Friday, January 21, 2011

STRATEGI MEMOTIVASI BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN FIQIH DENGAN MENGGUNAKAN METODE-METODE INSTRUKSIONAL

/ On : 3:57 AM/ Terimakasih telah menyempatkan waktu untuk berkunjung di BLOG saya yang sederhana ini. Semoga memberikan manfaat meski tidak sebesar yang Anda harapakan. untuk itu, berikanlah kritik, saran dan masukan dengan memberikan komentar. Jika Anda ingin berdiskusi atau memiliki pertanyaan seputar artikel ini, silahkan Tinggalkan Comentar Anda.
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Motivasi merupakan salah satu determinan dalam belajar, para ahli sukar mendefinisikannya, akan tetapi motivasi berhubungan dengan 1) arah perilaku, 2) kekuatan respon 3) ketahanan perilaku, atau berapa lama seseorang itu terus menerus berperilaku menurut cara tertentu
Didalam kegiatan belajar mengajar merupakan proses pendidikan yang memiliki tujuan tertentu. Secara umum pendidikan agama islam bertujuan untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengalaman peserta didik tentang agama islam, sehingga menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt serta berakhaq mulia dalam kehidupan pribadi, berorganisasi, berbangsa dan bernegara (GBPP PAI : 1004)
Untuk mencapai tujuan tersebut maka sebagai guru maupun orang tua dan khususnya guru dalam mengajar harus pandai-pandai untuk mengatur strategi dan khususnya strategi menanamkan motivasi belajar siswa agar siswa mempunyai motivasi atau semangat belajar. Motivasi belajar merupakan daya penggerak psikis dari dalam diri seseorang untuk melakukan kegiatan belajar dan menambah ketrampilan, pengalaman. Motivasi mendorong dan mengarahkan minat belajar untuk tercapai suatu tujuan, sehingga siswa akan bersungguh-sungguh belajar karena termotivasi untuk mencari prestasi.
Belajar adalah modifikasi akan memperteguh kelakuan melalui pengalaman  (learning is defided as the modification or strengthing of behavior trough experiencing). Menurut pengertian ini belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu tujuan. Belajar bukan hanya mengingat akan tetapi lebih luas dari itu yakni mengalami. (Oemar Hamalik 2004: 20).  Menurut Conbach balajar adalah perubahan tingkah laku atau ketrampilan dengan serangkaian kegiatannya siap mendengarkan, meniru, membaca dan lain-lain. Belajar akan lebih baik jika subyek atau siswa mengalami secara langsung. Chaplin dalam Dictionary of Psycologi yang mengemukakan sebagai akibat latihan dan pengalaman adalah perubahan (Muhibbin Syah). Selanjutmya ada yang mendefinisikan belajar sebagai berubah. Jadi belajar akan membawa suatu perubahan para individu- individu yang belajar.
Dalam pembelajaran motivasi sangat dibutuhkan maka pendidik harus pandai memberikan dorongan atau motivasi agar anak didik giat belajar. Maka dari itu dalam penelitian ini peneliti memilih strategi memotivasi belajar dengan menggunakan metode-metode instruksional. Dengan alasan metode instruksional mudah diterapkan akan tetapi belum tentu semua pendidik bisa menerapkan dengan baik. Metode instruksional merupakan kegiatan bagian dari strategi instruksional, metode ini berfungsi sebagai cara untuk menyajikan, mengarahkan, memberi contoh dan memberi latihan kepada siswa untuk mencapai tujun tertentu. Tetapi tidak setiap metode instruksional sesuai dengan tujuan instruksional tertentu, sehingga guru diupayakan mengetahui metode apakah yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan.
Metode-metode instruksional dijadikan sebagai cara memotivasi siswa untuk giat belajar, karena belum tentu semua guru bisa menggunakan metode instruksional yang baik dan terkadang masih kaku dengan menggunakan satu atau dua metode, dan padahal itu sangat penting dengan tujun agar siswa (peserta didik) tidak bosan dalam pembelajaran.
Berdasarkan latar belakang  diatas maka peneliti terdorong untuk mengadakan penelitian lebih lanjut tentang ”STRATEGI MEMOTIVASI BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARN FIQIH DENGAN MENGGUNAKAN METODE-METODE INSTRUKSIONAL”              
  
B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1.    Apakah tujuan dari penerapan metode-metode instruksional pada pembelajaran Fiqih  di MTs N Turen Malang?
2.    Apakah penerapan metode-metode instruksional dapat memotivasi siswa dalam proses pembelajaran fiqih di MTs N turen Malang?
3.    Bagaimana strategi memotivasi siswa belajar dengan menggunakan metode instruksinoal pada pembelajaran fiqih di MTs N turen Malang?
C.    Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah peneliti buat, maka penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut:
1.    Untuk mengetahui tujuan dari penerapan metode-metode instruksional pada pembelajaran Fiqih  di MTs N Turen Malang
2.    Untuk mengetahui apakah penerapan metode-metode instruksional dapat memotivasi siswa dalam proses pembelajaran fiqih di MTs N Malang
3.    Untuk mengetahui bagaimana strategi memotivasi siswa belajar dengan menggunakan metode instruksinoal pada pembelajaran fiqih di MTs N turen Malang
D.    Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan bisa memberikan konstribusi dalam upaya meningkatkan pembelajaran dan memberikan motivasi siswa didalam semua mata bidang pelajaran dan khususnya pada pembelajaran Fiqih di MTs N turen malang
Adapun kegunaan penelitian tersebut diantaranya adalah untuk :
a)    Bagi lembaga
Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan dilembaga sekaligus kerangka acuan dalam mengembangkan hal-hal yang perlu dikembangkan  dan berkaitan dengan penerapan metode-metode instruksional dalam meningkatkan motivasi belajar siswa pada pembelajaran Fiqih 
b)    Bagi guru
Sebagai masukan dalam merancang kegiatan belajar mengajar serta dalam memberikan bimbingan kepada siswa untuk dapat meningkatkan motivasi belajar  dalam meraih prestasi belajar siswa, serta memperhatikan metode-metode yang akan diterapkan dalam pembelajaran 
c)    Bagi siswa
Dengan adanya metode-metode instruksional dalam pembelajaran, siswa akan lebih memperhatikan, memahami, serta dapat mengembangkan pemikirannya, sehingga dapat memupuk inisiatif dan motivasi belajar serta berani bertanggung jawab. Dengan demikian siswa dapat berkreatifitas semaksimal mungkin dalam kegiatan belajar mengajar    
d)    Bagi peneliti
Dapat menambah wawasan dan khasanah keilmuan pada khususnya, sehingga dapat meningkatkan pengetahuan dengan wawasan yang lebih luas baik secara teoritis maupun secara praktis. Selain itu peneliti lebih mengetahui bagaimana cara memotivasi dan memberikan pemahaman pada siswa, sehingga dengan hal ini dapat dijadikan sebagai pengalaman, latihan, dan pengembangan dalam pelaksanaan pembelajaran

