitannya dengan kehidupan siswa, sehingga ada hasrat untuk memecahkannya. Karena banyak siswa yang belajar tanpa mengetahui apa makna sebenarnya dari yang dipelajarinya. Siswa belajar karena hanya takut pada guru atau orang tua.

b. Kepercayaan akan kesanggupan manusia: Sarat ini mengenai guru, guru harus yakin akan kesanggupan siswa untuk berbuat baik, belajar sendiri, dan bertanggung jawab atas perbuatannya. Biasanya guru kurang percaya pada siswa dan mengatur pelajaran dengan cermat. Untuk mengatasi hal ini, tujuan belajar dirumuskan secara spesifik. Kesulitan belajar diuraikan menjadi langkah-langkah yang mudah dipahami siswa. Siswa diberi kesempatan untuk mengembangkan dan kebebasan memilih sendiri cara belajarnya.

c. Keterbukaan guru: Guru harus jujur menampakkan perasaan yang sebenarnya sebagai manusia, misalkan: suka, duka, marah dan gembira. Guru harus bertindak sebagai manusia terhadap manusia lainnya.

d. Menghadapi murid: Guru harus menerima murid menurut kepribadian masing-masing, menghargai sifat mereka walaupun kadang menjengkelkan, menyenangkan. Perasaan negatif dipandang sebagai fase ke arah kelakuan yang positif (Nasution, 2003:85).

B. Model Pembelajaran Metode Eksperimen

Dengan hasi penilaian yang diperoleh, dapat diketahui siswa-siswa mana yang sudah berhak melanjutkan pelajarannya karena sudah berhasil menguasai bahan, mampu mengetahui siswa-siswa yang belum menguasai bahan. Dengan petunjuk hasil tes, guru dapat memusatkan perhatiannya kepada siswa yang belum berhasil, apalagi jika tahu akan sebab-sebabnya, guru akan memberikan perhatian yang memusat dan memberikan perlakuan yang lebih teliti sehingga keberhasilan selanjutnya dapat diharapkan. (Suharsimi, 2003:7)

Bagan 2.1 Prosedur Model Pembelajaran Eksperimen di Laboratorium

· Penyusunan Perencanaan Pembelajaran (Skenario Pembelajaran, LKS)

· Penyiapan materi, media, dan sumber

· Penyusunan Instrumen Penilaian

PRA PEMBELAJARAN

clip_image001
clip_image002

PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

1. Menjelaskan Tata Tertib Laboratorium Biologi

2. Mengenalkan Alat dan Bahan yang digunakan

3. Bertanya jawab tentang bahan dan alat yang digunakan

4. Bertanya jawab tentang pengalaman siswa bekerja di laboratorium

5. Membimbing siswa mengadakan eksperimen

clip_image003

PRA EKSPERIMEN

clip_image004

SAAT EKSPERIMEN

1. Membimbing dan mengarahkan siswa secara aktif dalam melakukan eksperimen

2. Mengajak seluruh siswa untuk ikut mengamati dan menganalisa hasil eksperimen

3. Membimbing siswa melakukan percobaan ulang bila eksperimennya gagal

4. Membimbing siswa dalam membuat laporan hasil eksperimen dan membuat kesimpulan

clip_image005

PASCA EKSPERIMEN

Membimbing siwa untuk membuat kesimpulan hasil percobaan dan menjawab pertanyaan.

clip_image006

C. Indikator Keberhasilan Pembelajaran

Indikator keberhasilan peningkaatan prestasi dengan mengadakan eksperimen di laboratorium adalah sebagai berikut:

1. Peningkatan Kemampuan Mengadakan Eksperimen di Laboratorium

Peningkatan kemampuan mengadakan eksperimen di laboratorium merupakan ukuran keberhasilan dari pembelajaran yang dilaksanakan guru melalui pencapaian hasil belajar baik secara kualitatif maupun kuantitatif.

2. Efektivitas Proses Interaksi Belajar Mengajar

Efektivitas proses interaksi belajar mengajar yang berfokus pada prosedur proses eksperimen siswa selama pembelajaran berlangsung dari tahap pra eksperimen, saat eksperimen, hingga pasca eksperimen.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan Rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Hal ini sesuai dengan karakteristik permasalahan dan tujuan penelitian yakni untuk memperbaiki dan meningkatkan prestasi belajar Biologi menggunakan metode eksperimen. McNiff (1992:4) juga menyatakan bahwa penlelitian tindakan adalah suatu strategi untuk meningkatkan pendidikan (pembelajaran) melalui perubahan dengan mendorong guru untuk menyadari dan kritis terhadap praktik mengajar mereka, dan siap terhadap perubahan.

Atur pelaksanaan PTK ini sebagai berikut: (1) refleksi awal, (2) perencanaan tindakan, (3) pelaksanaan tindakan dan pengamatan, dan (4) refleksi: Kegiatan PTK selengkapnya dipaparkan pada bagan 3.1.