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.    Tujuan dari penerapan metode-metode instruksional
1. Arti Tujuan Instruksional
    Seseorang guru yang mengajar tanpa menetapkan tujuan instruksional terlebih dahulu tanpa berpedoman pada tujuan instruksional ibaratkan nahkoda berlayar tanpa mempergunakan kompasa yang mengakibatkan meraba-raba menentukan tujuan yang hendak dicapai. Penetapan tujuan instruksional merupkan syrat mutlak bagi guru dalam dalam memilih metode yang akan digunakan dalam menyajikan materi pengajaran. Tujuan instruksional merupakan sasaran yang hendak dicapai dalam pada akhirpengajaran, serta kemampuan yang harus dimilki siswa. Sasran tersebut dapat terwujud dengan menggunakan metode-metode pembelajaran. Definisi tujuan instruksional sangat banyak sekali diantaranya adalah:
Menurut Robert F (1962). Mager ialah tujuan instruksional sebagai tujuan perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh siswa pada kondisi tingkat kompetensi tertentu. Menurut eduard L. Dejnozka dan David E. Kapel (1981). Tujuan instruksional ialah suatu penyataan yang spesifik yang dinyatakan dalam perilaku atau penampila yang diwujudkan dalam bentuk tulsan untuk menggambarkan hasil belajar yng diharapkan. Perilaku ini dapat berupa fakta yang tersamar (cover). Contoh adalah:
a)    Siswa dapat mendemonstrasikan cara shalat isya’ dengan benar,
Tujuan instruksional sangant erat hubungnnya dengan pre-assesment, desain program, strategi mengajar, spesifikasi dari pemilihan medi proses mengajar dan penilaian. Manfaat tujuan instruksional (baik umum maupun khusus) adalah sebagai dasar dalam:
a)    Menyususn instrumen tes (pretes dan posttess)
b)    Merancang strategi instruksional
c)    Menyusun spesifikasi dan memilih media yang cocok
d)    Melaksanakan pproses belajar
Degan dilakukannya rincian tujuan instruksional secara tepat dan jelas, maka akan dapat dirumuskan suatu strategi belajar mengajar yang lebih cocok. Kemudian akan dapat dirumuskan cara-cara penilaian yang tepat, artinya penilaian tersebut betul-betul akan mengukur isi dari tujuan instruksional.  
2. Taksonomi tujuan instruksional
Taksonomi Bloom menyusun kategori enam level. Keenam level tersebut diurut dari tingkat intelektual yang rendah, (tingkat pengetahuan) ke tingkat yang paling komplek (tigkat evaluasi)
Menurut Jerold E. Kemp, (1977) taksonomi diartikan  sebagai salah satu metode klasifikasi tujuan instruksional secara berjenjang dan progresif ketingkat yang leb9ih tinggi. Taksonomi ini disusun oleh benyamin S. Bloom dan krathwood (964). Disini tujuan instruksional diklasifikasikan menjadi tiga kelompok atau kawasan dipecah lagi menjadi beberapa tingkat yang lebih khusus. Sampai saat ini taksonomi banyak dipakai sebagai dasar pengembangan tujuan instruksional diberbagai kegiatan latihan dan pendidikan, secara singkat masing-masing akan di uraikan sebagai berikut:
1.    Kawasan Kognitif
kawasan kognitif dan afektif adalah dua dari tiga kawasan tujuann instruksional yang memiliki klasifikasi atau rincian yang detail, sehingga seolah-olah merupakan suatu sistem tersendiri.
Tujuan kognitif berorientasi kepada kemampuan ” berfikir”, mencakup kemampuun intelektual yang lebih sederhana, yaitu mengingat, sampai pada kemampuan memecahkan masalah yang menuntutkan siswa untuk meghubungkan gagasan, metode dan prosedur yang sebelumya dipelajari untuk memecahkan masalah tersebut.
Kawasan kognitif terdiri dari enam tingkatan dengan aspek belajar yang berbeda-beda, keenam tingkat tersebut itu ialah:
     Tingkat Pengetahuan (knowledge)
Pada level ini siswa dituntut untuk mampu mengingat (recall) informasi yang telah diterima sebelumnya.
     Tingkat Pemahaman (Comprehension)
Pada tingkat ini pemahaman dihubungkan dengan kemampuan unutuk menjelaskan pengetahuan, informasi yang telah diketahui dengna kata-kata sendiri. Dalam hal ini siswa diharapkan menerjemahkan atau menyebutkan kembali yang telah didengar dengan kata-kata sendiri.
     Tingkat Penerapan (Aplication)
pada tingkat ini penerapan merupakan kemampuan untukmenggunakan atau menerpakan inforamsi yang telah dipelajari kedalam situasi ang baru, serta memecahkan berbagai masalah yang timbul dalam kehidupan sehari-hari.
     Tingkat analaisi (analisis)
dalam hal ini siswa diharapkan menunjukkan hububngan diantara berbagai gagasan dengan cara membandingkan gagasan tersebut dengan standar,prinsip atau prosedur yang telah dipelajari
     Tingkat Sintesis (Synthesis)
Tingkat ini untuk mengtahui kemampuan seseorang dalam mengaitkan dan menyatukan berbagai elemen dan unsur pengetahuan yang ada sehingga terbentuk pola baru yang lebih menyeluruh. Contohnya, siswa dapat menyiapkan bahan pelajaran yang akan didiskusikan
     Tingkat Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi merupka level tertinggi, yang engharapkan siswa mampu membuat penilaian dan keputusan tentang nilai suatu gagasan, metode,produk atau benda dengan menggunakan kriteria tertentu.     
2.    Kawasan Afektif
Kawasan Afektif merupakan tuuan yang berhubungna dengan perasaan, emosi, sistem nilai, dan sikap hati (attitude) yang menunjukkan penerimaan atau penolakan terhadap sesuatu. Tujuan afektif terdiri yang paling sederhana, yaitu memperhatikan suatu fenomena yang sampai kepada yang komplek yang merupakan faktor internal seseoran, seperti kepribadian  dan hati nurani. Dalam literatur tujuan afektif disebut sebagai minat, sikap hati, sikap menghargai, sistem nilai serta kecenderungan  emosi
      untuk mengetahui atau memperoleh gambaran tentang kawasan  tujuan instruksional afektif secara utuh, berikut ini akan diberikan gambarab setiap tingkat secara berurutan
     Tingkat Menerima (Receiving)
    Menerima diartikan sebagi proses pembentukan sikap dan perilaku dengan car membangkirtkan kesadaran tentang adanya stimulus tertentu yang mengandung estetika . contoh: kesediaan para siswa untuk menerima peraturan dan tata tertib belajar selama kegiatan belajar berlangsung
     Tingkat Tanggapan ( Responding)
    Tanggapan dapat diartikan sebagi perilaku baru dari sasaran didik atau siswa sebagai manifestsi dari pendapanya yang timbil adana perangsang pada saat ia belajar
     Tingkat Menilai
    Menilai ialah pengakuan secara objektif atau jujur vbahwa siswa itu objek, atau benda tertentu mempunyai kadar manfaat. Dan dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menerima suatu objek atau kenyataan  setelah seseorang itu sadar bahwa objek tersebut mempunyai nilai dengan cara menyatakan dalam bentuk sikap atau perilaku positif atau negatif   
     Tingkat Organisasi (Organization)
    Organisasi dapat diartikan sebagai prosese konseptualisasi nilai-nilai dan menyusun hubungan antara nilai-nilai tersebut kemudian memilih nilai-nilai yang terbaik untuk diterapkan.  
     Tingkat Karakterisasi (Characterization)
    Karakterisasi ialah sikap dan perbuatan yang secara konsisten dilakukan oleh seseorang selaras dengan nilai-nilai yang dapat diterimanya, sehingga sikap dan perbuatan itu seolah-olah telah menjadi ciri-ciri perlakunya

3.    Kawasan Psikomotor
Kawasan Psikomotor adalah ksawasan yang berorientasi kepada keterampilan motorik yang berhubungan dengan anggota tubuh atau tindakan (action) yang memerlukan koordinasi antara syaraf dan otot.
    Untuk mengetahui atau memperoleh gambaran tentang kawasan  tujuan instruksional psikomotor secara utuh, berikut ini akan diberikan gambaran setiap tingkat secara berurutan
     Gerakan Seluruh Badan  (Gross Body Microsoft Corporationovement)
    gerakan seluruh badan adaalh perilaku seseorang daalm suatu kegiatan yang memerlukan gerakan fisik scar menyeluruh    
     Gerakan Yang Trekoordinasi (Coordination Movements)
    Gerakan yang terkordinasi ialah gerkan yang dihasilkan dari perpaduan atara fungsi salah satu atau lebih indera masnusia dengan salah satu anggota tubuh. Badan     
     Komunikasi Nonverbal (Nonverbal Communication)
    Komunikasi Nonverbal ialah hal-hal yang berkenan deengan komunikasi yang menggunakan simbol-simbol atua isyarat , misalnya isyarat dengan tagan, anggukan kepala, erkspresi wajah, dan lain-lain 
     Kebolehan Dalm Berbicara (Speech Behavio)
    Kebolehan Dalam Berbicara ialah kebolehan dalam berbicara dalam hal-hal yang berhubungan dengan koordinsi gerakn tangan atau anggotabadan lainnya dengan ekspresi muka dan kemampuan berbicara.

B.    Penerapan metode-metode instruksional pada Pembelajaran Fiqih
Pembelajaran adalah interaksi pendidik dan peserta didik dalam mempelajari materi yang telah tersusun dalam suatu kurikulum. Pembelajaran mempunyai arti yang lebih luas dari pengajaran. Pengajaran mempunyai satu focus dan terpusat pada guru, guru sebagai pusat informasi dan pusat kegiatan, sedangakan dalam pembelajaran siswa dan guru sama-sama aktif. Siswa dan guru turut terlibat dalam kegiatan, bahkan beberapa pembelajaran menggunakan system student center, yaitu pembelajaran yang berpusat pada siswa, siswa aktif di dalam kelas dan menjadi subyek dalam belajar.
Pelajaran Fiqih adalah pelajaran yang berisi tentang ilmu-ilmu fiqih.. Pelajaran Fiqih diajarkan di madrasah-madrasah dan sekolah-sekolah islam mulai dari tingkat dasar (Ibtidaiyah) sampai tingkat menengah tinggi (Aliyah).
Pada sekolah-sekolah umum, materi fiqih masuk dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Namun bahasannya tidak mendetail seperti pada sekolah Islam atau madrasah. Karena seluruh materi agama seperti fiqh, aqidah, al-qur’an hadits dan sejarah menjadi satu dalam mata pelajaran agama.
Materi Fiqih Pada kelas VIII materi semester I, bab I adalah membahas tentang pengertian, sujud syukur dan sujud tilawah. Pada bab II membahas tentang pengertian dzikir dan doa, dzikir dan doa sesudah shalat, tata cara berdzikir dan beroa dan praktik dzikir dan doa
Alokasi waktu yang digunakan untuk melaksanakan pembelajaran adalah 80 menit  (2 JP) dalam satu minggu. Dan materi- materi agama sering ada korelasi anatara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lain. Seperti puasa nadzar, akan dibahas secara singkat dalam Aqidah Akhlak dalam bab rukun islam tentang pusa. Hal ini akan membantu siswa untuk mengembangkan materi jika siswa satu dengan yang lain saling tukar fikiran dan berdiskusi dalam kelompok-kelompok.

Metode instruksonal merupakan bagian dari  strategi instruksional, metode instruksional berfungsi sebagai cara untuk menyajikan, menguraikan, memberi contoh, dan memberi latihan kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu, tetapi tidak setiap metod instruksional sesuai digunakan untuk mencapai tujuan instruksional tertentu . banyak metode instruksional
Banyak metode instruksional yang dapat dipergunakan daalm menyajikan pelajaran kepada siswa-siswa , seperti metode ceramah, diskusi, tanya jawab, metode studi mendiri, latihan sesama teman, dan masih banyak lagi metode-metode instruksional.
1.    Metode ceramah
Ceramah adalah  sebuah interaksi melalui penerangan dan penuturan lisan dari guru kepada peserta didik. Dalam pelaksanaan ceramah untuk menjelaska uraiannya, guru dapat menggunaknan alat-alat bantu seperti gambar dan audio visual lainnya . metode ceramah ini berbentukpenjelasan konsep, prinsip, dan fakta. Metode ceramah dapat dilakukan oleh guru
    Untuk memberikan pengarahan, petunjuk diawal pembelajaran
    Waktu terbatas, sedangkan materi/ informasi banyak yang akan disampaikan
agar ceramah menjadi metode yang baik, perlu diperhatikan hal berikut: 1) metode ceramah digunakan jika jumlah khalayak cukup banyak (2). Metode ceramah dipakai jika guru akan memperkenalkan materi pelajara baru (3). Metode ceramah dipakai khalayaknya telah mampu menerima informasi melalui kata-kata  (4) sebaiknya ceramah diselingi oleh penjelasan melalui gambar dan alat-alat visual lainnya dan (5). Sebelum ceramah dimulai, sebaiknya guru berlatih dulu memberikan ceramah.
2.    Metode Tanya Jawab
Pendekatan dalam mengajar umumnya menempuh dua macam cara, yaitu memberikan stimulasi dan mengadakan pebgarahan aktivitas belajar. Pertanyaan adalah pembangkit motivasi yang dapat merangsang peserta didik untuk berfikir. Melalui pertanyaan peserta didik didorong untuk mencari dan menemukan jawaban yang tepat dan memuaskan.
Metode tanya jawab dapat dinilai sebagai metode yang tepat untuk, apabila pelaksanaannya ditujukkan untuk:
a.     Meninjau ulang pelajaran atau ceramah yang lalu, agar siswa memusatkan lagi perhatian pda jenis dan jumlah kemajuan yang telah dicapai sehingga mereka dapat melanjutkan pelajarannya.
b.    Menyelngi pembicaraan agar tetap mendapatkan perhatian siswa, atau dengan perkataan lain untuk mengikutsertakan mereka.
c.    Mengarahkan pengamatan dan pemikiran mereka
3.    Metode diskusi
Diskusi ialah percakapan ilmiah yang responsif berisikan pertukaran pendapat yang dijalin dengan pertanyaan-pertanyaan problematos pemunculan ide-ide ataupun pendapat dilakukan oleh beberapa orang yang tergabung dalm kelompok yang diarahkan untuk memperoleh pemacahan masalahnya dan untuk mencari kebenarannya.  Metode diskusi merupakan interaksi antara siswa dan siswa atau siswa dengan guru untuk menganalisis, memecahkan masalah, menggali atau memperdebatkan topik atau permasalahan tertentu.
Metode diskusi ini digunakan oleh guru,pelatih dan instruktur bila:
    Menyediakan bahan, topik, atau masalah yang akan didiskusikan
    Menyebarkan pokok-pokok masalah yang akan dibahas atau memberikan studi khusus pada siswa sebelum menyelenggarakan diskusi
    Menugaskan siswa untuk menjelskan, menganalisis dan meringkas
    Membimbing diskusi, tidak memberi ceramah
    Sabar terhadap kelompok yang lamban dalam mendiskusikannya
    Waspada terhadap kelompok yang tampak kebingungan atau berjalan dengan tidak menentu
    Melatih siswa dalam menghargai pendapat orang lain   
4.    Metode Studi Mandiri
Metode studi mandiri berbentuk pelaksanaan tugas membaca atau penelitian oleh siswa tanpa bimbingan atau pengajaran khusus. Metode ini dilakukan dengan cara.
    Memberikan daftar bacaan kepada siswa yang sesuai degan kebutuhannya
    Menjelaskan hasil yang diharapkan dicapai oleh siswa pada akhir kegiatan studi mandiri
    Mempersiapkan tes untuk menilai keberhsilan siswa
Metode ini tepat dilakukan manakala
    Pada tahap akhir proses belajar
    Dapat digunakan pada semua mata pelajaran
    Menunjang metode pembelajaran yang lain
    Meningkatkan kemampuan kerja siswa
    Mempersiapkan siswa untuk kenaikan tingkat
    Memberikan kesempatan siswa untuk memperdalam minatnya tanpa dicampuri siswa lain
5.    Metode latihan bersama teman
Metode latihan bersama teman memanfaatkan siswa yang telah lulus atau berhasil untuk melatih temannya dan ia bertindak sebagai pelatih, dan pembimbing seorang siswa yang lain.
Dalam melaksanakan metode ini perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut
    Pertama sekali seorang siswa memperhatikan seorang siswa yang telah mencapai tingkatlanjut dalm melaksanakan semua tugas dibawah bimbingan pelatih
    Setelah mengenal tugas tersebut, siswa dilatih dalam keterampilan melakukannya
    Setelah lulus tes, ia menjadi pelatih untuk siswa berikutnya
   
C.    Strategi memotivasi siswa belajar dengan menggunakan metode instruksinoal
1.     Pengertian motivasi belajar
        Motivasi adalah perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan tertentu. Motivasi belajar merupakan daya penggerak psikis dari dalam diri seseorang untuk dapat melakukan kegiatan belajar dan menambah keterampilan, pengalaman.
Winkel (1989;94) mengibaratkan motivasi dengan kekuatan mesin dikendaraan. Dalam motivasi belajar, siswa sendiri berperan baik sebagai mesin yang kuat atau lemah, maupun sang sopir yang menentukan tujuannya. Kata motivasi berasal dari bahsa inggris motivation yang artinya alasan atau dorongan. Secara psikologi motivcasi adalah pemberian dorongan terhadap rangsangan dari dalam maupun dari luar untuk mencapai tujuan.
    MC. Donald memberikan pengertian motivasi sebagai suatu pembaharuan enaga didalam diri pribadi seseorang yang ditangan oleh dorongan efektif dan reaksi-reaksi dalam usaha mencapai tujuan. Dari definisi tersebut dapat diambil 3 hal ang sangat penting yaitu:
    motivasi dimulai dengan perubahan tenaga dalam diri seseorang
    motivasi itu ditandai oleh dorongan efektif
    motivasi ditandai oleh reaksi-raksi mencapai tujuan
Motivasi sangat erat hubungannya dengan perilaku dan prestasi seseorang dan itu merupakan hal yang sanagt penting untuk diperhatikan dan perlu diarahkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan

2.     Teori Motivasi
Menurut seorang ahli ilmu jiwa dalam suatu motivasi ada suatu hierarki, yaitu motivasi itu mempunyai tingkatan-rtingkatan dari bawah sampai atas.
    Kebutuhan fisiologis, misanya, lapar, kebutuhan akan istirhat dan lain sebagainya
    Kebutuhan akan keamanan misanya, rasa terlindungi, bebas dari rasa takut dan cemas
    Kebutuhan akan cinta dan kasih, yakni rasa diterima dan dihargai dala suatu kelompok, keluarga, sekolah dan teman sebaya
    Kebutuhan untuk diri sebndiri yakni, mengembangkan bakat dengan usaha mencapai hasil dalam bidang sosial, pembentukan pribadi, nasution; 1986:78)
3.     Fungsi Motivasi
Dalam proses pembelajaran, motivasi mempunyai peranan penting dan berfungsi untuk:
    menimbulkan atau menggugah minat belajat
    meningkatkan semangat belajar
    meningkatkan perhatian murid agar senantiaa terikat pada kegiatan belajar
    menyediakan kondisi optimal bagi bagi proses belajar
    membantu murid agar mau dan mampu menemukan serta memilih jalan atau tingkah laku yang mendukung pencapaian tujuan belajar maupun tujuan jangka panjang 
4.     Pengaruh Motivasi Dalam Belajar
Dalam kegiatan pembelajaran, motivasi belajar tersebut ada yang intrinsik dan ekjstrinsik. Belajar dilakukan oleh setiap orang baik anak-anak, orang dewasa maupun orang tua dan berlangsung seumur hidup. Dalam lembaga pendidikan sekolah, motivasi merupkan salah satu penyebab keberhasilan anak didik dalam belajar. Dimayati (1944:228), mengatakan bahwa poses belajar mengajar siswa dapat dipengaruhi oleh:

a.     Faktor Internal
Meliputi sikap terhadap belajar, rasa percaya diri, kemampuan prestasi, dan menggali hasil balajar yang tersimpan
b.    Faktor Eksternal    
Meliputi guru, saran dan prasarana belajar, kebijakan sekolah, lingkungan sekolah dan kurikulum.
Dari penjelasan tersebut sudah sangat jelaslahbahwa motivasi merupkan penyebab keberhasilan peserta didik dalam proses belajar. Motivasi merupakan faktor batin yang berfungsi menimbulkan, mendasari, mengarahkan perbuatan belajar. Seseorang yang besar motivasiny akan giat berusaha, tampak gigih tidak mau menyerah, giat membaca buku-buku untuk meningkatkan motivasi demi mencapai tujuan dan memecahkan masalahnya. Sebaliknya sisw ayang motivasinya lemah tampak acuh tak acuh, mudah putus asa, perhatian tak tertuju pada pelajaran, suka mengganggu kelas, ramai saat diterangkan oleh gurunya, meninggalkan kelas sehingga mereka motivasinya rendah banyak mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran serta soal-sial ulangan dalam ujian.
Untuk mengetahui adanya motivasi yang ada pada siswa kita harus tahu hal-hal yang berpengaruh terhadap motivasi dalam belajar siswa. Dimyati (1994:89) merinci hal-hal yang berpengaruh terhadap motivasi, ada 6 yaitu:
    Cita-cita atau apresiasi siswa
    Kemampuan siswa
    Kondisi siswa
    Kondisi lingkungan
    Unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran
    Upaya guru dalam membelajarkan siswa
5.     Jenis Motivasi
Jenis motivasi dalam belajar dibedakan dalm dua jenis, masing-msing adalah: motivasi ekstrinsik dan motivasi intrinsik
motivasi ekstrinsik merupakan kegiatan belajar yang tumbuh dari dorongan dan kebutuhan seseorang tidak secara mutlak berhubungan dengan kegiatn belajarnya sendiri. Beberapa bentuk motivasi belajar ekstrinsik menurut winkel (1989;94) diantaranya ialah; 1)belajar demi memenuhi kewajiban; 2) belajar demi menghindari hukuman yang diancamkan 3) belajar demi memperoleh hadiah materi yang disajikan 4) belajar demi meningkatkan gengsi 5) belajar demi memperoleh pujian dari orang yang penting seperti orang tua dan guru
motivasi intrinsik merupakan kegiatan belajar dimulai dan diteruskan, berdasarkan penghayatan sesuatu kebutuhan dan dorongan yang secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar. Pada intinya motivasi intrinsik adalah dorongan untuk mencapai suatu tujuan yang dapat dilalui dengan satu-satu jalan adalah belajar, dorongan belajar itu tumbuh dari dalam diri subjek belajar. 
6.     Beberapa cara umum untuk membangkitkan motivasi
Menurut Tuti Soekanto (1993) terdapat beberapa cara umum yang bisa digunakan untuk membangkitkan motivasi, antara lain
    Menerangkan pada siswa tentang tujuan belajar serta hubunganny    dengan kehidupan siswa kelak
    Mengusahakan adanya suatu lingkungan yang kondusif untuk belajar
    Memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi secara aktif selama mengikuti program
    Memberikan kepada siswa umpan balik tentang kemajuan, yang semuanya merupakan penguatan kepada siswa
    Memberi tugas-tugas yang merupakan tantangan bagi siswa sesuai dengan kemampuannya
    Meminta siswa untuk membuat catatan tentang hasil belajarnya
7.     Upaya guru dalam memberikan motivasi belajar
 Langkah-langkah dalam memberikan motifasi belajr siswa disekolah
a.    Pendidik harus mengenal anak didiknya
    Sebagai pendidik haruslah lebih mengenal jauh tentang keberadaannya, hal ini sangat perlu dilaksanakan oleh pendidik karena untuk mengenal pribadi anak didik lebih jauh. Dengan mengenal anak didik, guru sudah memimpin kegiatn-kegiatan belajar anak didik.
b.    Pendidik harus memperbaiki hubungan dengan anak didiknya
    Dalam pendidikan dan khususnya pembeljaran, hubungan pndidik dan anak adalah hal yang sangat menentukan bagaimana sebaiknya bahan pelajaran yang disajikan, betapa sempurnanya metode yang digunakan, namun kalau hubungan antara pendidik dengan anak didik tidak harmonis maka dapat menyebabkan hal yang kurang baik. Komunikasi antara guru dengan peserta didik tidak akan dapat berjalan dengan baik bila tidak ada keterbukaaandiantara guru dan siswa.
Hubungan yang baik antara guru dengan peserta didik dapat diwujudkan dengan cara mengadakan bimbingan belajar terhadap peserta didik. Ada bebrapa bentuk bimbingan yang dapat dilakukan guru pada siswa dalam bimbingan belajar, misalnya cara belajar yang baik, cara mengerjakan soal, cara belajar kelompok, cara mengutarakan pendapat, dan lain-lain. Selain itu juga, guru juga harus bisa mengajar dengan jelas dan menarik. Ada beberapa usaha guru agar apa yang disampikan dapat menarik sehiingga siswa akan mudah menyerap apa yang disampikan dapat menarik sehingga siswa akan mudah menyerap apa yang disampikan oleh guru dengan jelas pula. Yaitu:
    Memotivasi belajar siswa
    Memberikan perhatian sepenuhnya
    Memajukankegiatan mental (berpikir)
    Menciptakan gambaran yang jelas dari apa yang akan disampikan
    Mengembangkan pengertian tentang arti, peenrapan praktis bahan-bahan yang akan disampikan 
8.     Memotivasi belajar siswa dalam belajar
Seseorang belajar tidak ditentukan oleh kekuatan-kekuatan yang datang dari dalam dirinya, atau oleh stimulus-stimulus yang datang dari lingkungan, akan tetapi merupakan interaksi timbal balik dari determinan-determinan individu dan determinan-determinan  lingkungan (bandur, 1997; 11-12). Belajar merupakan perubahan perilaku seseorang melalui latihan dan pengalaman, motivasi akan memberi hasil yang baik terhadap perbuatn yang dilakukan seseorang. Hasil belajar dapat diukur dalam bentuk perubahan pengetahuan, sikap, dan keterampilan, perubahan yang lebih baik dibandingkan sebelumnya, misalnya dari tidak bisa menjadi bias, dari tidak santun menjadi santun. Diantaranya adalah belajar:

a)    Belajar melalui model
Belajar model dapat dilakukan dengan melalui fase-fase yaitu
fase perhatian (attentional phase) merupakan model didalam belajar, belajar ini merupakan perhatian yang menarik, yang merangsang minat pada siswa untuk mempelajarinya.
    Fase retensi (retention phase),  adalah fase pengulangan, bandura (1977;26) menyebutkan sebagai belajar observasional yang berdasarkan kontinguitas diperlukan perhatian dan penampilan model yang penyajian simbolik dari penampilan didalam memori jangka panjang.  
Pelajaran yang diulang-ulang akan emnjadi lama bertahan dalm ingatan kita, maka oleh sebab itu guru diminta mengulang-ulang materi yang sukar dan sulit, agar siswa mudah mengingat.
 Fase reproduksi (reprodukstion phase) merupakan proses pembimbingan informasi dari bentuk bayangan kedalam penampilan perilaku yang sebenarnya.
Fase motivasi (motivation phase)merupakan fase terakhir dari proses belajar observasional, siswa meniru model untuk mendapatkan reinforsemen dan mendapatkan informasi yang yang akan bergunakan dalam kehidupannya kelak, didalam belajar ia berharap prestasinya bagus, nilai tinggi dan naik kelas. Guru mempunyai peran dalam membangkitkan perhatian siswa dalam belajar dan membei dorongan pada siswa bahwa materi yang mereka pelajari akan akan menjadi bahan ujian akhir.  .
b)    Belajar kebermaknaan
    Belajar bermakna merupakan cara belajar memotivasikan siswa didalam materi disampaikan mengandung makna tertentu bagi siswa.
Pengajaran yang bermakna, guru berusaha menghubungkan pengalaman-pengalaman pada masa lampau dan akan datang  
c)    Melakukan interaksi
Interaksi antara siswa dan guru adalah proses komunikasi yang dilakukan secara timbal balik dalam menyampaikan pesan (message) kepada siswa, yakni melibatkan komponen komunikator, komunikasi, pesan, dan media.
Oemar Hamalik (1990;194-195) menjelaskan tentang cara mengkomunikasiksi materi dan menimbulkan motivasi siswa;
•    mengemukakan tujuan yang hendak dicapai kepada para siswa agar mendapat perhatian mereka
•    menunjukkan hubungan-hubungan, kunci agar siswa benar-benar memahami apa yang sedang dibicarakan
•    menjelaskan pelajaran secara nyata, diusahakan menggunakan media instruksional sehingga memperjelas materi yang dibahas
•    menghindari pembicaraan dari hal-hal yang abstrak yang berada diluar jangkauan fikiran siswa
•    berusaha agar siswa mengajukan pertanyaan-pertanyaan agar terjadi komunikasi secara timbal balik
d)    Mengulangi kesimpulan materi
Guru harus mampu menyajikan informasi dengan menarik, sesuatu informasi yang disampaikan dengan teknik yang baru, dengan kemasan yang yang bagus akan menarik perhatian bagi mereka untuk belajar.
e)    Mengulamh kesimpulan materi
Setelah materi pelajaran disampaikan guru didepan kelas dan kemudian umpan balik dari siswa telah dilakukan guru untuk beberapa orang, setelah itu siswa diminta untuk mengulangi kesimpulan materi yang disampaikan dalam bentuk poin-poin
9). Nilai motivasi dalam pengajaran
a)    Motivasi menentukan tingkat berhasil atau gagalnya belajar murid
b)    Pengajaran yang bermotivasi pada hakikatnya adalah pengajaran yang
 disesuaikan dengan kebutuhan, dorongan, motif, minat yang ada pada
c)    Pengajaran yang bermotivasi menuntut kreatifitas dan imajinasi guru untuk berusaha secara sungguh-sungguh mencari car-cara yang relevan dan sesuai guna membangkitkan dan memelihara motivasi belajar siswa
d)     Berhasil atau gagalnya dalam membangkitkan dan menggunakan motivasi dalam pengajaran erat kaitannya dengan pengaturan disiplin kelas
e)    Asas motivasi menjadi salah satu bagian yang integral dari pada asas mengajar. 
BAB III
METODE PENELITIAN
A.    Setting Penelitian
Penelitian ini peneliti lakukan di MTs Negeri Turen, tempat peneliti melakukan Praktek Kegiatan Lakukan Integratif (PKLI). MTs Negeri Turen adalah sebuah MTs Negeri yang ada di Turen, bertempat di Jl. Kenongosari No 16 Tlp (0341) 824925  Turen Malang.
Berikut akan dipaparkan tentang sejarah, visi misi madrasah serta keadaan riil madarasah.
a.  Sejarah Berdirinya Madrasah Tsanawiyah Negeri Turen
    Berdirinya Madrasah Tsanawiyah Negeri Turen, diawali dengan didirikannya Sekolah Menengah Islam Turen yang di buka pada tahun 1948 bertempat di Desa Sedayu  dan sekarang menjadi tempat untuk Sekolah Dasar. Pendirinya adalah Bapak Sulaiman dari Sepanjang Gondanglegi.
    Karena Beliau pada waktu itu menjadi Guru di Sekolah Menengah Pertama Negeri II Malang, , untuk selanjutnya pada tahun 1950  digantikan oleh Bapak Abdul Ghony Djamhuri yang pada saat itu masih menjadi santri di Pondok Modern Gontor. Pada tahun 1950 itu juga tempat belajar SMI dipindahkan ke rumah Ibu Abdul Ghony Djamhuri di jalan Kantor yang sekarang Jalan Ahmad Yani tepatnya di depan toko bangunan Nopoto sekarang.
    Tahun 1952 Bapak Abdul Ghony Djamhuri diangkat menjadi Guru Agama di Departemen Agama dan kepemimpinan SMI diserahkan kepada Bapak Abdul Fatah (almarhum) dari Wajak yang pada saat itu juga masih menjadi santri di Pondok Modern Gontor .  Pada masa ini adalah merupakan masa transisi dimana  terjadi perubahan dari Sekolah Menengah Islam menjadi Pendidikan Guru Agama Pertama (PGAP). Perubahan ini atas tawaran dari Bapak Pengawas Pendidikan Agama Malang – Besuki. Atas persetujuan semua siswa, maka perubahan itu dapat berjalan mulus.
    Pada tahun 1960 Bapak Abdul Fatah ada rencana pindah ke Bogor untuk membuka pondok pesantren bersama teman-temanya dari Pondok Modern Gontor, maka Kepala PGAP diserahkan kembali ke Bapak Abdul Ghony Djamhuri
    Pada tahun 1967 Pak Darna di mutasi dari Nusa Tenggara Barat  ke Kabupaten Malang dan oleh Kepala Depatemen Agama Kabupaten Malang ditugaskan ke PGAP Turen, maka langsung Kepala Sekolah PGAP Turen diserahkan kepada Pak Darna.
    Pada tahun 1970 terjadi perubahan lamanya belajar di PGAP dari 4 tahun menjadi 6 tahun. Dengan sebutan dari PGAP menjadi PGAL (Pendidikan Guru Agama Lengkap), dan pada saat itu juga tempat belajarnya dari Jalan Kantor dipindahkan ke Jalan Panglima Sudirman No 64 Turen (sekarang di tempati MA YPI dan SLP Brawijaya).
    Pada tahun 1976 Pak Darna selaku Kepala PGAL diangkat untuk menjadi Penilik Pendidikan Agama, maka Jabatan Kepala sekolah digantikan oleh H. Ma’shoem Zein sampai tahun 1976.
    Pada tahun 1976 Bapak Imam Supardi sebagai Guru Agama Sekolah Dasar di mutasi ke PGAL. Maka pada tahun itu juga jabatan Kepala Madrasah diserahkan kepada Bapak Imam Supardi. Pada tahun 1978 terjadi masa transisi yaitu dengan diterbitkannya Surat Keputusan Bersama 3 Menteri ( Menteri Agama, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dan Menteri Dalam Negeri) No SK: 16 tahun 1978 berlaku tanggal 16 Maret 1978, bahwa PGA Swasta di seluruh Indonesia yang kelas I, II dan III dijadikan Madrasah Tsanawiyah Swasta, sedangkan yang kelas IV, V, dan VI dijadikan menjadi Madrasah aliyah Swasta.
    Pada tahun 1978, Madrasah Tsanawiyah Negeri seluruh Indonesia diberi kesempatan untuk membuka Kelas jauh (Kelas Filial). Apabila Kelas Filial itu baik dan mempunyai tanah untuk di bangun gedung, akan dinegerikan. Kesempatan ini oleh Bapak Imam Supardi tidak disia-siakan, sehingga MTs Swasta Turen didaftarkan ke MTsN Jalan Bandung untuh dijadikan Kelas Jauh (Kelas Filial).
    Setelah SK Filial turun dari Dirjen Bimbaga Islam Nomor : Kep/E/192/1982 tanggal 26 Juni 1982, Kepala Madrasah dituntut untuk segera mencari tanah guna membangun gedung  Alhamdulillah pada tahun 1986 dapat membeli tanah yang sekarang sudah di bangun dan ditempati untuk belajar siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri Turen Setelah mendapatkan tanah dengan Akta Jual Beli tertanggal 13 Januari 1986, langsung proses penegriannya di proses lewat Kantor Departemen Agama Kabupaten Malang tanggal 29 Agustus 1989 ke Kantor  Wilayah  Departemen Agama Propinsi Jawa Timur tanggal 30 Agustus 1989. Alhamdulillah SK Penegrian turun dengan no : 137/1991 tertanggal 11 Juli 1991.