Bagan 3.1. Alur Penelitian Tindakan Kelas

clip_image007
clip_image008
clip_image009

B. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di kelas X.1 di SMA Negeri I Giri Banyuwangi. Diambilnya tempat penelitian ini atas dasar pertimbangan bahwa (1) siswa di kelas ini mempunyai kemampuan belajar di atas siswa yang lain dan mengalami kesulitan dalam mengadakan eksperimen di laboratorium Biologi dan (2) peneliti merupakan guru PPL di kelas tersebut.

C. Instrumen Penelitian

Dalam PTK, instrumen utama penelitian adalah peneliti. Hal itu sesuai dengan pendapat Bogdan dan Biklen (1982) bahwa peneliti adalah orang yang paling mengetahui seluruh data dan cara menyikapinya. Untuk mendukung dan melengkapi instrumen utama digunakan instrumen penunjang (Moleong, 1995). Instrumen penunjangnya adalah pedoman observasi, catatan lapangan, dan dokumentasi. Pedoman observasi dan catatan lapangan digunakan untuk merekam dan mengumpulkan data proses keterlibatan aktif siswa dalam eksperimen di laboratorium.

D. Jenis Data dan Analisisnya

Data yang diperoleh dari instrumen tersebut meliputi data proses dan hasil belajar. Data proses dan hasil belajar siswa dikelompokkan berdasarkan kelompok siswa dalam kelas yang terdiri atas 3 kelompok, yaitu kelompok atas/ cepat 10 anak, kelompok tengah/ sedang 20 anak, dan kelompok bawah/ lambat 15 anak. Selanjutnya, dianalisis dengan teknik analisis data kualitatif. Data utama yang dianalisis adalah data verbal dari peneliti, yakni berupa deskripsi proses dan hasil belajar siswa. Data penunjang adalah data dari hasil observasi, catatan lapangan, dan dokumentasi. Langkah-langkah analisis data adalah menelaah seluruh data yang terkumpul dari keseluruhan instrume, mereduksi data, dan menyimpulkan dan memverifikasi (Rofi’uddin, 1998:36).

Penafsiran makna data dari penyimpulan hasil penelitian ditentukan dengan kriteria keberhasilan penelitian berikut:

1. Hasil belajar siswa secara individual yang dinilai dari hasil tes sekurang-kurangnya mendapat nilai 60 atau pencapaian nilai dari masing-masing kelompok siswa (atas/ cepat, tengah/ sedang, dan bawah/ lambat) rata-rata sekurang-kurangnya 85 atau persentase pencapaiannya rata-rata 85%.

2. Persentase keterlibatan aktif siswa dalam metode eksperimen secara individual sekurang-kurangnya 60% atau persentase pencapaian dari masing-masing kelompok siswa (atas/ cepat, tengah/ sedang, dan bawah/ lambat) rata-rata sekurang-kurangnya 85%.

E. Pengecekan Keabsahan Data

Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan dua cara sebagaimana yang dikemukakan oleh Silverman (1995:156) berikut: Pertama, membandingkan jenis data yang berbeda, seperti data kualitatif dan data kuantitatif dan sumber data yang berbeda, seperti data hasil observasi dan tanya jawab untuk melihat apakah memiliki kecocokan antara data yang sama dengan data yang lain. Cara ini disebut dengan Triangulasi Data.

Kedua, mencocokkan kembali data yang yang diperoleh kepada subjek terteliti. Cara ini yang disebut Validitas responden. Kedua cara ini yang digunakan peneliti untuk mengecek keabsahan data dalam penelitian. Selain itu, untuk menguatkan data penelitian ini, peneliti melakukan pemeriksaan silang dengan cara melakukan tukar pendapat dengan teman sejawat atau guru yang bertindak sebagai kolaborator, mengklarifikasikan kembali kepada subjek, meninjau ulang catatan lapangan, merenungkan kembali bagian-bagian fenomena penting selama tindakan, dan menyempurnakannya sehingga diperoleh data secara lengkap dan utuh.

F. Prosedur dan Jadwal Kegiatan Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan secara bersiklus. Siklus yang dilaksanakan dalam penelitian ini adalah dua siklus. Siklus Pertama dilaksanakan empat kali pertemuan, tiap pertemuan 2 X 45 menit. Siklus Kedua dilaksanakan dua kali pertemuan, tiap pertemuan 2 X 45 menit. Prosedur masing-masing siklus teridiri atas (1) refleksi awal, (2) perencanaan tindakan, (3) pelaksanaan tindakan dan pengamatan, (4) refleksi. Deskripsi masing-masing siklus adalah sebagai berikut:

1. Siklus 1

Untuk Siklus 1 dilakukan dalam empat pertemuan. Pertemuan pertama adalah Pengenalan Tata Tertib Laboratorium Biologi, Pembagian Kelompok Kerja, Pengenalan Alat dan Bahan, Cara Mengamati Percobaan, dan Cara Membuat Laporan Hasil Eksperimen. Pertemuan Selanjutnya, Melakukan Eksperimen sesuai yang diinstruksikan dalam LKS. Oleh krena itu, Metode Eksperimen yang dijadikan model dapat bersifat menstimulasi, bukan sebagai bentuk tetap yang dicontoh atau diikuti. Prosedur penelitian tindakan Siklus 1 ini adalah sebagai berikut:

a. Refleksi Awal

Pada tahap ini permasalahan yang muncul adalah kesulitan siswa dalam belajar Biologi baik dalam laboratorium maupun di dalam kelas. Penyebabnya adalah pembelajaran yang kurang proporsional, yaitu: (1) pembelajaran kurang panduan yang jelas, (2) pembelajaran Biologi kurang dalam pemahaman laboratorium, (3) asumsi guru belajar Biologi hanya diminati oleh siswa dengan kemampuan intelejensia menengah ke atas, (4) proses pembelajaran yang kurang menyenangkan bagi siswa, yakni guru menerangkan, kemudian siswa mengerjakan latihan soal.

b. Perencanaan Tindakan

Perencanaan tindakan untuk meningkatkan prestasi belajar Biologi melalui Metode Eksperimen dengan cara menyusun skenario pembelajaran dan LKS.

c. Pelaksanaan Tindakan dan Pengamatan

Pelaksanaan tindakan ini dilakukan sesuai dengan rencana. Pada Siklus 1, tekanan utama pada pengenalan alat dan bahan yang ada di laboratorium Biologi dan melakukan eksperimen secara benar, membuat laporan eksperimen dan menjawab pertanyaan.

Pengamatan atas pelaksanaan tindakan melibatkan teman sejawat sebagai kolaborator yaitu guru Biologi di sekolah tempat penelitian. Kolaborator melaksanakan pengamatan selama kegiatan pembelajaran berlangsung dengan fokus pada aktivitas guru dan siswa di kelas berdasarkan pedoman observasi yang telah disiapkan dan membuat catatan lapangan secara komprehensif. Pengamatan yang dilakukan untuk mengetahui kesesuaian pelaksanaan dengan rencana tindakan yang ditetapkan sebelumnya. Selain itu, hasil pengamatan akan dibahas dan didiskusikan sebagai dasar perbaikan penyusunan rencana tindakan selanjutnya hingga mencapai hasil yang optimal.

d. Merefleksi

Pada tahap ini data yang diperoleh dari hasil pengamatan, catatan lapangan, LKS Eksperimen, digunakan sebagai bahan refleksi. Kegiatan refeleksi dilakukan dengan cara: (1) menganalisis data yang terkumpul dari hasil pengamatan, catatan lapangan, dan dokumentasi hasil karya siswa berdasarkan pedoman analisis, (2) mendiskusikan atau membahas hasil analisis yang meliputi kesesuaian antara perencanaan dan tindakan, kendala, dan temuan lain selam pembelajaran, (3) menguraikan kendala yang ditemukan terkait dengan tindakan dan pemecahan dari efektivitas pencapaian perencanaan.

Berdasarkan hasil refleksi tersebut, digunakan sebagai bahan perbaikan dan penyempurnaan perencanaan tindakan Siklus 2.

2. Siklus 2

Siklus 2 dilaksanakan melalui prosedur seperti pada Siklus 1 dengan fokus penyempurnaan atau perbaikan tindakan pada Siklus 1 yang belum terlaksana secara optimal atau belum berhasil. Penyempurnaan atau perbaikan pada Siklus 2 ini adalah: (1) Tahap Pra Eksperimen, yakni kegiatan perbaikan dilakukan secara individual, bukan berkelompok seperti pada Siklus 1, (2) Tahap Pasca Eksperimen, yakni kegiatan membuat laporan hasil eksperimen dan menjawab pertanyaan sehingga semua siswa dapat mengulang kembali percobaannya.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Pembelajaran pada Siklus 1 dilaksanakan selama 4 kali pertemuan, sedangkan Siklus 2 dilaksanakan selama 2 kali pertemuan. Setiap jam pelajaran 45 menit. Pembelajaran dari kedua pertemuan itu adalah melaksanakan eksperimen di laboratorium, membuat laporan eksperimen, dan latihan soal. Pembelajaran ditekankan pada semua aspek di atas.

Tujuan yang dikembangkan berdasarkan tujuan pembelajaran umum. Yakni siswa mampu melaksanakan eksperimen di laboratorium dengan terampil, menggunakan alat-alat dengan benar, mengetahui bahan-bahan laboratorium yang berbahaya dan tidak, dapat membuat laporan praktikum dengan benar. Siswa dapat menghubungkan teori dan kenyataan dari hasil eksperimennya. Dari tujuan tersebut, tujuan pembelajaran khusus yang ingin dicapai adalah: (1) siswa dapat melaksanakan eksperimen di laboratorium Biologi dengan benar, (2) siswa dapat memahami teori dan praktek sehingga akan meningkatkan prestasi belajarnya.

Materi pokok pembelajaran berupa pengamatan hasil eksperimen pada setiap pertemuan. Sebagai bahan awal untuk mengkaitkan pengalaman dan pengetahuan tentang ilmu Biologi dan sebagai landasan siswa untuk belajar Biologi lebih lanjut.

Pada Siklus 1, pertemuan pertama dijadikan dasar pembelajaran Biologi dengan mengenali alat dan bahan, dilanjutkan eksperimen mengenai materi dan perubahannya, sampai dengan membuat laporan dan menjawab soal. Pertemuan kedua mengenai reaksi Biologi. Sedangkan pertemuan ketiga, mengenai perbedaan unsur senyawa dan campuran. Pada pertemuan keempat, mengenai partikel materi.

Pada Siklus 2, pertemuan pertama dan kedua mengulang eksperimen yang dilakukan pada Siklus 1 dengan harapan siswa lebih memahami apa yang seharusnya dijadikan dasar dalam belajar Biologi.

Tahap saat eksperimen, baik pada Siklus 1 maupun 2, guru memberikan kesempatan kepada siswa melakukan eksperimen dan pengamatan sendiri. Walaupun kadang hasil eksperimen siswa tidak sesuai dengan kenyataan. Saat siswa mulai melakukan eksperimen sendiri, guru secara bergiliran menanyakan hasil kerja tiap kelompok. Siswa secara bebas ada yang meminta bimibingan guru dengan mengacungkan jari dan menyampaikan kesulitannya untuk membuat laporan eksperimen. Guru lebih banyak memposisikan dirinya sebagai mitra belajar siswa atau bersifat egaliter yang dalam kurikulum 2004 disebut pendekatan kemitraan (Depdiknas, 2003).

Masing-masing siswa mampu mengembangkan idenya dalam menemukan fakta. Siswa secara sungguh-sungguh ingin mengetahui hasil dari eksperimennya. Ada siswa yang menemukan hasil eksperimennya tidak sesuai dengan kenyataan, maka siswa akan mengulang kembali eksperimennya. Yang pada akhirnya akan menemukan hasil yang benar atau mendekati kebenaran.

Setiap kelompok siswa secara bergantian menuliskan atau membacakan hasil eksperimen yang diperoleh dihadapan teman sekelas dan teman sejawat secara bergantian. Masukan dan balikan yang diberikan oleh teman berupa data pengamatan percobaan sejenis. Di samping itu, siswa juga mendapat masukan dan balikan dari guru terutama kepada siswa kelompok tengah dan kelompok bawah.

1. Hasil Belajar

Penliaian atas hasil belajar siswa sebagai wujud peningkatan dari penggunaan Metode Eksperimen

2. Proses Belajar

Penilaian atas proses belajar siswa berdasarkan keseluruhan prosedur proses yang terancang dalam model pembelajaran Metode Eksperimen setelah diimplementasikan menunjukkan adanya peningkatan. Peningkatan ini berupa frekuensi keterlibatan aktif siswa dalam proses melakukan eksperimen, tahap pra eksperimen, saat melakukan eksperimen, hingga pasca eksperimen.

Frekuensi keterlibatan aktif siswa tersebut pada tahap pra eksperimen meliputi aktivitas (1) mendengarkan penjelasan guru dan bertanya tentang prosedur eksperimen di laboratorium Biologi, (2) tata tertib laboratorium Biologi, (3) alat dan bahan yang digunakan di laboratorium Biologi dan bahaya yang ditimbulkan bila salah penggunaan, (4) bertanya jawab pengalaman siswa ketika masih di SMP.

Tahap saat melaksanakan eksperimen meliputi aktivitas (1) menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan, (2) membaca ulang setiap langkah kerja dari LKS, (3) melakukan pekerjaan sesuai dengan prosedur kerja dari LKS, (4) mengamati hasil eksperimen, (5) mencatat hasil eksperimen.

B. Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa keberhasilan pembelajaran untuk meningkatkan prestasi belajar Biologi menggunakan Metode Eksperimen di laboratorium dan peningkatannya signifikan.

Peningkatan prestasi belajar yang diwujudkan dengan pencapaian hasil belajar siswa rata-rata nilai yang diperoleh yaitu pada Siklus 1 Siswa Kelompok Cepat, Siklus 1 Pertemuan 1 adalah 82,8. Siklus 1 Pertemuan 2 adalah 86,0. Siklus 1 Pertemuan 3 adalah 82,8. Siklus 1 Pertemuan 4 adalah 86,0. Sedangkan Siklus 2 Pertemuan 1adalah 83,8. Siklus 2 Pertemuan 2 adalah 86,1.

Pencapaian hasil belajar siswa rata-rata nilai yang diperoleh pada Siklus 1 Siswa Kelompok Sedang, Siklus 1 Pertemuan 1 adalah 72,5. Siklus 1 Pertemuan 2 adalah 75,5. Siklus 1 Pertemuan 3 adalah 72,5. Siklus 1 Pertemuan 4 adalah 75,5. Sedangkan Siklus 2 Pertemuan 1adalah 73,5. Siklus 2 Pertemuan 2 adalah 76,5.