b. Visi, Misi, dan Tujuan
1. VISI : “ Beriman, bertaqwa, berbudi pekerti luhur, berpengetahuan dan berketrampilan”.

Indikator Visi :
1.1    Melaksanakan dengan sungguh-sungguh terhadap ajaran Agama Islam (menurut Al Qur’an dan Hadhist).
1.2    Dapat bergaul di tengah masyarakat dengan sikap yang baik.
1.3    Mampu menguasai IPTEK
1.4    Mampu menguasai berbagai bidang ketrampilan.

2.    MISI
2.1    Menumbuh kembangkan penghayatan dan pengamalan ajaran Islam.
2.2    Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif, sehingga setiap siswa dapat berkembang optimal sesuai dengan potensi yang dimiliki.
2.3    Menumbuh kembangkan semangat keunggulan secara intensif kepada seluruh warga madrasah.
2.4    Menerapkan manajemen partisipatif dengan melibatkan warga madrasah dalam menentukan kebijakkan.
3.    TUJUAN
Dengan memperhatikan visi dan misi di atas, tujuan madrasah sampai dengan 2005 dirumuskan sebagai berikut.
3.1    Setiap siswa setelah tamat  belajar dapat melaksanakan dengan baik dan benar ajaran Islam.
3.2    Terpenuhinya sarana pendukung kegiatan KBM (laboratorium IPA, Bahasa, dan Komputer)
3.3    Menjadi Madrasah yang di minati oleh masyarakat.
3.4    Mampu melaksanakan kurikulum berbasis kompetensi.
3.5    Rata-rata NUN mencapai 50 % - 70 % di terima di SLTA Negeri.
3.6    Terbentuknya Majelis Madrasah yang mampu menjadi mitra sekaligus pendorong bagi pengembangan madrasah

c. Identifikasi Tantangan Nyata
1.    Makin berkembangnya inovasi pendidikan dan adanya kebijakan baru dari pemerintah tentang pendidikan yang harus disikapi oleh kepala madrasah.
2.    Belum maksimalnya pemanfaatan laboratorium IPA, Bahasa, dan Komputer.
3.    Kecenderungan masyarakat memilih sekolah untuk pendidikan anaknya kepada sekolah yang sudah favorit (umum) yang memiliki inovasi tinggi.
4.    Kurikulum berbasis kompetensi dilasanakan pada tahun ajaran 2004/2005 sehingga masih perlu untuk memperjelas pelaksanaannya.
5.    Kurangnya pengetahuan dan perilaku kepemimpinan pada siswa.
6.    Daya dukung dan kepedulian masyarakat terhadap Madrasah yang masih relatif kurang.

d. Sasaran/ Tujuan Situasional
1.    Meningkatkan kinerja Kepala Madrasah untuk melakukan inovasi pendidikan .
2.    Meningkatkan kualitas pendidik untuk menyongsong pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi yang diberlakukan mulai tahun pelajaran 2004/2005.
3.    Meningkatkan kualitas pegawai untuk efisiensi dan efektivitas kerja.
4.    Meningkatkan potensi kepemimpinan siswa melalui organisasi siswa intra sekolah.
5.    Mengoptimalkan pendayagunaan laboratorium bahasa, IPA dan Komputer.

e. Identifikasi Fungsi-Fungsi Yang Diperlukan Setiap Sasaran
1.    Untuk meningkatkan kinerja Kepala Madrasah melalui seminar, rapat kerja, penataran, dan pelatihan.
2.    Untuk meningkatkan kualitas pendidik melalui pengadaan MGMP, pelatihan Sisjian, sosialisasi/penataran kurikulum berbasis kompetensi.
3.    Untuk meningkatkan kualitas pegawai melalui penataran atau pelatihan administrasi, komputerisasi dan kearsipan.
4.    Untuk meningkatkan kualitas kepemimpinan siswa melalui latihan dasar kepemimpinan dan studi banding.
5.    untuk meningkatkan pendayagunaan laboratorium bahasa, IPA dan Komputer, melalui kursus dan pelatihan.

a.    Sumber Daya Manusia
 Sumber Daya Manusia adalah semua komponen individu yang terlibat secara langsung dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program kerja MTs Negeri Turen. Komponen tersebut adalah :


a.    Siswa
KELAS    JUMLAH ROMBONGAN BELAJAR    JUMLAH
SISWA
    A    B    C    D    E   
VII    48    46    47    47    30    218
VIII    40    45    44    44    44    217
IX    48    44    46    48    45    231
JUMLAH    666

b.    Tenaga Pendidik dan Karyawan
SPESIFIKASI    PENDIDIKAN
    SLTA    D1    D2    D3    S1    S2
Kepala Madrasah                        1
Guru            2        32    2
Staf TU    4                1   
Bp                       
Petugas Perpust                    1   
Tukang Kebun    1                   
Satpan    1                   

c.    Status Kepegawaian
SPESIFIKASI    STATUS KEPEGAWAIAN
    PNS    GTT    PTT
Kepala Madrasah    1       
Guru    21    12   
Staf TU    1        3
Petugas Perpust            1
Tukang Kebun            3
Satpan            1


d. Susunan Komite MTs Negeri Turen
NO    NAMA    JABATAN    UNSUR
1    Camat Turen    Pelindung    Aparat Pemerintah
2    Kapolsek Turen    Pelindung    Aparat Pemerintah
3    Kepala KUA Turen    Pelindung    Aparat Pemerintah
4    Drs. H. Imam Supardi    Penasehat    Tokoh Agama
5    Dr.Ir. Suharianto, MM, MBA    Ketua    Dosen
6    Sholihan, BA    Sekretaris    Wali Murid
7    Eni Mustatik    Bendahara    Wali Murid
     











b.    Sarana dan Prasarana
              Keberadaan sarana dan prasarana sangat mendukung kelancaran proses belajar mengajar, kondisi riil sarana dan prasarana MTs Negeri Turen adalah sebagai berikut :
NO    RUANG    JUMLAH    KONDISI
1    Kelas    15 Lokal    Baik
2    Lap. IPA    1 Lokal    Baik
3    Lap. Bahasa    1 Lokal    Baik
4    Lab. Komputer    1 Lokal    Baik
5    Ruang Guru    1 Lokal    Baik
6    Ruang TU    1 Lokal    Baik
7    Ruang Kepala Madrasah    1 Lokal    Baik
8    Perpustakaan    1 Lokal    Baik
9    Mushola    1 Lokal    Baik
10    Kopsis    1 Lokal    Baik
11    Kamar Kecil Siswa    8 Lokal    Baik
12    Kamar Kecil Guru    2 Lokal    Baik
13    UKS    1 Lokal    Baik
14    Gudang    1 Lokal    Baik

c.    Proses Belajar Mengajar
d.    Kurikulum dan Metode Pembelajaran
i.    Pada kelas VII menggunakan Kurikulum 2006
ii.    Pada kelas VIII dan IX menggunakan Kurikulum 2004
iii.    Metode pembelajaran menggunakan PAKEM ( Pembelajaran Aktif Kreatif dan Menyenangkan)

e.    Pembagian Jam Pelajaran Tp. 2006 – 2007    
JAM KE    WAKTU
I    06.30 - 07.15
II    07.15 - 07.55
III    07.55 - 08.35
IV    08.35 - 09.15
ISTIRAHAT
V    09.35 - 10.15
VI    10.15 - 10.55
VII    10.55 - 11.35
ISTIRAHAT
VIII    11.50 - 12.30
IX    12.30 - 13.10

f.    Kegiatan Belajar Tambahan Terprogram ( KBTT )
Program ini adalah penambahan jam pelajaran intrakurikuler yang dipersiapkan bagi siswa menghadapi Ujian Nasional bagi kelas IX dan persiapan Ujian  Semester bagi kelas VIII.
g.    Remidi, program ini dikhususkan bagi siswa yang belum tuntas dalam mata pelajaran di madrasah.
h.    Ekstrakurikuler disediakan untuk siswa sebagai sarana mengembangkan minat dan bakat diluar materi madrasah, sampai saat ini ekstra yang ada adalah sebagai berikut :
NO    Nama    Pembina
1    Qiro'ah    Ust. Suryadi
2    Musik Islam Konteporer    Imam Sya'roni/Khusnul Khotimah
3    Pramuka    Kak Sholihan / kak Titik
4    Palang Merah Remaja    Eko Sulis
5    Bola Volly    Drs. Ahmad Satya D
6    Sepak Bola    Warsito/Drs. Sugeng Utomo
7    Bina Vokalia    Bambang
8    Bela Diri    Saimin