Pencapaian hasil belajar siswa rata-rata nilai yang diperoleh pada Siklus 1 Siswa Kelompok Lambat, Siklus 1 Pertemuan 1 adalah 52,5. Siklus 1 Pertemuan 2 adalah 63,1. Siklus 1 Pertemuan 3 adalah 52,5. Siklus 1 Pertemuan 4 adalah 63,1. Sedangkan Siklus 2 Pertemuan 1adalah 61,2. Siklus 2 Pertemuan 2 adalah 64,1.

Pada Siklus 1 Siswa Kelompok Sedang Pertemuan 1 adalah 72%, pertemuan 2 adalah 93,7%, pertemuan 3 adalah 93,7%, pertemuan 4 adalah 94,3%, dan siklus 2 pertemuan 1 adalah 94,9%, pertemuan 2 adalah 95,5%.

Pada Siklus 1 Siswa Kelompok Lambat Pertemuan 1 adalah 76,0%, pertemuan 2 adalah 91,5%, pertemuan 3 adalah 76,0%, pertemuan 4 adalah 91,5%, dan siklus 2 pertemuan 1 adalah 88,7%, pertemuan 2 adalah 92,9%.

Berdasarkan pencapaian di atas, bahwa peningkatan rata-rata nilai hasil belajar dari Siklus 1 ke Siklus 2 untuk Siswa Kelompok Cepat adalah 2,0. Peningkatan rata-rata nilai hasil belajar dari Siklus 1 ke Siklus 2 untuk Siswa Kelompok Sedang 1,0. Sedangkan peningkatan rata-rata nilai hasil belajar dari Siklus 1 ke Siklus 2 untuk Siswa Kelompok Lambat adalah 4,9.

BAB V

PENUTUP

  1. Simpulan

Sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian, secara umum dapat disimpulkan bahwa melalui model pembelajaran Metode Eksperimen, kemampuan siswa dalam belajar Biologi meningkat. Secara khusus dapat disimpulkan:

1. Peningkatan proses belajar siswa tampak pada aktivitas siswa dalam keterlibatan aktif pada tahap pembelajaran pra eksperimen, saat eksperimen, hingga pasca eksperimen. Aktivitas tahap pra eksperimen meliputi (1) pemahaman tata tertib laboratorium Biologi, (2) pengenalan alat dan bahan, (3) tanya jawab tentang cara kerja eksperimen. Aktivitas saat melakukan eksperimen adalah (1) menyiapkan alat dan bahan yang sudah tersedia, (2) membaca ulang cara kerja sampai benar-benar dipahami, (3) melakukan eksperimen, (4) mencatat hasil eksperimen. Aktivitas tahap pasca eksperimen adalah diskusi hasil pengamatan, menjawab pertanyaan dari LKS, dan membuat laporan hasil eksperimen.

2. Peningkatan hasil belajar siswa tampak pada hasil laporan kegiatan, menjawab pertanyaan dari LKS, dan prestasi belajar pada saat ulangan. Dari peningkatan prestasi belajar siswa, bahwa Metode Eksperimen di laboratorium sangat menunjang untuk mengkaitkan mata pelajaran Biologi antara teori, praktek, dan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan Metode Eksperimen, pelajaran Biologi dapat lebih mudah dipahami.

  1. Saran

1. Kepada guru Biologi yang ingin meningkatkan kemampuan belajar siswa dalam bidang Biologi, jika latar atau konteks siswanya sama dengan kondisi siswa terteliti, disarankan menggunakan model pembelajaran Metode Eksperimen seperti ini.

2. Kepada guru Biologi disarankan agar dalam pembelajaran Biologi menekankan keterlibatan siswa secara aktif pada eksperimen di laboratorium mulai dari pra eksperimen, saat melakukan eksperimen, hingga pasca eksperimen.

3. Kepada Kepala Sekolah, disarankan agar dapat memfasilitasi modal pembelajaran ini sesuai dengan signifikansi hasil penelitian yang telah dilakukan melalui MGMP sejenis di sekolah.

4. Bagi peneliti lain yang ingin mengadakan penelitian sejenis atau lanjutan, disarankan agar dapat melengkapi kekurangan dari peneliti ini, yaitu dengan melengkapi media pembelajaran atau sumber bahan belajar yang lebih lengkap.

Daftar Rujukan

Depdikbud. 1999. Pengelolaan Pengajaran Bagi Guru Mata Pelajaran. Jakarta: Depdikbud.

Depdiknas. 2003. Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penliaian Mata Pelajaran Biologi. Jakarta: Depdiknas.

Elliot, J. 1991. Action Research for Educational Change. Philadelphia: Open University Press.

McNiff. 1992. Action Research: Principles and Practice. New York: Chapman and Hall Inc.

Moleong, L.J. 1995. Metodologi Penelitan Kualitatif. Bandung: P.T. Remaja Rosdakarya.

Nasution. 2003. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar. Jakarta: P.T. Bumi Aksara.

Rismiati dan Rusmiati. 2000. Panduan Pembelajaran di Laboratorium Biologi. Jakarta: P.T. Bina Wiraswasta Insan Indonesia.

Rofi’uddin, A. Model Pendidikan Berpikir Kritis-Kreatif untuk Siswa Sekolah Dasar. Malang: Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang.