    Keadaan kelas yang menjadi obyek penelitian adalah kelas VIII C, dengan jumlah siswa 42 siswa terdiri dari siswa dan siswi. Keadaan kelas sangat beragam, mulai dari jenis kelamin, kemampuan siswa, dan sifat anak. Sebagian sangat rajin, sebagian yang lain lebih bersikap acuh di pelajaran. dan sebagian nampak bersemangat mengikuti pelajaran terutama dengan pelajaran Fiqih yaitu pelajaran yang saya pegang sebagai praktikan.
    Kondisi kelas yang demikian mendorong peneliti untuk memilih kelas VIII C sebagai tempat penelitian. Keunikan dan keberagaman ini akan dikemes dalam sebuah pembelajaran yang menyenangkan, komunikatif, belajar melalui model, kebermaknaan, penyajian yang menarik, mengulangi kesimmpulan dan menggunakan berbagai metode-metode instruksional dengan demikian siswa-siswa tidak cepat merasa jenuh dan bosan karena adanya variasi metode-metode pembelajaran. Mereka belajar dengan cara memperhatikan, pengulangan,adanya bimbingan, motivasi dari guru.dan yang pastinya penyajian materi yang menarik. Penilaian diambil secara individual dan kelompok.

B. Rencana Tindakan
    1. Perencanaan Tindakan
    Awal memasuki kelas VIII C, suasana kelas sempat tidak terkondisi,  sebagian murid belum terlihat siap mengikuti pelajaran, sehingga peneliti langsung membuat bagaiman cara metode-metode agar siswa dapat dikondisikan dan memperhatikan materi yang disampikan. Dan hal ini efektif karena siswa sangat antusias belajar karena dengan hal inilah siswa bisa mengembangkan kreatifitas mereka. Keaktifan merupakan salah satu penilaian yang ada dalam metode-metode instruksional sehingga dengan hal ini siswa mempunyai semngat belajar dalam mengikuti pelajaran.
    Pengalaman itulah yanga akhirnya memunculkan ide untuk menggunakan model pembelajaran dengan menggunakan metode-metod instruksional.  Sebuah pembelajarn dengan menggunakan berbagai metode-metode inilah sehingga . siswa terdorong mengikuti peljaran dengan sungguh-sungguh

Landasan Pemilihan Tema strategi memotivasi belajar siswa dengan menggunakan metode-metode instruksional adalah:
1.    Konsep pendidikan dalam arti luas dan lintas cultural memandang manusia sebagai bagian dari masyarakat social yang secara akumulatif mempengaruhi pendidikan. Dari sini dapat difahami bahwa suatu komunitas social sangat berpengaruh dalam proses pembelajaran.
2.    Pendidikan fiqih selama ini masih sangat bersifat inklusif, yaitu masih bersifat individual dan sering terjadi gap antara siswa yang pandai dengan yang di bawah pandai.
3.    Usaha untuk menerapkan metode-metode instruksional dalam pembelajaran fiqih, karena selama ini metode-metode instruksional dianggap mudah akan tetapi belum tentu semua guru dapat menerapkan dengan baik, dikarenakan adanya rasa kaku dan tidak luwes.
4.    Peneliti mendapatkan tugas praktek mengajar Fiqih, yaitu di kelas VIII Cdan VIII D, hal ini mendorong peneliti untuk mencari model pembelajaran yang sesuai dengan kondisi  dan harapan. Yaitu pembelajaran dengan menggunakan metode instruksional
5.    Pembelajaran cooperative sangat membantu siswa untuk meningkatkan semangat siswa dalam belajar.
6.    Fiqih adalah materi yang secara substansial sangat penting, karena Fiqih adalah pedoman hidup umat yakni berhubungan dengan aktifitas sehari-hari dan berkaitan dengan hukum-hukum pelaksanaan sehari-hari, misalnya hokum shalat, puasa, dan masih banyak lagi. maka ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Fiqih harus dikembangkan dan dikemas dengan baik dan menarik. Karena ilmu ini sangat penting sekali dalam penerapan hukum-hukum didalam islam. 
7.    Pembelajaran Fiqih dengan metode-merode instruksional akan mendorong siswa untuk belajar Fiqih baik  secara berkelompok maupun secara individu, dengan demikian siswa yang tidak menyukai pelajarana ini akan terdorong oleh temannya untuk mempelajarinya.
Persiapan Pelaksanaan
Sebelum melakukan tindakan penelitian, peneliti mempersiapkan beberapa hal, diantaranya:
1.    Mempersiapkan bentuk-bentuk variasi dari model pembealjaran metode-metode instruksional, diantaranya adalah:ceraamh penampilan, diskusi, studi mandiri, Tanya jawab, latihan bersam teman,  dll
2.    Mempersiapkan media pembelajaran yang dapat membantu siswa dalam belajar, yaitu berupa hand out
3.    Mempersiapkan pengaturan kelompok
4.    Mempesiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.
5.    Mempersiapkan materi dalm bentuk peta konsep 

2. Implementasi Tindakan
    Implementasi tindakan adalah serangakain tindakan yang harus dilakukan oleh peneliti selama pembelajaran. Meliputi penerapan metode, pengorganisasian kelas hingga penggunaan sumber belajar agar dapat mengoptimalkan pembelajaran.
    Metode studi mandiri adalah metode yang kurang tepat digunakan karena pelaksanaan tugas membaca tanpa bimbingan atau pengajaran khusus. dan mengingat metode studi mandiri kurang efektif karena anak usia MTs kelas dua masih kurang tepat digunakan selain itu kendala yang dihadapi belum tentu semua siswa mempunyai buku..
    Awal pelaksanaan siswa dengan menerapkan Tanya jawab yaitu siap yang bisa jawab langsung menjawabnya, karena  dengan hal inilah siswa lebih bersemangat dalam pembelajaran. Siswa sangat antusias dalam berlomba dengan Tanya jawabsehingga antatra siswa yang satu dengan yang lain saling berebut, ketika ada kesempatan review materi, semua siswa belomba-lomba menghafal materi yang pernah diberikan, karena penilaian dilakukan secara individu.
    Pada tahap kedua pembelajaran, guru menerangkan materi secara global kemudian menggunakan metode Tanya jawab dan latihan bersam teman, yaitu siswa secar individu dan berpasangan dengan teman sebangkunya kemudian diadakan evaluasi secara individu.
    Pada tahap ketiga, guru melakukan pembelajaran secara menyeluruh, karena sebelum pembelajaran dimulai, adanya apersepsi yakni Tanya jawab materi yang pernah dijelaskan , sehingga tanggung jawab mereka besar karena dengan hal ini menumbuhkan semangat belajar yang sungguh-sungguh. Pembelajaran juga menggunakan kuis secara individu, latihan bersama teman dan diskusi.
    Pada tahap ke empat menggunakan metode latihan bersama teman, siswa berkelompok satu bangku, hal ini dilakukan karena adanya praktik dzikir dan doa. Hafalan. Kemudian bagi yang sudah hafal diperbolehkan untuk maju kedepan

3. Observasi Dan Interpretasi
Metode Observasi adalah suatu cara untuk mengadakan pengamatan secara langsung dan sistematis, serta mengamati suatu aktivitas atau kejadian tanpa adanya upaya untuk memanipulasi ataupun mengganggu kegiatan yang sedang berlangsung. Teknik observasi akan memberikan manfaat yang banyak, sebagaimana yang dikemukakan oleh Guba dan Lincoln (1981: 191-193) yang dikutip oleh Moleong (1990: 125-126)
b.    Teknik pengamatan didasarkan atas pengalaman secara langsung sebab pengalaman langsung merupakan alat yang ampuh untuk menguji suatu kebenaran
c.    Observasi juga memungkinkan melihat dan mengamati sendiri, kemudian mencatat perilaku dan kejadian sebagaimana yang terjadi pada keadaan sebenarnya
d.    Observasi memungkinkan peneliti mencatat peristiwa dalam situasi yang berkaitan dengan pengetahuan yang proposional maupun yang secara langsung diperoleh
e.    Teknik observasi memungkinkan peneliti mampu memahami situasi-situasi yang rumit dan komplek.
Kartini Kartono berpendapat bahwa observasi adalah sebuah studi sistematis yang disengaja tentang fenomena social dan gejala psikis dengan pengamatan (Kartono Kartini: 1992)
Sedangkan menurut Sutrisno Hadi berpendapat bahwa observasi sebagai media ilmiah dapat diartikan sebagai pengamatan dan pencacatan dengan sengaja dan sistematis tentang fenomena-fenomena yang diselidiki (Sutrisno Hadi: 1989) 
Pembelajaran yang dilakukan dengan metode instrsional lebih membuat siswa termotivasi untuk belajar, selain mereka berkompetisi secara individu, siswa juga berkesempaatan untuk berkompetisi dalam kelompok.
Pada awal pertemuan, siswa terlihat sangat antusias, hal ini akan lebih mengakrabkan siswa dengan guru, siswa dengan siswa dan dinilai lebih efektif membawa siswa untuk belajar. Selain itu membawa suasana lebih familiar.
Dasar bahwa belajar haruslah menyenangkan yang selama ini peneliti pegang juga turut mewarnai model pembelajaran dan teknis yang dilakukan. Selain mengelompokkan siswa guru juga berusaha membuat belajar lebih menyenangkan, seperti membuat rangkuman, peta konsep tugas individu dan tugas kelompok.
Pelaksanaan metode instruksional dalam pembelajaran Fiqih membuat siswa lebih bersemangat, merasa lebih mudah, karena selain tanggung jawab indvidu juga menjadi tanggung jawab bersama sehingga antara siswa satu dengan yang lain saling membantu dan melengkapi. Hal tersebut tumbuh pada masing-masing siswa dikarenakan selain ada tugas individu juga tugas kelompok.