Sentot Budi R. 1986. Praktikum Biologi Dasar. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.

Silverman, D. 1995. Interpreting Qualitative Data: Methods for Analysing Talk, Text, and Interaction. London: Sage Publication Ltd.

Unggul Sudarmo. 2004. Biologi untuk SMA Kelas X. Jakarta: Eerlangga.

| | 0 komentar | Read More

HUBUNGAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA DENGAN PRESTASI BELAJAR FISIKA PADA POKOK BAHASAN KALOR (3)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1.Rancanagan Penelitian

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kwalitas belajar Fisika, relasi prestasi belajar Matematika dengan prestasi belajar Fisika pada pokok bahasan tentang kalor siswa kelas II MTs Negeri Srono tahun 2005/2006. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah korelasional

X

clip_image001

Y

Penelitian ini mengungkap gambaran tentang kejadian yang ada pada saat sekarang, maka dapat dikatakan merupoakan penelitian noneksperimental, bekenaan dengan berhubungan antar berbagai variable, menguji hipotesis dan menghubungkan generalisasi, prinsif-prinsif atau teori-teori yang memiliki validitas univesal. Penelitian diskriptif berkenaan dengan hubungan-hubungan fungsional, penelitian semacam ini disebut penelitian relasional

3.2.Variabel Penelitian

Variabel yang tercakup dalam penelitian ini meliputi dua macam yaitu prestasi belajar Matematika dan prestasi belajar Fisika pada pokok bahasan tentang kalor Variabel ini dapat digolongkan menjadi dua macam :

v Variabel bebas : Prestasi belajar Matematika (diambil dari nilai rata-rata ulangan harian)

v Variabel terikat : Prestasi belajar Fisika pada pokok bahasan tentang kalor (diambil dari nilai harian pada pokok bahasan tentang kalor)

Hubungan antar variabel yang dicari dalam penelitian ini dapat dilihat dalam diagram berikut :

clip_image002Prestasi belajar Matematika

 

Prestasi belajar Fisika

Keterangan diagram

Dari gambar diatas terlihat bahwa dalam penelitian ini akan dicari hubungn prestasi belajar Matematika dengan prestasi belajar Fisika siswa.

3.3.Populasi dan Sampel

3.3.1. Populasi

Menurut Suharsimi Arikunto yang dimaksud dengan Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian (1992:102). Apabila sesorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian maka penelitianya merupakan penelitian populasi. Dalam hal ini populasinya adalah seluruh siswa kelas II MTs Negeri Srono tahun pelajaran 2005/2006 yang berjumlah 183 siswa.

3.3.2. Sampel

Suharsini Arikuntro memngatakan bila kita hanya akan meneliti sebagian dari populasi maka penelitianya disebut penelitian sample. Sample adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti (1992:104).

Dalam menentukan jumlah sample, sebenarnya ridak ada aturan yang tegas berapa besar kecilnya sample yang yang akan diambil dalam penelitian. Asumsi ini dipertegas oleh pendapat Sutrisno Hadi yang mengatakan, “Sebenarnya tidak ada suatu ketetapan yang mutlak berapa persen sample harus diambil dari populasi. Ketiadaan ketetapan yang mutlak ini tidak perlu menimbulkan keragu-raguan pada seorang peneliti” (1984:72).

Berdasarkan pendapat diatas, peneliti menetapkan yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah 61 siswa kelas II MTs Negeri Srono tahun pelajaran 2005/2006.

Oleh Karena hasil hasil sampel itu harus bisa menggeneralisasikan pada populasinya maka sampel yang diambil harus repsentatif, yakni mewakili populasi dalam semua ciri-ciri atau karakteristik yang ada pada populasi, tercermin pada sampel.

Mengingat kepentingan diatas maka pengambilan sampel harus mengkuti teknik-teknik yang telah ditentukan. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode Proporsional random sampling dengan cara undian. Merode ini merupakan gabungan antara metode proporsional dan metode random sampling. Hal ini sesuai dengan pendapat Suharsini Arikunto yang mengatakan bahwa, “Pada umumnya teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel penelitian memang tidak tunggal tetapi merupakan gabungan dari 2 atau 3 teknik sampling”(1992:112). Selanjutnya Sutrisno Hadi mengatakan bahwa yang dimaksudkan proporsional random sampling adalah bahwa besar kecilnya sub sampel mengikuti perbandingan (proporsi) besar kecilnya sub populasi, dan individu-individu yang dutugaskan dalam tiap-tiap sub populasi diambil secara random dari sub populasinya(1984:82).

Proporsi tersebut ditentukan dengan rumus :

clip_image003

3.4.Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data yang mencerminkan variabel penelitian diperlukan adanya metode penangkap data sebagai alat pengumpul data. Dalam penelitian ini menggunakan metode dokumentasi.