2.    Analisis dan refleksi
Proses ini dalam ilmu manajemen dikenal dengan istilah evaluasi yang merupakan sebuah penilaian terhadap suatu kegiatan berhasil atau tidak berhasil (Piet A. Suhertian: 1987)
Analisis dalam kaitannya penelitian ini adalah merupakan sebuah proses terakhir dalam melakukan sebuah perencanaan tindakan yang berkaitan dengan penelitian tindakan kelas yang dilakaukan oleh peneliti. 
Dalam pembelajaran yang dilakukan dengan model kooperatif ternyata mampu mempengaruhi belajar siswa, karena suatu lingkungan seringkali mempengaruhi keadaan belajar dan proses pembelajaran. Lingkungan sangat dominan dalam membentuk karakter dan menumbuhkan motivasi seseorang.
Lingkungan yang kondusif dalam pembelajaran adalah lingkungan yang menuntut siswa untuk belajar lebih aktif, adanya stimulus berupa penghargaan kelompok, rasa kepemilikan terhadap kelompok dan perlunya akan pengakuan individu sangat berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa.
Selama ini pembelajaran Fiqih dilakukan dapat ddikatakan lumayan berhasil. Hal ini bisa dibuktikan bahwa  siswa dapat memahami materi yang telah dijelaskan. Maka dari itu sebagai guru bertugas bagaimana untuk meningkatkan motivasi siswa tersebut dalm belajar dan mengembangkan metode-metode instruksional.. sehingga untuk bisa memahami Fiqih lebih mudah dimengerti. Selain pelajaran mudah diterima siswa juga tidak cepat meras bosan dan jenuh
Metode, model dan suatu pendekatan yang sesuai sangat menunjang keberhasilan pembelajaran. Motode pembelajaran instruksional dengan pendekatan ceramah, Tanya jawab, latihan bersama teman, diskusi dan studi mandiri diharapkan mampu menjadi solusi untuk berbagai masalah pembelajaran atau proses belajar mengajar, namun suatu keberhasilan tidak bisa dicapai dengan satu dua kali percobaan, membutuhkan waktu yang cukup untuk membuktikannya. Selama ini pembelajaran Fiqih yang paling efektif adalah dengan metode praktik.
Penerapan metode dalam pembelajar fiqih  merupakan usaha yang kemunngkinan akan terus diterapkan dalam pembelajaran fiqih selanjutnya.   
 
C. Siklus Penelitian
Siklus penelitian yang akan dilakukan adalah 5 kali tatap muka, 6 pokok bahasan dan dua kompetensi dasar. Jika dalam satu tatap muka adalah 2 JP dan tiap 1 JP adalah 40 menit maka waktu yang diperlukan adalah 40 x 10 pertemuan = 400 menit.
Materi yang akan dibahas adalah tentang pengertian sujud syukur, sujud tilawah. Dan sujud sahwi. Pengertian dzikir dan doa.Sumber belajar dan media yang digunakan adalah buku ajar, LKS fiqih semester ganjil kelas 2, dan media hand out. Siswa juga mendapatkan tugas individu yaitu tentng dalil dzikir dan doa serta hafalan dzikir dan doa.

D. Pembuatan Instrumen
Dalam penelitian ini instrument yang diperlukan adalah lembar observasi, skala sikap, dan skala penilaian.

E. Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa teknik pengumpulan data, anatara lain:
1. metode observasi
Metode observasi dapat diartikan sebagai pencatatan sistematik fenomena-fenomena yang diselidiki.  Adapun jenis observasi yang digunakan adalah sebagai berikut:
•    Pengamaatan partisipatif
Adalah suatu cara pengambilan data dalam suatu penelitian dimana peneliti terlibat secara langsung dan bersifat aktif. Cara ini digunakan agar data yang diinginkan sesuai dengan apa yang dimaksud oleh peneliti. Pengamatan partisipatif maksudnya peneliti turut berpartisipasi secara langsung dan bersifat aktif dalam kegiatan yang diteliti dan menjadi pengarah acara agar sebuah peristiwa terarah sesuai dengan scenario peneliti agar kedalaman dan keutuhan data bisa tercapai.
•    Observasi aktivitas kelas
Observasi aktifitas kelas dilaksanakan ketika peneliti mengajar di kelas. Hal ini merupakana pengamatan secara langsung terhadap siswa dengan memperhatikan tingkah lakunya dalam pembelajaran kelompok, sehingga peneliti memperoleh gambaran suasana kelas secara langsung.
2. Pengukuran tes hasil belajar
Data yang diperoleh dilapangan akan diukur oleh peneliti dengan membandingkan hasil evaluasi pre test dan pos test.
3. Interview
Adalah proses Tanya jawab dengan dua orang atau lebih, berhadapan secar fisik. 
Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data melalui percakapan langsung diakhir pembelajaran yang dilakukan  oleh peneliti dengan siswa-siswi untuk mencari data mengenai bagaimana menurut siswa tentang penerapan metode latihan bersama teman, diskusi.
3.     Dokumentasi
Adalah teknik pengumpulan data dengan jalan memanfaatkan dokumen (bahan tertulis, gambar-gambar penting atau film yang mendukung obyektifitas penelitian)

B.    Indikator Kinerja
Tolok ukur keberhasilan dalam implementasi metode instruksional adalah:
1.    Siswa dapat belajar secara memusatkan perhatian
2.    siswa dapat mengembangkan tiga kelompok/ kawasan yakni kawasan kognitif, afektif, psikomotor
3.    Siswa dapat bekerjasama dan saling menghargai dalam kelompok
4.    Siswa termotivasi untuk belajar lebih giat
5.    Peningkatan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran .
6.    Siswa tidak merasa jenuh dan bosan terhadap materi pelajan





BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.    Hasil Penelitian
1. Siklus Pertama
a. perencanaan
Siklus penelitian yang direncanakan adalah dilakukan selama 5 kali tatap muka. Pada awal pelaksanaan guru menyampaikan materi dan siswa membaca ulang materi pengertian dzikir dan doa. Adanya Tanya jawab dan pertanyaan diberikan kepada siswa dan guru tinggal menjelaskan bagian penting yang belum difahami siswa.bangku. metode yang digunakan Tanya jawab siswa merasa antusias dengan pewrtanyaan-pertanyaan yang diberikan.
b. pelaksanaan
    Pada siklus pertama ini pembelajaran berlangsung dengan cukup baik, hanya saja keadaan sempat ramai, dan siswa bagian belakang tidak sepenuhnya memperhatikan.
c. pengamatan
    Siswa belajar sangat antusias, masing-masing siswa ingin menjawab soal karena siswa termotivasi adanya penilaian keaktifan. meskipun penghargaan yang diberikan tidak berupa hadiah
d. refleksi
    Pada siklus yang pertama ini guru masih menggunakan  metode Tanya jawab, pembelajaran dengan menggunakan metode-metode instruksional ini siswa lebi aktif dan bersemangat dalam proses belajar mengajar
2. Silkus Kedua
a. perencanaan
Pada penelitian ke dua, siswa dibuat metode latihan bersama teman, Tanya jawab dan ceramah. Guru melafalkan dzikir dan doa setelah shalat dan sisw amenirukan meskipun siswa ramai akan tetapi siswa bersemangat untuk menirukan. Adanya Tanya jawab materi yang belum difahami dan guru menjelaskan. Guru memberikan info rmasi untuk melafalkan dzikir dan doa (hafalan), meskipun suasana bertambah ramai akan tetapi siswa bersemangat untuk menghafalkan.
b. pelaksanaan
    Pada siklus kedua ini guru lebih sulit mengontrol kerja dan belajar siswa, karena kelasnya adalah kelas besar, sehingga pengontrolan sulit dilakukan apalagi keadaan kelas sangat heterogen, ada siswa yang rajin tapi ada juga yang terlihat malas dan suka mengganggu dan membat gaduh suasana kelas meskipun gaduh pembelajaran dapat berjalan dengan lancar.
c. pengamatan
    Siswa lebih bebas berkreasi karena mereka mendapat kebebasan untuk latihan bersama temannya sehingga membuat suasana kelihatan sangat akrab, baik  teman sebangkunya sendiri maupun lain bangku. Namun siswa yang lain ada juga yang tidak menghafalkan karena merasa bebas dan tidak ditunjuk sesuai urutan absen.
d. refleksi
    Hendaknya guru memberikan cara-cara menghafal agar hafalan cepat untuk dihafalkan, sehingga kegiatan siswa bisa berjalan dengan teratur dan terarah.selain itu pemahaman dan praktik lebih dimengerti dan praktis