Dengan metode dokumentasi ini, peneliti ingin memperoleh data-data yang telah didokumentasikan yaitu data tentang prestasi belajar Matematika dan data prestasi belajar Fisika pada pokok bahasan tentang kalor. Data tersebut diperoleh dari guru bidang studi Matematika kelas II dan guru bidang studi Fisika kelas II MTs Negeri Srono semester I tahun pelajaran 2005/2006.

3.5.Teknik Analisis Data

Penelitian ini mencari hubungan prestasi belajar Matematika dengan prestasi belajar Fisika pada pokok bahasan tentang kalor, maka sebelum data dianalisis perlu diadakan uji persyaratan yaitu uji normalisasi.

Uji normalisasi dimaksud untuk mengetahui apakah data penelitian yang diperoleh dalam penelitian terdistribusi normal. Formulasi statistik yang digunakan adalah :

clip_image004

3.6. Pengujian Hipotesis

Secara umum pengujian hipotesis penelitian menggunakan korelasi product moment. Dalam hal ini korelasi product moment yang digunakan adalah sebagai berikut :

clip_image005

| | 0 komentar | Read More

HUBUNGAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA DENGAN PRESTASI BELAJAR FISIKA PADA POKOK BAHASAN KALOR (2)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Belajar

Belajar pada hakikatnya adalah kegiatan-kegiatan yng dilakukan secara sadar oleh seseorang yang menghasilkan perubahan tingkah laku pada individu yang sedang belajar. Perubahan ini terjadi akibat interaksi antar individu yang sedang belajar dengan lingkunganya. Jika interaksi ini dilakukan dengan sadar, maka individu yang sedang belajar akan mendapat pengalaman , baik itu berupa kesiapan mental dalam menghadapi situasi yang mungkin hampir sama atau dapat berupa terbentuknya kecakapan baru atau mungkin dapat berupa pengetahuan beberapa fakta baru . jadi belajar tidak hanya mengetahui setumpuk fakta yang disajikan, tetapi yang lebih penting dari pengetahuan tersebut haruslah membawa perubahan pada diri seseorang yang belajar. Perubahan akibat belajar adalah proses yang sadar dimana setidak-tidaknya seseorang menjadi sadar, bahwa ia telah walupun tidak semua perubahan diperlakukan adalah akibat dari hasil belajar. Belajar merupakan proses internal yang kompleks. Yang terlibat dalam proses internal tersebut adalah seluruh mental yang meliputi ranah-ranah koqnitif, afektif, dan psikomotorik. Proses belajar yang mengaktualisasikan ranah-ranah tersebut tertuju pada bahan pelajaran tertentu. Dari pengertian tersebut diatas, maka belajar merupakan suatu proses yang menyebabkan perubahan tingkah laku manusia yang berupa : kecakapan, sikap, kepribadian, dan kepandaian yang bukan disebabkan oleh proses yang bersifat fisiologis.

Kemampun yang akan diperoleh siswa dalam mempelajari bidang studi tertentu akan mempengaruhi penguasaan materi selanjutnya atau dengan bidang studi yang berkaitan dengan bidang studi tersebut.

2.2.Prestasi Belajar

Menurut Wayan Nurkancana, I.A. Warsiki, I.G.A. Widawati, prestasi adalah suatu hasil yang dicapai sesorang dalam usaha yang dilakukan, yang berupa pengetahuan, atau nilai-nilai kecakapan 1978:10). Sedangkan belajar belajar menurut Moh. Uzer Usman diartikan sebagai perubahan tingkah laku pada diri siswa berkat adanya interaksi antar individu dengan individu dan individu dengan lingkunganya (1992;2). Herman hudoyo juga berpendapat, “belajar adalah suatu proses yang aktif untuk mendapatkan pengetahuan atau pengalaman baru sehingga menyebabkan perubahan tingkah laku” (1990:1). Soedijarto (1981:61) mengemukakan hasil belajar adalah tingkat penguasaan yang dicapai oleh pelajar dalam mengikuti program belajar sesuai dengan tujuan pendidikan yang sudah ditetapkan. Pengukuran terhadap hasil belajar akan memperlihatkan sudah sampai dimana suatu tujuan sudah tercapai. Dalam penelitian ini dipakai istilah prestasi belajar yang menunjukan hasil belajar siswa didalam mempelajari bidang studi Fisika pada bahan kajian kalor. Jadi prestasi belajar sebagai hasil belajar disini adalah hanyalah menyangkut suatu ranah yang dikembangkan oleh Bloom yaitu ranah Koqnitif.

Mengenai ranah koqnitif yang merupakan indikator hasil belajar, menurut Bloom membagi ranah koqnitif menjadi enam kategori yang tersusun secara hirarkis yaitu : pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi.

2.3.Prestasi Belajar Fisika

Belajar Fisika merupakan suatu kegiatan yang tidak hanya memerlukan kemampuan verbal, tetapi lebih dari itu diperlukan tingkat pemahaman yang bersifat konseptual. Hal ini disebabkan Fisika pada hakekatnya berkenaan dngan fakta-fakta, konsep-konsep dan teori ilmiyah. Kadang-kadang dalam belajar Fisika dituntut kemampuan ilustrasi yang bersifat abstrak. Siswa tidak sekedar mampu menghafalkan rumusan-rumusan serta pengertian dasar, tetapi siswa dituntut untuk menggunakan konsep-konsep dan rumusan-rumusan itu dalam penyelesaian permasalahan yang bersifat aplikatif, atau siswa mampu mengorganisir semua konsep dan hukum-hukum Fisika yang telah diterimanya dalam rangka pemecahan suatu masalah.

2.4.Prestasi Belajar Matematika

Matematika adalah suatu system yang rumit tetapi tersusun sangat baik yang mempunyai banyak cabang (Roy Holand, 1989:96) selanjutnya Johnson dan Rising dalam bukunya yang berjudul “Guidelines for Teaching Matematics” mengatakan bahwa Matematika itu adalah pola berfikir, pola mengorganisasikan pembuktian yang logic, Matematika itu bahasa, Matematika itu alat Bantu bagi bidang studi lain ataupun bidang studi Matematika itu sendiri. (E.T. Ruseffendi, 1990:96).

Dalam perkembangan peradaban modern, Matematika memegang peran penting, karna dengan bantuan Matematika semua ilmu pengetahuan akan lebih sempurna. Matematika merupakan alat Bantu yang efesian dan diperlukan oleh semua ilmu pengetahuan, dan tanpa Matematika tidak akan mendapat kemajuan yang berarti.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini tidak lepas dari kemampuan Matematika sebagai alat Bantu yang sangat penting. Matematika memberikan pengetahuan pada siswa tentang bilangan, hubungan antar variable membuat grafik, membuat bangunan-bangunan geometric, merumuskan persaman-persamaan dan lain sebagainya. Berbagai cabang Matematika seperti kalkulus dan defferensial atau pun integral merupakan alat yang tepat dan sangat penting untuk menyelesaikan masalah-masalah yang timbul dalam ilmu Fisika.

Ditinjau dari materi Fisika yang memerlukan bantuan Matematika mengandung operasi-operasi yang baik, sederhana sampai operator yang kompleks. Untuk dapat melakukan operasi dari operator yang sederhana hingga operator-operator yang kompleks diperlukan kemampuan Matematika yang cukup memadai. Prestasi belajar Fisika yang dimaksud adalah kemampuan untuk memperoleh hasil dari operasi operator sederhana Matematika seperti operator penjumlahan(+), pengurangan(-), perkalian(x), pembagian(: ), akar (√) dan Pangkat(an). Karena responden dalam penelitian ini adalah siswa MTs yang masih mengenal bilangan-bilangan real saja dan belum mengenal bilangan kompleks.

2.5 Kalor

Kalor adalah salah satu bentuk energi yang berpindah dari benda kesuhu lebih tinggi ke benda bersuhu lebih rendah. Beberapa ilmuan yang membantah teori kalor sebagai zat alir diantaranya adalah benyamin Thompson (Count Rumford) (1753-1814),Robert Meyer (1884-1878), dan James Prescott Joule (1818-1889). Para ahli tersebut telah membuktikan bahwa kalor bukanlah suatu zat cair, tetapi merupakan suatu bentuk energi.

2.6 Kerangka Berfikir

Hubungan Prestasi Belajar Matematika Dengan Prestasi Belajar Fisika.

Matematika merupakan ilmu yang mengoperasikan bilangan-bilangan dalam menjelaskan suatu permasalahan. Dan Matematika ini merupakan raja, sekaligus pelayan dalam menjelaskan permasalahan yang ada dalam ilmu pengetahuan.

Cabang ilmu yang banyak mengunakan operasi Matematika adalah ilmu pengetahuan alam. Dalam hal ini termasuk Fisika yang paling banyak mengunakan operasi Matematika dari yang paling sederhana sampai operasi yang paling kompleks. Hal ini tidaklah berlebihan bila ditinjau dari materi Fisika yang banyak memuat materi, prinsif dan hukum-hukum yang banyak dinyatakan dalam rumus-rumus, sehingga untuk memahami materi Fisika ini diperlukan kemampuan memperoleh hasil operasi Matematika. Dengan menggunakan operasi Matematika yang sederhana maupun yang kompleks yang sangat membantu dalam mempelajari materi Fisika. Dengan kata lain yang memiliki kemampuan Matematika yang baik mempunyai harapan yang besar untuk memperoleh prestasi belajar Fisika yang baik.

2.7 Hipotesis

Hipotesa adalah asumsi dugaan mengenai suatu hal yang dibuat untuk menjelaskan hal yang sering dituntut melakukan pengecekanya. Berdasarkan hal tersebut, maka hipotesis penelitian ini adalah :

v Ada hubungan yang positif antara prestasi belajar Matematika dengan prestasi belajar Fisika siswa kelas II MTs Negeri Srono.

Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net
 
Copyright © 2015. Literatur Karya Ilmiah . N-A Shop.com
popok cuci ulang | popok cuci ulang | menstrualpad | Biohikmah | clodi banyuwangi| menspad | celana plastik | cloth diapers
Distributor Clodi 2015 Clodi murahCelana Lampin