2. Silkus Ketiga
a. perencanaan
Pada penelitian ke tiga guru mengadakan  kuis materi tentang dzikir dan doa dan banyak siswa yang antusias terhadap Tanya jawab dan kuis yang diberikan. Hal ini juga mampu meningkatkan pemahaman siswa karena selain dari hasil belajar yang mereka lakukan, siswa juga mendengar dari pertanyaan, jawaban temannya dan diperkuat lagi dari penjelasan guru dan menindak lanjuti untuk hafalan dzikir dan doa
b. pelaksanaan
    Siswa belajar sesuai dengan instruksi, karena bagi siswa yang sudah menghafalkan diberi tugas untuk mengrjakan tugas individu sehingga suasna dapat dikondisikan. Dengan adanya tugas individu inilah mereka termotivasi dalam pembelajaran.
c. pengamatan
    Adanya beberapa anak saja yang aktif ini perlu mendapat perhatian khusus, guru dituntut mampu mengaktifkan kelas dan seluruh siswa harus terlibat aktif dalam pembelajaran.dan yang penting sebagai guru haru pandai-pandai memotivasi anak untu belajar selain itu juga dapat diberikan teladan yang baik
d. refleksi
Pelaksanaan pembelajaran di atas akan dilanjutkan dengan metode baru yang membuat siswa merasa bahwa hafalannya tetap dinilai yaitu dilakukan diluar jam pelajaran. Dengan adanya jam diluar pelajaran inilah khususnya untuk hafalan mereka merasa benar-benar diperhatiakan. Dengan hal inilah siswa termotivasi untuk belajar sungguh-sungguh 

2. Silkus Keempat
a. perencanaan
Pada pertemuan ke empat guru melakukan ulangan harian, yakni penilaian berupa tes tulis yang berupa uraian.pada waktu ulangan diharapkan siswa mengerjakan secara individu, Karen soal antara kanan dan kiri berbeda sehingga minim sekali jika siswa untuk saling memberi contoh. Dan sebelumsiswa mengerjakan ulangan siswa diberikan keempatan unuk belajae sekitar 20 menit setelah selesai buku yang berkaitan dengan fiqih dikumpulkan.  .
b. pelaksanaan
    pada waktu ulangan atau harapan yang diinginkan tercapai yaitu siswa mengerjakan sendiri-sendiri meskipun ada dua tiga anak yang ramai akan tetapi hal itu apt dikondisikan. Jawaban dikumpulkan sebelum 5 menit pelajaran berakhir
c. pengamatan
Adanya beberapa anak saja yang ramai ini perlu mendapat perhatian khusus, guru dituntut mampu mengaktifkan kelas dan seluruh siswa harus terlibat aktif dalam mengrjakan ulangan dengan cara dikerjakan secar sendiri-sendiri.dan yang penting sebagai guru haru pandai-pandai memotivasi anak untu belajar selain itu juga dapat diberikan teladan yang baik yaitu bagaimana hasil yang akan diperoleh siswa jika hasilnya selalu mencontoh
d. refleksi
Pelaksanaan ulangan sebagai akhir dari pembahasan materi dzikir dan doa. Guru memberikan informasi bahwa bagi yang mendapatkan nilai 50 kebawah mengikuti remidi, akan dilanjutkan pembahasan tentang puasa nadzar. Sebelum pembahasan materi yang akan datang setidaknya guru membahas hasil ulanganyang telah dikeluarkan sehingga anak mudah memahami dan mengerti dari hasil ujian yang telah diujuikan.
2. Silkus Kelima
a. perencanaan
Pada pertemuan ke lima siswa dibentuk kelompok 4 orang untuk mendiskusikan materi yang sedang dipelajari. Pada pertemuan kelima ini siswa membahas atau mendiskusikan  tentang puasa nadzar. Siswa saling bertukar fikiran kemudian masing-masing kelompok menyimpulkan hasil diskusi dan mempresentasikan di hadapan kelompok yang lain.  
 b. pelaksanaan
    Siswa-siswi belajar sesuai dengan instruksi, mereka langsung membentuk kelompok. Kondisi kelas dapat dikondisikan dengan baik dan siswa-siswa bersemangat dalam pembentukan kelompok setiapa kelompok terdiri dari 4 siswa, pembentukan kelompok yang beranggotakan minimal ini diharapkan semua siswa aktif didalamnya sehingga semuanya berperan. Selain itu mereka termotivasi untuk mengerjakan tugas kelompok karena mempunyai tanggung jawab yang ada, meskipun ada yang ramai dikarenakan mendiskusikan permasalahan yang ada di didalam soal diskusi


c. pengamatan
    Hampr semua siswa berperan aktif didalam diskusi hanya ada beberapa anak yang berjalan-jalan dikarenakan memang siswa tersebut memerlukan perhatian khusus. Didalam diskusi ini guru hanya berperan senabagi pengarah saja dan menjelaskan jika mungkin terdapat soal yang dianggap kurang jelas, guru dituntut mampu mengaktifkan kelas dan seluruh siswa harus terlibat aktif dalam pembelajaran.(diskusi) dan yang penting sebagai guru haru pandai-pandai memotivasi anak untu aktif didalam diskusi.
d. refleksi
Pelaksanaan diskusi di atas akan dilanjutkan dengan metode baru yaitu metode yang lebih  jelas lagi. Hasil diskusi akan dibahas pada pertemuan minggu depan. Dan setiap kelompok diharapkan ada yang mewakili untuk mempresentasikan kedepan. Dengan adanya presentasi inilah guru dapat melihat sejauh manakah kemampuan anak Diharapkan guru dapat memotivasi mereka dalm keadaan dan kondisi apapun sehingga mereka mempunyai semangat yang tinggi dalam belajar.  
B.    Pembahasan
Pembelajaran yang dilaksanakan merupakan pembelajaran yang sudah biasa dilakukan  oleh akan tetapi disini guru lebih berperan penting, disebabkan guru sangat mempunyai pengaruh yang sangat besar sekali dalam kegiatann pembelajaran. Pertma kali peneliti menerapkan di  kelas VIII C dan siswanya  adalah siswa yang aktif, sehingga untuk menerapkan metode instruksional ini guru harus mempunyai daya kreatifitas yang tinggi. Pembelajaran yang dilakukan adalah dengan metode tanya jawab, ceramah, latihan bersama teman, diskusi. dengan demikian baik guru dan siswa tidak merasa cepat jenuh dan bosan. Dari uraian diatas, maka pembelajarn dengan metode-metode instruksional telah dilaksanakan meskipun hasilnya belum bisa semaksimal mungkin. Dari pembelajaran dengan menggunakan metode-metode instruksional sangat berpengaruh sekali terhadap siswa dikarenakan siswa lebih mudah faham dan mengerti.  Dengan adanya hal itu diharapkan guru mempunyai kreatifitas tinggi karena jika guru tidak mempunyai hal itu maka pembelajaran yang dilakukan tidak dapat berhasil semaksimal mungkin.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan
Tujuan instruksional merupakan sasaran yang hendak dicapai dalam pada akhirpengajaran, serta kemampuan yang harus dimilki siswa. Sasran tersebut dapat terwujud dengan menggunakan metode-metode pembelajaran.
Metode instruksonal merupakan bagian dari  strategi instruksional, metode instruksional berfungsi sebagai cara untuk menyajikan, menguraikan, memberi contoh, dan memberi latihan kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu, tetapi tidak setiap metod instruksional sesuai digunakan untuk mencapai tujuan instruksional tertentu .
Banyak metode instruksional yang dapat dipergunakan daalm menyajikan pelajaran kepada siswa-siswa , seperti metode ceramah, diskusi, tanya jawab, metode studi mendiri, latihan sesama teman,
Dalam kegiatan pembelajaran, motivasi belajar  ada yang intrinsik dan ekstrinsik. Belajar dilakukan oleh setiap orang baik anak-anak, orang dewasa maupun orang tua dan berlangsung seumur hidup. Dalam lembaga pendidikan sekolah, motivasi merupkan salah satu penyebab keberhasilan anak didik dalam belajar dan salah satunya disini adalah pembelajaran yang dilakukan dengan menggunakan metode-metode instruksional. Dengan adanya metode-metode inilah siswa akan lebih termotivasi dalam belajar disebabkan siswa tidak mudah bosan.
Berdasarkan pemaparan di atas, maka pembelajaran dengan menggunakan metode-metode instruksional  bisa meningkatkan pemahaman siswa dalam mempelajari Fiqih

B.    Saran
Pembelajaran dengan metode-metode instruksional sangat penting selain sebagai pembelajarn yang mampu meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari, juga sebagai wahana untuk meningkatkan daya kreatifitas guru dan dapat meningklatkan motivasi siswa dalam belajar. Namun dalm pembelajaran ini juga membutuhkan beberapa penunjang seperti suasana belajar di seluruh lingkungan sekolah. Sehingga penataan halaman, ruang dan lingkungan harus nyaman dan asri, jika memungkinkan. Selain metode-metode instruksional yang telah dipaparkan diatas juga masih banyak metode-metode yang mendukung dalam kegiatan prosos belajar mengajar . guru sangat berperan dalam pembelajaran maka dari itu sebagai guru harus pandai-pandai memilih metode-metode yasng sesuai dengan materi yang akan disampaikan.

DAFTAR PUSTAKA

Muhaimin, 2005. Pengembangan Kurikulum Pendidikan agama Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Yamin, martinis,2004. Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi, Jakarta: Gaung Persada Press
Anselm,dkk.  1997. Dasar-dasar Penelitian Kualitatif (Prosedur, Tehnik dan Teori Grounded) Penyadur Junaidi Ghony. P T Bina Ilmu.

Hamalik, Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar. Bandung:  Bumi Aksara.   

Muhaimin. 2001.  Paradigma Pendidikan Islam. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.

    1996 Strategi belajar Mengajar. Surabaya: CV Citra Media

Muhammad dkk. 1996. Strategi Belajar Mengajar. Surabaya: CV Citra Media..

______. 1997. Media Pengajaran. Jakarta: P.T. Raja Grafindo Persada..

Soetomo. 1993. Dasar-dasarInteraksi Belajar Mengajar. Surabaya: Usaha Nasional.

Saputro, Supriyadi. 1993. Dasar-dasar Metodologi Pengajaran Umum.     Malang: IKIP

Kusrini, Sutiah, Marno, 2005. Keterampilan Dasar Mengajar. Malang: Fakultas Tarbiyah UIN Malng

Hamalik, Oemar. Pendidikan Guru berdasarkan pendekatan kompetensi. Jakarta: 2002.     Bumi Aksara.

0 komentar:

Post a Comment